Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Politik

Ketua MPP PKS:

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026 | 00:01 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, menegaskan Indonesia membutuhkan pemimpin nasional yang berkualitas untuk membawa bangsa ini maju dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. 

Hal tersebut disampaikan Mulyanto dalam acara FGD Kepemimpinan Nasional MPP PKS di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Menurut dia, tantangan memimpin Indonesia tidak sederhana. Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk lebih dari 290 juta jiwa, wilayah yang sangat luas, serta berada di kawasan ring of fire yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. 


Karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, kompetensi, integritas, serta kemampuan mengelola seluruh potensi dan risiko bangsa.

“Kalau kita gagal menghadirkan pemimpin yang berkualitas, kita akan terus menjadi negara yang tertinggal. Padahal Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang sangat besar. Persoalannya adalah apakah potensi besar itu dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan nasional,” ujar Mulyanto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu malam, 16 September 2026.

Ia mengingatkan bahwa posisi Indonesia dibandingkan sejumlah negara tetangga telah mengalami perubahan besar. Pada masa lalu, Indonesia berada dalam posisi relatif lebih maju dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. 

Namun secara perlahan negara-negara tersebut berkembang lebih cepat, sementara Indonesia tertinggal dalam berbagai indikator pembangunan. Bahkan dalam sejumlah indikator ekonomi dan daya saing, Indonesia kini mulai mendapat tekanan serius dari Vietnam.

Lanjut Mulyanto, masalah kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kondisi masyarakat dan sistem yang melahirkannya. 

“Pemimpin pada akhirnya merupakan cerminan masyarakatnya. Ia juga merupakan refleksi dari sistem demokrasi-politik yang kita bangun, bahkan sistem ekonomi yang berkembang di dalamnya. Karena itu kita tidak cukup hanya berbicara tentang siapa pemimpinnya, tetapi juga harus membenahi ekosistem yang menghasilkan pemimpin tersebut,” katanya.

Ia menilai demokrasi Indonesia masih berada dalam tahap transisional dan terlalu menekankan aspek prosedural. Kondisi tersebut masih diperberat oleh praktik politik uang, tingkat ekonomi dan pendidikan sebagian masyarakat yang belum memadai, kuatnya underground economy, serta struktur ekonomi ekstraktif yang membuka ruang besar bagi kekuatan oligarki untuk memengaruhi proses politik.

“Dalam ekosistem seperti itu, sistem politik cenderung menghasilkan pemimpin yang populis ketimbang kompeten. Popularitas, kekuatan modal, dan kemampuan membangun pencitraan dapat menjadi lebih menentukan daripada kapasitas, integritas, visi, dan kemampuan memimpin. Ini merupakan tantangan serius bagi masa depan demokrasi Indonesia,” tegas Mulyanto.

Karena itu, ia mendorong perbaikan demokrasi menuju demokrasi yang semakin substansial, disertai penguatan institusionalisasi partai politik. Partai harus semakin memiliki systemness, sistem kaderisasi, mekanisme kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang kuat, serta tidak bergantung pada figur tertentu. 

“PKS sejak awal berusaha mempelopori model partai yang terinstitusionalisasi dan berbasis sistem. Ke depan kita membutuhkan partai-partai yang kuat secara institusi agar demokrasi mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas. Sebab Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan pemimpin yang populer; Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu mengubah seluruh potensi bangsa menjadi kekuatan nasional,” pungkas Mulyanto.


Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya