Berita

Arief Poyuono. (Foto: Istimewa)

Opini Pakar

Solusi Alih Daya Bagi BUMN di Era Danantara Menghadapi Tantangan Global

SABTU, 12 SEPTEMBER 2026 | 13:06 WIB | OLEH: ARIEF POYUONO

DI tengah derasnya arus globalisasi dan tekanan efisiensi, BUMN kita sedang berada di persimpangan. Di satu sisi negara menuntut BUMN menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, penopang layanan publik, dan agen pembangunan.

Di sisi lain, standar tata kelola global, persaingan pasar, hingga agenda keberlanjutan menuntut BUMN bergerak lebih cepat, lebih ramping, dan lebih profesional.

Kehadiran BPI Danantara sebagai instrumen baru penguatan pengelolaan BUMN justru menegaskan satu hal: era “bisnis seperti biasa” sudah selesai. Restrukturisasi, efisiensi, dan fokus pada bisnis inti bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.


Pertanyaannya kemudian: bagaimana BUMN melakukan lompatan besar itu tanpa mengorbankan operasional dan pelayanan kepada rakyat? Jawabannya ada pada satu instrumen yang sering disalahpahami: alih daya atau outsourcing.

BUMN Dihimpit Tiga Tekanan Besar

Tantangan BUMN hari ini bukan main-main.

Pertama, tuntutan tata kelola. OECD dan pemerintah terus mendorong akuntabilitas, transparansi, dan peran dewan komisaris-direksi yang jelas. BUMN dituntut setara dengan perusahaan swasta dalam kepatuhan, tapi tetap memikul mandat negara. Ini membuat beban birokrasi dan kepatuhan semakin berat.

Kedua, persaingan global. Sekitar 70 persen BUMN beroperasi di sektor yang sangat kompetitif: logistik, manufaktur, pariwisata, telekomunikasi. Pelanggan menuntut layanan cepat. Kompetitor swasta bergerak lincah. Jika BUMN masih sibuk mengurus fungsi non-inti, kita akan kalah start.

Ketiga, agenda keberlanjutan dan investasi asing. Dunia kini menilai perusahaan bukan hanya dari laba, tapi dari jejak karbon dan dampak sosial. Sementara itu, pengawasan investasi asing semakin ketat. BUMN harus pintar mengelola risiko, mata uang, dan regulasi lintas negara.

Jika semua fungsi itu ditangani sendiri, BUMN akan kelelahan sebelum bertanding.

Restrukturisasi Bukan Harus Privatisasi

Banyak negara kini memilih restrukturisasi ketimbang privatisasi. India misalnya, merombak lebih dari 200 BUMN-nya dengan target jangka panjang 5 tahun, optimalisasi investasi, dan fokus pada profitabilitas.

Tujuannya jelas: membuat BUMN lebih sehat tanpa melepas kendali negara atas sektor strategis.

Indonesia pun bisa menempuh jalur yang sama. Restrukturisasi artinya merapikan rumah: mana yang jadi bisnis inti, mana yang bisa dikelola pihak lain. Tujuannya bukan membuat BUMN lebih kecil, tapi membuat BUMN lebih kuat.

Mengapa Alih Daya Bukan Sekadar "Hemat Biaya"

Selama ini outsourcing sering dipandang negatif: cara memangkas pegawai dan menekan upah. Padahal dalam konteks BUMN di era Danantara, alih daya adalah strategi transformasi.

Bayangkan begini: seorang CEO tidak akan menghabiskan waktu mengurus kebersihan kantor atau server IT. Ia akan fokus pada strategi, ekspansi, dan pelayanan pelanggan. Hal yang sama harus dilakukan BUMN.

Dengan menyerahkan fungsi non-inti kepada penyedia jasa profesional, BUMN mendapatkan 6 keuntungan sekaligus:

Fokus pada bisnis inti. Energi direksi dan SDM diarahkan ke pelayanan publik dan ekspansi usaha.

Akses keahlian khusus. Untuk kepatuhan, manajemen risiko, TI, ESG, BUMN bisa langsung "menyewa otak" terbaik tanpa harus membangun dari nol.

Efisiensi dan fleksibilitas. Biaya overhead bisa dikendalikan. Saat kebutuhan naik-turun, BUMN tidak perlu rekrut-PHK massal.

Akselerasi transformasi digital. Vendor yang sudah berpengalaman bisa langsung mengimplementasikan sistem baru lebih cepat.

Menjaga kesinambungan operasional. Saat restrukturisasi berlangsung, fungsi pendukung tetap berjalan.

Memperkuat kepatuhan dan tata kelola. Penyedia jasa profesional biasanya sudah memiliki standar dan sistem yang sesuai regulasi nasional maupun internasional.

Alih Daya Juga Kunci Keberlanjutan dan Menghadapi Risiko Global

Agenda keberlanjutan seperti yang dilakukan Tiongkok lewat penerbitan green bond membutuhkan investasi besar dan kompetensi khusus. Begitu juga dengan ketatnya regulasi investasi asing seperti yang dilakukan Uni Eropa.

Di sinilah mitra alih daya bisa membantu: mengelola program ESG, memantau risiko nilai tukar, memastikan kepatuhan hukum internasional. BUMN cukup fokus pada kemudi besar, sementara detail teknis ditangani ahlinya.

Catatan Penting: Alih Daya Harus Dikelola dengan Benar

Agar tidak menjadi bumerang, outsourcing di BUMN harus diatur dengan prinsip yang jelas.

Pertama, peta fungsi inti vs non-inti harus jelas. Jangan sampai fungsi strategis ikut dialihkan.

Kedua, kualitas penyedia jasa harus diuji. Bukan asal murah.

Ketiga, perlindungan pekerja harus dijamin. Alih daya bukan alasan untuk merampas hak.

Keempat, pengawasan dan evaluasi harus ketat. Karena bagaimanapun, tanggung jawab akhir tetap di pundak BUMN.

Saatnya BUMN Jadi Petarung Global

Tahun 2026 akan menjadi tahun ujian. Tuntutan tata kelola makin tinggi, persaingan makin sengit, dan teknologi bergerak makin cepat. BUMN tidak bisa lagi menjadi organisasi besar yang lamban.

Yang kita butuhkan adalah BUMN yang gesit, efisien, profesional, dan inovatif. Dan untuk sampai ke sana, kita perlu keberanian untuk mendelegasikan.

Alih daya, jika dirancang dengan benar, bukan bentuk pelepasan tanggung jawab. Ia adalah cara cerdas agar BUMN bisa fokus pada hal yang paling penting: melayani rakyat dan bersaing di panggung global.

Di era Danantara, mari kita ubah cara pandang. Outsourcing bukan soal mengurangi, tapi soal menguatkan. Bukan soal memotong, tapi soal memfokuskan. Karena pada akhirnya, BUMN yang hebat bukanlah BUMN yang mengerjakan semuanya sendiri.

BUMN yang hebat adalah BUMN yang tahu persis apa yang harus ia kerjakan sendiri, dan apa yang harus ia percayakan kepada yang terbaik di bidangnya.

*Pengamat Kebijakan Publik dan Ekonomi juga Komisaris PT Pelindo

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya