PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: News Cord)
Lima pemimpin partai oposisi Israel sepakat mengoordinasikan kampanye politik mereka menjelang pemilihan umum Knesset pada 27 Oktober 2026.
Pertemuan yang digelar di kediaman Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, di Tel Aviv, Sabtu, 26 September 2026, tersebut menjadi upaya bersama untuk menggantikan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan membentuk pemerintahan alternatif.
Selain Lapid, hadir Gadi Eisenkot dari Yashar, Naftali Bennett dari Beyachad, Avigdor Lieberman dari Yisrael Beiteinu, dan Yair Golan dari Partai Demokrat.
Dalam kesempatan itu
mereka menandatangani dokumen prinsip kerja sama hingga pelaksanaan pemilu dan setelahnya.
Paea pemimpin oposisi berkomitmen meningkatkan partisipasi pemilih dan menghimpun dukungan dari berbagai kelompok masyarakat demi meraih mayoritas di Knesset.
Mereka juga sepakat menjaga soliditas internal dengan tidak saling menyerang selama proses menuju pembentukan pemerintahan.
"Mulai hari ini hingga terbentuknya pemerintahan, tidak seorang pun dari kami, maupun siapa pun yang bertindak atas nama kami, akan menyerang partai mitra dalam blok ini atau pemimpinnya," demikian bunyi kesepakatan koalisi oposisi.
Untuk memperkuat koordinasi, tiga kelompok kerja bersama akan dibentuk dalam waktu 48 jam. Kelompok pertama bertugas meningkatkan partisipasi pemilih, mempersiapkan hari pemungutan suara, dan menjaga integritas pemilu.
Kelompok kedua akan menyusun garis besar pemerintahan, termasuk membentuk komisi penyelidikan resmi atas peristiwa 7 Oktober 2023, pembatasan masa jabatan perdana menteri, konstitusi baru, serta program 100 hari pertama pemerintahan.
Sementara kelompok ketiga akan mengoordinasikan aktivitas media dan upaya bersama menghadapi apa yang disebut dalam dokumen sebagai berita palsu dan kampanye fitnah.
Kesepakatan ini dicapai setelah sebelumnya muncul perbedaan di antara Eisenkot, Bennett, dan Lieberman mengenai mekanisme penentuan kandidat perdana menteri.
Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober. Hingga kini, lima partai tersebut belum menyepakati siapa yang akan menjadi kandidat tunggal untuk memimpin pemerintahan jika mereka berhasil membentuk koalisi.
Lieberman sebelumnya menyerukan agar oposisi memusatkan perhatian pada perolehan suara blok secara keseluruhan, bukan perebutan posisi di antara para kandidat.