Berita

Seminar Great Institute soal RUU Ketenagakerjaan. (Foto: Dok. Great Institute)

Politik

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026 | 20:53 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan belum menghasilkan naskah final, termasuk terkait pengaturan upah pekerja mikro.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial (PHI) Kementerian Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri menegaskan, pemerintah dan DPR masih membahas substansi RUU tersebut.

“Belum ada file yang selesai, masih dibahas sama DPR,” kata Indah dalam seminar “Membaca Arah RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Antara Harapan dan Kenyataan Pekerja/Buruh” di Hotel Grand Orri, Citeureup, Bogor, Sabtu, 26 September 2026.


Indah mengatakan RUU tersebut merupakan inisiatif DPR. Pemerintah menerima konsep RUU pada 27 Agustus 2026 sebelum Presiden pada 1 September 2026 menugaskan tujuh kementerian untuk membahasnya bersama DPR.

Tujuh kementerian itu yakni Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Hukum, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian UMKM, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

“Bukan hanya Menaker yang membahas RUU ini bersama DPR,” tegasnya.

Dalam proses pembahasan, pemerintah telah menyampaikan sejumlah masukan dan membuat jumlah Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) bertambah dari sekitar 1.850 menjadi lebih dari 2.100.

Sejumlah materi yang masih menjadi perhatian pemerintah antara lain pengaturan upah pekerja mikro, jaminan sosial bagi pekerja mikro, pelatihan, pemagangan, dan alih daya.

Karena pembahasan belum selesai, Indah mengingatkan masyarakat tidak mudah mempercayai dokumen yang beredar dan diklaim sebagai naskah final hasil pembahasan pemerintah dan DPR.

Di sisi lain, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan menilai arah RUU tersebut perlu terus dikawal agar memberikan penguatan terhadap posisi pekerja.

Menurut Syahganda, peningkatan daya tawar pekerja dan kesejahteraan buruh berkaitan langsung dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

“Kalau kekuatan buruh itu sekitar 50 juta, akan dinaikkan upahnya, naik bargain-nya, naik kehidupannya, itu tentu kan nanti ekonomi kerakyatan akan berjalan lancar,” tuturnya.

Ia juga mendorong penguatan organisasi buruh di tingkat perusahaan agar pekerja memiliki posisi tawar lebih kuat dalam membangun Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan pemberi kerja.

Namun, Syahganda mengingatkan pembahasan RUU harus dikawal hingga tahap akhir untuk memastikan tidak muncul ketentuan yang dinilai merugikan pekerja.

“Kalau ada pasal siluman, tentu tadi kelompok buruh mengatakan mereka akan melakukan gerakan kembali,” ujarnya.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya