Berita

Diskusi Publik 'Mencari Format Peraturan Ketenagakerjaan yang Melindungi dan Mendukung Daya Saing' di Auditorium CSIS, Jakarta Pusat, Kamis, 24 September 2026. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Nusantara

Paradoks Ketenagakerjaan di Indonesia: Aturan Makin Ketat, Minim Perlindungan

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026 | 18:45 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Regulasi ketenagakerjaan Indonesia dinilai relatif rigid dibandingkan negara-negara kawasan, namun perlindungan yang dihasilkan justru belum menjangkau sebagian besar pekerja.

Peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu dijawab dalam pembahasan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan.

Deni memaparkan, tingkat rigiditas regulasi ketenagakerjaan Indonesia berada di angka 4,67, yang disebut relatif tinggi dibandingkan negara lain dalam indeks yang digunakannya.


Namun, regulasi tersebut belum menghasilkan perlindungan yang efektif. Hanya 36 persen pekerja yang menikmati upah minimum, 26,6 persen yang menikmati pesangon, dan 21,2 persen yang memiliki jaminan kehilangan pekerjaan.

"Overall kita punya undang-undang ketenagakerjaan yang sangat tinggi atau rigid, tapi pelindungannya lemah," kata Deni dalam diskusi publik CSIS di Jakarta Pusat, Kamis, 24 September 2026. 

Menurut Deni, kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya informalitas. Hampir 60 persen tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal, yang memiliki tingkat perlindungan dan upah lebih rendah.

Di sisi lain, perekonomian Indonesia membutuhkan sekitar 3 juta lapangan pekerjaan baru setiap tahun. Karena itu, pembahasan aturan ketenagakerjaan tidak hanya perlu melihat pekerja yang sudah bekerja, tetapi juga pencari kerja dan pekerja informal.

Deni menilai fleksibilitas tanpa perlindungan hanya akan memindahkan risiko kepada pekerja. Sebaliknya, penambahan kewajiban tanpa mempertimbangkan kemampuan perusahaan dan kapasitas penegakan hukum dapat mengurangi pekerjaan formal.

Masalah lainnya terlihat dari struktur investasi. Menurut Deni, investasi meningkat, tetapi penciptaan lapangan kerja tidak tumbuh sebanding karena investasi semakin mengarah ke sektor yang padat modal.

Sektor manufaktur juga mengalami persoalan daya saing. Pertumbuhannya dalam 20 tahun terakhir disebut selalu berada di bawah 5 persen atau di bawah rata-rata pertumbuhan nasional.

Karena itu, Deni mendorong agar RUU Ketenagakerjaan mampu meningkatkan formalisasi pekerjaan sekaligus memperkuat perlindungan.

"Yang harus dilakukan oleh undang-undang ketenagakerjaan kita adalah menggeser dari kiri atas status quo, di mana ada pekerjaan formal yang terbatas dan perlindungan ketenagakerjaan yang rendah atau tidak efektif, menjadi pekerjaan atau undang-undang yang meningkatkan formalisasi dan perlindungan ketenagakerjaan secara bersama-sama," tandasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya