Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Makro

Indonesia Perlu Fiskal Berkualitas demi Genjot Pertumbuhan Ekonomi

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 01:01 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Politisi senior PKS Mulyanto, minta pemerintah dan DPR tidak perlu terburu-buru memperlebar batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Menurutnya, yang lebih mendesak dibahas sekarang adalah cara memperbaiki kualitas pengelolaan fiskal agar lebih efisien, produktif, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ia berpendapat batas defisit 3 persen sudah pas dan efektif menjadi salah satu jangkar disiplin dan kredibilitas fiskal Indonesia. Pemerintah sendiri menyatakan akan berpegang pada batas tersebut. Sementara RAPBN 2027 dirancang dengan defisit sekitar 2,4 persen terhadap PDB.


“Batas 3 persen ini sebaiknya dipertahankan. Jangan sampai kita mengambil jalan pintas dengan memperbesar ruang defisit, sementara persoalan utama kita justru ada pada kualitas penerimaan, belanja, dan efektivitas penggunaan anggaran,” ujar Mulyanto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.

Ia menilai ruang fiskal untuk mendorong pertumbuhan seharusnya terlebih dahulu diupayakan melalui efisiensi belanja, perbaikan kualitas program, pengurangan kebocoran dan duplikasi anggaran, serta peningkatan penerimaan negara. 

Setiap rupiah APBN, menurutnya, harus diarahkan pada belanja yang mempunyai daya ungkit besar terhadap produktivitas, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan kapasitas ekonomi nasional.

Karena itu, ia mengingatkan pelebaran defisit tidak menjadi cara mudah untuk menghindari pilihan prioritas yang sulit. Pemerintah tetap harus menentukan program mana yang benar-benar strategis dan produktif serta program mana yang perlu dievaluasi, ditunda, atau dikurangi.

“Disiplin anggaran justru penting untuk memaksa kita agar menyusun skala prioritas yang lebih tajam. Tidak semua keinginan harus dibiayai dengan menambah utang,” tambahnya.

Lanjut Mulyanto, mempertahankan batas defisit juga penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal di mata masyarakat dan pelaku ekonomi. Konsistensi tersebut dapat membantu memberikan kepastian mengenai arah pengelolaan keuangan negara.

Selain berdampak secara ekonomi, ia juga menilai, bahwa keberadaan pagar fiskal yang jelas juga penting bagi stabilitas politik. Setiap pemerintahan tentu mempunyai program prioritas masing-masing, tetapi semuanya harus bekerja dalam aturan fiskal yang relatif sama. 

Dengan demikian, pergantian pemerintahan tidak serta-merta diikuti perubahan batas utang dan defisit untuk menyesuaikan kebutuhan program politik jangka pendek.

“Kalau batas fiskalnya terus diubah mengikuti tekanan kebutuhan belanja pemerintah, maka fungsi aturan sebagai pagar menjadi lemah. Yang seharusnya menyesuaikan adalah program dan prioritas pemerintah terhadap kemampuan fiskal negara, bukan pagar fiskalnya yang terus diperlebar agar semua program dapat dibiayai,” tegasnya.

Mulyanto menambahkan bahwa kebijakan fiskal yang prudent tidak berarti pemerintah harus bersikap pasif terhadap pertumbuhan. Justru melalui APBN yang sehat, efisien, dan kredibel, pemerintah dapat menciptakan ruang yang lebih berkelanjutan untuk investasi produktif dan perlindungan masyarakat. 

“Pertumbuhan jangan dibangun dengan memperbesar defisit semata. Yang kita perlukan adalah fiskal yang berkualitas: penerimaannya kuat, belanjanya efisien, prioritasnya tajam, dan utangnya benar-benar menghasilkan kapasitas ekonomi baru,” tutupnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya