Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Opini Pakar

Semangat dan Pemikiran Rizal Ramli Terus Berlanjut

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 03:18 WIB

TEGAS, full data, cerdas, petarung yang tangguh. Ideolog yang tak jemu berperang, guru yang tak pernah berhenti. Inilah potret diri Rizal Ramli. Sejauh yang kita baca dan lihat, ia mewariskan banyak pikiran out of the box. Berikut beberapa di antaranya.

Pertama dan paling utama, tesisnya adalah keberdikarian. Di segala bidang. Itulah pondasi agar negeri ini bukan hanya merdeka, tetapi maju dan kuat di dunia. Rizal mendesain Indonesia yang ia cintai "berdikari" secara ekonomi. Dus, kekayaan SDA tidak boleh dijual mentah (anti-ekstraktif), uang negara tidak boleh bocor, anti-utang yang menjebak/haram, anti impor yang oligopolis, puncaknya rakyat kecil harus jadi prioritas.

Kedua, beyond ekonometrika. Baginya, ilmu ekonomi akan berguna jika ia bekerja melampaui batas-batas ekonomi liberal yang menyiksa. Dengan begitu akan terlihat: siapa ekonom palsu dan siapa ekonom ksatria. Karenanya, semua ekonom harusnya jadi "ekonom kerakyatan" yang keras dan cerdas membela rakyat sehingga harus "data-driven" dan kontra mainstream yang ilusi karena anti Indonesia.


Ketiga, menguatkan ekonomi lemah dan menjaga ekonomi yang sudah kuat. Rizal yakin sekali itulah pokok kerja pemerintah. Jika tidak melakukan itu, pemerintah layak diganti. Sebab, prasyarat kemajuan bangsa adalah keberhasilan negara menumpas kemiskinan dan ketimpangan plus pengangguran. 

Rizal tentu saja menolak liberalisasi sehingga negara harus hadir dan melindungi rakyat kecil, UMKM, petani, nelayan, dll. Pasar harus dikelola sehingga BUMN dan koperasi jadi benteng ekonomi nasional; agen pembangunan di sektor strategis: listrik, pelabuhan, pupuk, semen, dll. Sedangkan koperasi wajib dikuatkan biar jadi penampung hasil UMKM dan petani, untuk melawan tengkulak.

Keempat, praktik ekonomi perlindungan, pengentasan dan pemajuan jauh lebih riil dari teori-teori di atas kertas. Untuk tesis ini, Rizal sering berucap, “tidak ada kepentingan lain yang kita miliki kecuali untuk bangsa dan negara." Rizal ingin menyumbangkan semua tenaga dan pikiran ini untuk kemajuan Indonesia. Untuk Indonesia yang memberikan perlindungan bagi rakyat kecil. Di sini kedaulatan ekonomi, pangan dan energi menjadi trisula yang selalu ia proklamasikan.

Pekiknya selalu keras: setop impor pangan; fokus swasembada beras, jagung, kedelai, daging; subsidi harus langsung ke petani; segerakan hilirisasi; bank harus biayai sektor riil, bukan spekulasi; tolak utang luar negeri buat konsumsi. Utang hanya boleh untuk proyek produktif yang hasilnya bisa bayar utang. Itupun harus sangat hati-hati karena bahaya bagi generasi berikutnya.

Kelima, dari ekonom pasar ke ekonom Pancasila. Tentu saja, semua ekonom pada awalnya adalah libertarian yang pro-pasar. Hal ini karena fakultas ekonomi dan kurikulumnya dikuasai oleh narasi ekonomi pasar. Karena kejeniusan saja, Rizal balik arah: membela rakyat miskin dan melawan oligarki, praktik otoritarianisme, tradisi nepotisme dan agama neokapitalisme sebagai anak kandung para penjajah bin penjarah.

Rizal berseru agar industrialisasi dan hilirisasi SDA segera dikerjakan untuk ciptakan lapangan kerja, nilai tambah, dan devisa di dalam negeri. Hal ini harus diiringi dengan program pajak progresif di mana konglomerat dan oligarki bayar lebih besar.

Keenam, anti KKN. Baginya, sebesar apapun ekonomi kita akan habis jika KKN tidak dibasmi. Karenanya ia kampanye juga agar terjadi efisiensi belanja dengan memotong belanja birokrasi, perjalanan dinas agar dialihkan ke kesehatan, pendidikan, infrastruktur produktif serta melaksanakan transparansi APBN agar tidak bocor ke korupsi.

Tentu saja, Rizal adalah ideolog bagi demokrasi ekonomi yang sangat antikorupsi, anti monopoli, oligopoli dan kartelisasi. Semua harus tunduk pada hukum yang adil sehingga kita harus hapus izin-izin yang membuat biaya tinggi, dan beri ruang sebesar-besarnya ke usaha rakyat.

Tentu saja, beliau adalah penulis yang sangat baik dan tajam. Rizal menulis ratusan artikel dan sekitar lima belas judul buku, baik yang sendirian maupun bersama-sama dengan koleganya. 

Satu dari buku yang dahsyat itu berjudul, “Globalisasi Menghempas Indonesia". Buku ini diterbitkan Pustaka LP3ES Indonesia, tahun 2006. Isinya dengan sangat keren melukiskan negeri ini sebagai negeri emas yang dihargai sangat murah oleh para elitenya karena “mental pengkhianat” yang makin merajalela.

Elite politik yang berkuasa dan dikritik Bang Rizal itu lupa kaidah “ketika politik tidak bisa menyejahterakan dan mengadilkan, maka impian orang-orang miskin, bodoh dan amoral adalah menjadi penguasa yang serakah serta cabul sehingga tidak berkah”. Rizal telah berpulang, tapi pikiran dan semangatnya kami terus kembangkan. Di mazhab Tebet, semua karyanya dipelajari untuk disemai bagi Indonesia raya agar jaya serta menyemesta.

Yudhie Haryono
CEO Nusantara Centre


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ini Pemicu Perubahan Sikap Jokowi ke Prabowo

Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:15

Prancis Membara, Demonstran Bakar Gedung Pemerintah hingga Jarah Toko

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:57

OMC di Sumsel Turunkan Polusi Asap dari Kategori Berbahaya

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40

Kopdes Buka Peluang Kerja dan Usaha bagi Generasi Muda

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:32

Gerindra Pilih Redam Polemik Gibran

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:21

Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Double-Track Menuju Swasembada Energi

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:55

Ketum BPP HIPMI Ajak Pelaku Usaha Tetap Optimistis di Tengah Gejolak Pasar

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:23

Seorang Peserta ITB Ultra Marathon 2026 Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:47

Desa dalam Otonomi Terpasung

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:21

Operasi Badai Kasuari Sukses Rampas Kembali Persenjataan OPM

Minggu, 18 Oktober 2026 | 04:59

Selengkapnya