Berita

Ilustrasi

Publika

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Bukan di Medan Tempur

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026 | 10:05 WIB

PERTARUNGAN tidak selalu berlangsung di medan tempur. Tidak selalu menggunakan senjata. Ada pertarungan lain yang berlangsung jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: di ruang pikiran manusia. 

Ruang itu kini salah satunya berada di layar yang kita pegang hampir setiap hari. Setiap menit, kita menerima begitu banyak informasi. Berita, video pendek, komentar, potongan pernyataan, hingga berbagai narasi yang muncul silih berganti. 

Namun ada sesuatu yang sering luput disadari: kita tidak selalu melihat informasi yang sama. Dua orang bisa membuka media sosial pada waktu yang sama, tetapi menemukan isi linimasa yang berbeda. 


Seseorang terus melihat informasi yang mendukung pandangannya. Orang lain justru melihat informasi yang berlawanan. Akhirnya, keduanya bisa sama-sama merasa paling memahami keadaan. 

Padahal, mereka mungkin sedang melihat dua potongan realitas yang berbeda. Ketika kita hidup dalam ruang informasi sendiri. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah echo chamber, atau ruang gema. 

Sederhananya, kita lebih sering mendengar pendapat yang mirip dengan apa yang sudah kita percaya. Informasi yang sejalan mendapatkan perhatian dan interaksi, sementara pandangan berbeda semakin jarang masuk ke percakapan kita. 

Bukan berarti setiap pengguna media sosial otomatis terjebak dalam ruang gema. Penelitian menunjukkan pola paparan informasi di platform sangat beragam, dan peran algoritma maupun pilihan pengguna sama-sama penting.  

Tetapi ketika ruang informasi menjadi semakin homogen, satu persoalan bisa muncul: perbedaan pendapat perlahan berubah menjadi perbedaan cara melihat kenyataan. Kita tidak hanya berbeda kesimpulan.

Kita bisa berbeda dalam menentukan fakta mana yang dianggap penting, siapa yang dipercaya, dan narasi mana yang dianggap benar. 

Di sinilah polarisasi menjadi lebih sulit dikelola. Ketika perbedaan informasi menjadi bahan bakar konflik! 

Bayangkan sebuah peristiwa terjadi. Kelompok pertama menerima informasi yang menggambarkannya sebagai persoalan serius. 

Kelompok kedua mendapatkan narasi yang sama sekali berbeda. Masing-masing kemudian membagikan informasi kepada lingkarannya sendiri. 

Narasi semakin kuat. Emosi ikut bergerak. Kecurigaan tumbuh. Pada kondisi seperti ini, informasi yang tidak benar atau setengah benar pun dapat semakin mudah dipercaya ketika sesuai dengan keyakinan yang sudah ada. Dan ketika perdebatan di ruang digital terus membesar, dampaknya tidak selalu berhenti di layar.

Perbedaan Informasi Dapat Memperlebar Jarak Sosial 

Inilah salah satu persoalan yang dibahas dalam kajian perang kognitif: bagaimana pertarungan narasi, perebutan perhatian, pembentukan persepsi, dan mobilisasi emosi dapat bekerja di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital. 

Mungkin ini bentuk perang yang paling sulit kita lihat. Kita bisa melihat gedung yang rusak, bisa melihat kerumunan, bisa melihat sebuah peristiwa menjadi viral. 

Tetapi jauh sebelum semua itu terjadi, mungkin sudah ada sesuatu yang berlangsung di ruang yang tidak terlihat: cara manusia membentuk persepsi. 

Karena itu, pertahanan di era digital tidak cukup hanya dengan melindungi jaringan dan perangkat. Kita juga perlu membangun ketahanan kognitif. 

Kemampuan untuk berhenti sebelum bereaksi. Memeriksa sumber. Membandingkan informasi. Mengenali bias. Dan menyadari bahwa apa yang muncul di linimasa kita bukanlah keseluruhan dunia. 

Persoalan inilah yang kemudian dibahas secara lebih luas dalam buku "Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025" karya Brigjen TNI Dr. Agus Bhakti. 

Bukan sekadar tentang perang atau demonstrasi, tetapi tentang medan pertempuran yang sering kali tidak terlihat: pertarungan narasi, perebutan perhatian, pembentukan persepsi, dan mobilisasi emosi. 

Sebab, perang abad ke-21 mungkin tidak selalu dimulai dengan suara senjata. Bisa jadi, ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah informasi yang kita percaya tanpa pernah kita periksa.

Karena di era ketika informasi bisa membentuk persepsi, menjaga pikiran tetap jernih mungkin adalah bentuk pertahanan yang paling penting. 

Sebab, sebelum sebuah perang memenangkan medan, ia terlebih dahulu berusaha memenangkan pikiran.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya