Berita

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, saat berbicara dalam forum Tukar Pikiran tentang Wajib Halal Oktober 2026 di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Kamis sore 24 September 2026 (Foto: RMOL/Reni Erina)

Nusantara

MUI Minta Pemerintah Gencarkan Sosialisasi Wajib Halal untuk Sektor Barang Gunaan

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026 | 12:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah beserta instansi berwenang agar memperluas dan menggencarkan sosialisasi jaminan produk halal, khususnya bagi sektor industri barang gunaan.

Langkah ini dinilai mendesak mengingat tenggat pemberlakuan Wajib Halal Oktober 2026 (WHO 2026) sudah di ambang pintu, sementara banyak pelaku usaha non-pangan yang masih minim pemahaman mengenai mekanisme sertifikasinya.

Seruan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, saat berbicara dalam forum "Tukar Pikiran tentang Wajib Halal Oktober 2026" yang dihelat di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Kamis sore 24 September 2026. 


Kiai Cholil menyoroti masih sempitnya pemahaman publik dan dunia usaha yang selama ini mengidentikkan konsep halal hanya sebatas pada produk makanan dan minuman saja.

Padahal, aturan Wajib Halal Oktober 2026 juga mencakup kategori barang gunaan yang bersentuhan langsung atau melekat pada tubuh manusia, seperti produk fesyen berbahan kulit, kosmetik, hingga obat-obatan.

"Banyak orang yang memaknai halal itu hanya sebatas pada makanan. Ketika sertifikasi sepatu, ada yang bilang 'lu mau makan sepatu?'. Karena dianggapnya halal itu hanya soal makanan," ujar Kiai Cholil.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengungkapkan bahwa pihaknya belakangan sering kedatangan tamu dari kalangan pebisnis dan importir barang gunaan, seperti industri alas kaki, yang mengaku kebingungan menghadapi teknis aturan baru tersebut.

Menurut Kiai Cholil, ia sempat ditemui oleh lebih dari 25 produsen sepatu yang merasa meraba-raba dan belum mendapat kejelasan cara melakukan sertifikasi menjelang berlakunya regulasi ini.

“Ini perlu sosialisasi yang lebih masif kepada pelaku industri dan juga kepada masyarakat sebagai konsumen," terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa titik tekan sertifikasi halal pada barang gunaan memiliki perbedaan prinsip jika dibandingkan dengan produk konsumsi.

Jika pada makanan fokus utamanya adalah aspek *halalan thoyyiban* (halal dan baik), maka pada barang gunaan seperti sepatu atau jaket, esensinya adalah melindungi konsumen Muslim dari risiko paparan bahan najis, contohnya penggunaan kulit babi atau metode penyamakan yang tidak sesuai syariat Islam.

Agar transisi kebijakan ini berjalan lancar tanpa menghambat rantai pasok maupun aktivitas ekonomi, MUI mendorong pemerintah segera memberikan kepastian regulasi serta panduan teknis yang konkret.

Ia menegaskan, yang terpenting saat ini adalah bagaimana aturan tersebut bisa tersosialisasikan dengan baik, lalu dipraktikkan secara optimal di lapangan.

“Standarnya seperti apa? Polanya seperti apa? Penggunaan istilah halal ini untuk memudahkan masyarakat, mana yang boleh dan tidak boleh," tuturnya.

Melalui masifnya sosialisasi yang bersifat inklusif, MUI optimistis seluruh pelaku industri, baik produsen domestik maupun pihak importir, dapat mematuhi standar kepatuhan halal (halal compliance) sebelum tenggat waktu resmi diberlakukan pada Oktober 2026.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya