Berita

Astari Annisha Fitri. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Komunikasi Bukan Sekadar Menyampaikan Pesan: Membangun Kepercayaan di Era Digital

SABTU, 12 SEPTEMBER 2026 | 06:34 WIB

DI era digital, menyampaikan informasi bukan lagi perkara sulit. Dalam hitungan detik, sebuah pesan dapat berpindah dari satu orang kepada jutaan orang melalui berbagai platform.
 
Namun, di tengah derasnya arus informasi tersebut, ada satu hal yang justru semakin sulit diperoleh: kepercayaan. 

Pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat organisasi menyampaikan pesan, tetapi apakah pesan tersebut mampu dipahami, dipercaya, dan mendorong publik untuk mengambil tindakan yang tepat. 


Menurut saya, di sinilah tantangan komunikasi modern sesungguhnya berada. Komunikasi kerap dipahami sebatas aktivitas menyampaikan informasi. 

Padahal, organisasi juga “berbicara” melalui kualitas pelayanan, cara merespons keluhan, bagaimana kebijakan dijelaskan, hingga bagaimana setiap insan organisasi berinteraksi dengan stakeholder. Dengan kata lain, setiap tindakan organisasi adalah bentuk komunikasi. 

Informasi yang cepat tetapi tidak akurat dapat meruntuhkan kepercayaan. Sebaliknya, informasi yang transparan, konsisten, dan empatik dapat menjadi fondasi hubungan jangka panjang. 

Karena itu, keberhasilan komunikasi tidak semestinya berhenti pada banyaknya publikasi atau tingginya . Yang lebih penting adalah apakah publik memahami pesan dan percaya bahwa apa yang disampaikan sesuai dengan apa yang dilakukan. 

Kemudahan teknologi membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Namun, mudah mendapatkan informasi tidak selalu berarti mudah memahami informasi. 

Hal ini semakin penting ketika komunikasi berkaitan dengan kecelakaan, pelayanan publik, kebijakan, maupun kepentingan masyarakat. 

Dalam situasi seperti itu, menyampaikan fakta saja tidak selalu cukup. Publik membutuhkan informasi yang jelas, tetapi juga empati. Bahasa harus mudah dipahami dan informasi disampaikan secara proporsional. 

Publik perlu merasakan bahwa di balik prosedur dan kebijakan terdapat manusia yang peduli. Komunikasi yang humanis bukan berarti mengurangi profesionalisme, tetapi menunjukkan bahwa profesionalisme juga berarti kemampuan memahami manusia. 

Perubahan lanskap komunikasi turut mengubah peran public relations (PR). Jika dahulu PR sering diasosiasikan dengan publikasi dan hubungan dengan media, kini perannya semakin strategis. 

Praktisi PR dituntut memahami reputasi, stakeholder, isu, risiko komunikasi, dan komunikasi digital. PR pada akhirnya bukan sekadar telling the story, tetapi juga building the relationship. 

Sebuah organisasi dapat menghasilkan publikasi yang menarik, tetapi apabila pengalaman stakeholder tidak sesuai dengan pesan yang dikomunikasikan, reputasi akan sulit dibangun. 

Karena itu, komunikasi eksternal harus berjalan seiring dengan komunikasi internal. Apa yang dikatakan organisasi kepada publik harus mencerminkan apa yang benar benar dilakukan. 

Bagi organisasi yang memiliki mandat pelayanan kepada masyarakat, komunikasi harus menjadi jembatan antara institusi dan masyarakat. Hak, prosedur, layanan, maupun program perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana. 

Komunikasi yang baik bukan hanya memperkenalkan organisasi, tetapi juga memperkecil jarak dengan masyarakat. Tantangan komunikasi juga tidak dapat dilepaskan dari generasi muda. 

Mereka bukan hanya konsumen informasi, tetapi sekaligus produsen informasi. Satu unggahan dapat membentuk persepsi, satu komentar dapat memengaruhi opini, dan satu video dapat memperkuat bahkan merusak reputasi sebuah organisasi. 

Karena itu, generasi muda perlu dipandang bukan sekadar sebagai target komunikasi, melainkan sebagai mitra. Kolaborasi dengan mahasiswa, komunitas, konten kreator, dan kelompok muda dapat menghadirkan pesan organisasi dengan bahasa yang relevan. 

Namun, kreativitas harus berjalan bersama tanggung jawab: memahami konteks, melakukan verifikasi, menjaga etika, dan menyadari bahwa komunikasi digital memiliki konsekuensi. 

Komunikasi modern membutuhkan dua hal yang saling melengkapi: data dan empati. Data membantu organisasi berbicara berdasarkan fakta, sedangkan empati membantu memahami manusia di balik fakta tersebut. 

Data pelayanan tidak cukup disimpan sebagai angka; data harus diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami. 

Ketika menghadapi isu atau keluhan, respons juga perlu mempertimbangkan perspektif publik. 


Pada akhirnya, keberhasilan komunikasi tidak dapat hanya diukur dari jumlah informasi yang disampaikan. Banyaknya publikasi belum tentu menunjukkan tingginya kepercayaan. 

Banyaknya pengikut media sosial belum tentu berarti kuatnya reputasi. Tingginya engagement pun belum tentu menunjukkan bahwa pesan benar-benar dipahami. 

Menjadi komunikator di era digital membutuhkan kemampuan mendengar, keberanian memahami perspektif berbeda, integritas menyampaikan fakta, serta empati memahami manusia di balik setiap pesan. 

Di tengah derasnya informasi, kepercayaan menjadi semakin berharga. 

Di era ketika semua orang berlomba berbicara, komunikasi terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang mampu membuat orang merasa didengar, 
dipahami, dan akhirnya percaya.


Astari Annisha Fitri
Pegawai BUMN/Influencer

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya