Berita

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dan Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO), Dr Qu Dongyu. (Foto: Humas KKP)

Bisnis

KKP dan FAO Bidik Peluang Sektor Perikanan Mampu Genjot Ketahanan Pangan

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026 | 00:49 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dan Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO), Dr Qu Dongyu membahas peluang penguatan kerja sama di sektor akuakultur dan perikanan budidaya di sela pertemuan Committee on Fisheries (COFI) ke-37 di Roma, Italia beberapa waktu lalu. 

Rencana penguatan kerja sama dua pihak sebagai solusi untuk meningkatkan produksi pangan bergizi, memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir, serta menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.

FAO menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas perikanan dan hasil laut bernilai tinggi yang memiliki prospek pasar internasional yang menjanjikan. 


Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa dan sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan memperbaiki gizi masyarakat juga akan memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya global mengatasi tantangan pangan.

“Ketahanan pangan dan gizi di Indonesia bukan hanya isu nasional, tetapi juga bagian penting dari agenda global. Keberhasilan Indonesia akan menjadi kontribusi besar bagi dunia,” Qu sebagaimana disampaikan dalam rilis KKP di Jakarta, Rabu, 16 September 2026.

Qu turut menyampaikan apresiasinya terhadap kemajuan pembangunan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir serta optimisme terhadap visi pembangunan Indonesia menuju tahun 2045. 

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Qu pun mendorong pengembangan akuakultur berkelanjutan sebagai alternatif yang mampu memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat dibandingkan ketergantungan pada penangkapan ikan di alam. Pengembangan budidaya perikanan dinilainya dapat mendukung konservasi sumber daya laut sekaligus meningkatkan ketersediaan protein hewani bagi masyarakat.

Qu membagikan pengalaman sejumlah negara yang berhasil mengalihkan sebagian nelayan skala kecil ke kegiatan akuakultur melalui penguatan kelembagaan, pengembangan teknologi budidaya, serta model usaha berbasis kemitraan dan investasi bersama. 

“Pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam membangun sistem produksi perikanan yang lebih efisien, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan sumber daya kelautan untuk generasi mendatang,” ujarnya. 

Dalam pertemuan tersebut, Dirjen FAO membagikan pengalaman internasional terkait pemanfaatan instrumen kebijakan yang mendukung peningkatan kapasitas petani dan nelayan melalui pelatihan, pengendalian penyakit, pengembangan teknologi, serta pemberdayaan perempuan dan generasi muda.

Sementara itu, Menteri Trenggono menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor kelautan dan perikanan melalui penguatan perikanan budidaya, peningkatan produktivitas masyarakat pesisir, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.

Selain isu perikanan dan akuakultur, pembahasan turut mencakup pengelolaan sumber daya air sebagai bagian penting dari sistem pangan. Kedua pihak sepakat untuk terus mempererat kemitraan strategis antara Indonesia dan FAO guna mendukung pembangunan sektor kelautan, perikanan, pangan, dan sumber daya air yang produktif, inklusif, serta berkelanjutan baik di tingkat nasional maupun global.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya