Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

SABTU, 26 SEPTEMBER 2026 | 14:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia kembali melemah pada akhir perdagangan pekan ini, setelah muncul sinyal baru mengenai kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pada penutupan perdagangan Jumat 25 September 2026, minyak mentah Brent turun 2,28 Dolar AS atau 2,1 persen menjadi 104,32 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,20 Dolar AS atau 2,3 persen menjadi 92,41 Dolar AS per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah muncul kabar bahwa negosiator AS dan Iran tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik. Salah satu poin yang menjadi perhatian pasar adalah kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia.


Iran bahkan menawarkan pembukaan kembali jalur tersebut dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah syarat, termasuk penghentian blokade angkatan laut AS, keringanan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta gencatan senjata. 

Namun, pasar belum sepenuhnya yakin kesepakatan dapat segera terwujud. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tetap tidak akan memberikan kelonggaran terkait program nuklirnya meski Washington menerima proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini membuat risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi perhatian.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan juga belum mereda. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas dan infrastruktur energi Arab Saudi turut memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan dari salah satu produsen minyak utama dunia. 

Data Kpler menunjukkan aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai 33,7 juta barel pada pekan yang dimulai 20 September, relatif sejalan dengan pekan sebelumnya. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi harga energi.

Secara mingguan, Brent masih mencatat kenaikan kurang dari 1 persen, sedangkan WTI turun sekitar 8 persen. Dengan demikian, arah harga minyak pada awal pekan depan akan sangat bergantung pada perkembangan pembicaraan AS-Iran, kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz, serta potensi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya