Berita

Dini Asmiatul Amanah. (Foto: Dokumnetasi Penulis)

Publika

Refleksi 60 Tahun KOHATI

Perempuan, Kepemimpinan dan Amanah Peradaban

JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026 | 01:50 WIB

ENAM puluh tahun KOHATI bukan sekedar legitimasi eksistensi dari berdirinya hingga kini, namun momentum untuk merefleksikan kembali tentang “Perempuan seperti apa yang hendak KOHATI tumbuhkan, dan nilai-nilai kepemimpinan apa yang ingin terus dihidupkan?”
 
Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan di dunia yang saat ini bergerak sangat cepat dan dinamis. Perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan sosial, ketimpangan, krisis lingkungan, resiliensi keluarga, hingga kompleksitas permasalahan kemanusiaan menghadirkan tantangan baru bagi peran perempuan dalam kepemimpinan strategis. Sehingga, dalam menjawab tantangan ini, tidak cukup bagi KOHATI untuk sekedar berbicara hanya menyoal kuantitas perempuan dalam ruang-ruang kepemimpinan. 

Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa kehadiran perempuan dalam ruang-ruang kepemimpinan memiliki kualitas memimpin dengan nilai dan amanah dalam nilai-nilai yang diperjuangkannya untuk kemaslahatan umat. Pemimpin perempuan harus mampu memikul amanah, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan menjadi cahaya bagi peradaban.
 

 
Kepemimpinan dalam Islam: Amanah untuk Peradaban

Dalam islam kepimimpinan bukan semata-mata tentang posisi, kekuasaan, dan pengakuan sosial. Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah dan pertanggungjawaban. Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW, telah mewariskan kepemimpinan yang amanah, sehingga berhasil menerangi zaman dengan cahaya pengetahuan, kemajuan, dan kemuliaan. 

Jejak kepemimpinannya tak terbantahkan oleh dunia di sepanjang zaman. Siapapun yang menginsyafi rekam jejak kepemimpinannya, akan mengakui bahwa Ia adalah teladan kepemimpinan yang relevan di setiap zaman.
 
Ada suatu hadis yang patut menjadi renungan bagi kita semua sebagai khalifatul fil ardl, yang artinya "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya" (HR al-Bukhari).
 
Pesan tersebut mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Dalam hal ini tidak ada diskursus yang memposisikan laki-laki atau perempuan sebagai pemimpin, tapi siapapun yang diamanahkan menjadi pemimpin harus memiliki integritas moral dalam kepemimpinannya. 

Dalam konteks ini, kiranya kita perlu keluar dari perdebatan yang terlalu sederhana: perempuan versus laki-laki, boleh versus tidak boleh, mampu versus tidak mampu. Perdebatan semacam itu sering kali membuat kita lupa pada substansi kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan bukan menyoal tentang siapa, tapi apa nilai yang ia bawa, kebijakan apa yang mampu ia hadirkan, dan perubahan apa yang ia akan wariskan.
 
KOHATI dan Tantangan Melahirkan Kepemimpinan Strategis

Sejak berdirinya, KOHATI memiliki nafas sebagai pembina dan pendidik tunas muda. Menjadi keniscayaan bagi Kohati untuk kembali pada tujuannya menghadirkan kepemimpinan strategis yang mampu menjadi lentera bagi peradaban. Kepemimpinan harus dibangun melalui proses panjang: pendidikan, pengalaman, keteguhan nilai, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca zaman, dan kesediaan bertanggung jawab atas keputusan. 

Proses tersebut sekaligus menegaskan pentingnya memperbaiki proses pengkaderan hingga ke akarnya, mulai dari tingkatan pengurus besar, hingga komisariat.
 
Dalam konteks ini, KOHATI perlu melakukan transformasi kaderisasi untuk membangun kepemimpinan perempuan yang berintegritas dan mampu menghadirkan perubahan. Kaderisasi yang dilakukan berorientasi pada leadership capacity dengan berlandasakan pada nilai-nilai kepemimpinan islam, seperti siddhiq, amanah, tabligh, dan fathanah dapat menjadi fondasi dalam membentuk karakter dan cara mengambil keputusan. 

Pada saat yang sama, KOHATI perlu membangun sistem mentoring lintas generasi dengan melibatkan alumni yang telah berkiprah di berbagai sektor, sekaligus menyiapkan leadership pipeline agar kader mampu mengambil peran strategis di ruang pendidikan, politik, pemerintahan, dunia usaha, masyarakat sipil, teknologi, maupun ruang publik lainnya. Karena, membangun kepemimpinan yang berkualitas tidak dapat lahir dari proses yang instan, melainkan lahir dari proses belajar sepanjang hayat, jalan pengabdian, dan mengisi ruang-ruang yang memberi kemaslahatan untuk umat.
 
Pada akhirnya, refleksi 60 tahun KOHATI bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang mempersiapkan masa depan. Gagasan strategis dan futuristik dari setiap pemimpin yang mampu memimpin dengan nilai, amanah dalam setiap tanggung jawab, dan merawat kaderisasi hingga ke akar adalah prasyarat melahirkan kader-kader KOHATI yang mampu menjadi lentera peradaban. 60 tahun KOHATI adalah momentum yang tepat untuk terus menjaga nyala asa dan berjuang bersama menghadirkan KOHATI sebagai lentera yang bersinar dan menyinari dengan dijiwai nilai-nilai keislaman, keintelektualan, keperempuanan, dan keindonesiaan. 

Layaknya teladan yang ditunjukkan oleh Ummahat Al Mukminin, seperti Siti Khadijah r.a., Siti Aisyah r.a., Fatimah Azzahra dengan Sifat shiddiq (jujur), thahiroh (suci), amanah (dapat dipercaya), taat beragama, dermawan, cerdas dan penyayang. Mereka adalah muslimah-muslimah hebat yang kiprahnya mampu menjadi cahaya bagi kemajuan peradaban. Peranannya sekaligus menegaskan bahwa setiap kemajuan peradaban tidak dapat dipisahkan dari kehadiran perempuan yang bernilai.
 
Dini Asmiatul Amanah
Pengurus PB HMI
 

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya