Berita

Ilustrasi. (Foto: NU Online)

Politik

Ancaman Ekstremisme Kini Bisa Masuk Lewat Algoritma Digital

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 05:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan bahwa ancaman ekstremisme di ruang digital kini tidak lagi hanya menyebar melalui jaringan tertutup atau pertemuan langsung, tetapi masuk melalui kanal digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.
 
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar mengatakan perubahan terbesar saat ini bukan terletak pada muatan ideologi ekstremisme, melainkan pada jalur distribusinya.
 
“Ancaman narasinya yang berubah saat ini bukan muatan ideologinya, tetapi jalur distribusinya,” ujar Alexander dalam diskusi publik bertema Mewaspadai Ancaman Algoritma Ekstremisme di Ruang Digital di Universitas Hasanuddin, Makassar, dikutip Senin, 28 September 2026.
 

 
Menurut dia, narasi kekerasan kini dapat muncul melalui kanal yang sama dengan konten hiburan, termasuk yang dikonsumsi anak-anak dan generasi muda. Konten tersebut juga dapat dikemas menggunakan bahasa, format, dan estetika yang sudah akrab sehingga paparan awal sering kali sulit dikenali.
 
Alexander menjelaskan, sistem rekomendasi platform digital bekerja berdasarkan perilaku pengguna. Ketika seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, algoritma dapat terus menawarkan konten serupa.
 
“Ketika teman-teman mahasiswa, adik-adik siswa SMA, satu kali saja mengklik konten kekerasan misalnya, maka algoritma akan memberikan konten itu terus-menerus ke gadget adik-adik,” jelasnya.
 
Ia menambahkan, potensi paparan tidak hanya datang dari media sosial terbuka, tetapi juga forum penggemar, komunitas tertutup, game daring, hingga ruang percakapan digital yang sulit dipantau orang tua.
 
Perwakilan Densus 88 Antiteror Polri di Sulawesi Selatan, AKP M. Faisal, mengatakan kelompok teror saat ini banyak memanfaatkan ruang digital untuk berkomunikasi dan melakukan perekrutan.
 
“Dari sekian banyak teroris yang dilakukan penegakan hukum oleh Densus 88, 30 persen berasal atau terpapar dari media sosial,” kata Faisal.
 
Menurut dia, kelompok usia muda menjadi salah satu sasaran perekrutan, terutama mereka yang masih berada dalam fase pencarian jati diri. Densus 88, kata Faisal, telah melakukan upaya pencegahan di ruang digital terkait radikalisme, terorisme, dan ekstremisme sejak 2021.
 
Sementara itu, Kompol Deni Ratmodiharjo dari Ditintelkam Polda Sulawesi Selatan mengatakan kepolisian melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi ancaman di ruang digital, mulai dari radikalisme, terorisme, hoaks, ujaran kebencian hingga informasi provokatif yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.
 
Dosen Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Andi Ali Armundato menilai algoritma dapat bekerja sebagai bentuk soft power yang mempengaruhi pengguna tanpa disadari.
 
“Algoritma itu mengendalikan apa yang kita perhatikan,” ujarnya.
 
Lanjut Andi, proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membuat seseorang menyukai suatu konten, mempercayainya, hingga akhirnya terdorong melakukan sesuatu.
 
Diskusi publik tersebut diselenggarakan Ditjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi bekerja sama dengan Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin. Kegiatan diikuti mahasiswa, pelajar, dosen, serta sejumlah pemangku kepentingan di bidang keamanan dan ruang digital.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya