Berita

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka (ASR) dan kepala Kejaksaan Tinggi Sultra, Sugeng Riyanta siap mengambil alih lahan seluas sekitar 7,2 hektare yang digunakan Yayasan Ummusshabri Kendari sebagai aset daerah (Foto: Dok Istimewa)

Nusantara

Gubernur Sultra ASR:

Penertiban Aset Sesuai Amanat KPK dan Dorong Impact Ekonomi

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2026 | 11:05 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka (ASR) menegaskan langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra dalam menertibkan aset daerah, termasuk lahan seluas 7,2 hektare yang saat ini digunakan Yayasan Ummusshabri, merupakan bagian dari upaya menjalankan amanat dan atensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

ASR menjelaskan, terdapat sekitar 800 aset Pemprov Sultra yang menjadi perhatian dalam proses penataan dan penertiban. Pemerintah daerah secara berkala melakukan koordinasi dengan KPK untuk menentukan aset mana yang dapat segera ditindaklanjuti sesuai kondisi dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Setiap hari Senin kami meeting Zoom dengan KPK. Selalu ditanyakan, dari 800 aset itu mana yang bisa kita tertibkan dengan waktu yang ada dan dengan batasan yang ada,” kata ASR dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.


Menurutnya, Pemprov Sultra memilah aset yang tidak sedang memiliki persoalan hukum untuk kemudian ditindaklanjuti proses penertibannya. Lahan yang digunakan Yayasan Ummusshabri menjadi salah satu aset yang dilaporkan dalam proses tersebut karena Pemprov menilai tidak terdapat perkara hukum yang menghalangi penataan aset.

“Salah satu yang kita laporkan itu adalah Ummusshabri. Kita menganggap ini tidak ada kasus hukumnya,” ujarnya.

ASR menegaskan, proses penertiban tidak dilakukan secara sepihak. Pemprov Sultra justru meminta pendampingan Kejaksaan yang memiliki fungsi sebagai pengacara negara untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai koridor hukum.

“Nanti Kejaksaan akan memfasilitasi kita karena kita sudah memberikan kekuasaan kepada Kejaksaan untuk mendampingi kita. Setelah itu dipertemukan, didudukkan sama-sama, sehingga nanti akan ada proporsional,” jelasnya.

Ia menambahkan, penataan aset pemerintah tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan atau pengosongan aset. Pemerintah juga mempertimbangkan aspek pemanfaatan dan nilai ekonomi aset agar keberadaannya dapat memberikan manfaat secara optimal.

Lanjut dia, aset daerah harus memiliki kejelasan status sekaligus nilai manfaat ekonomi sesuai aturan mengenai pemanfaatan barang milik daerah.

“Karena aset itu sesuai dengan aturan harus ada nilai ekonominya. Apalagi ini kan sudah mempunyai nilai ekonomi. Pasti akan ada aturan yang mengatakan bahwa pemanfaatan aset itu ada impact-nya,” jelasnya.

Karena itu, ASR membuka ruang penyelesaian melalui komunikasi dan pendampingan hukum agar kepentingan pemerintah daerah maupun keberlanjutan aktivitas Yayasan Ummusshabri dapat ditempatkan secara proporsional.

“Kita berharap nanti dengan adanya pendampingan dengan Kejaksaan, impact ekonominya juga akan ada. Kita sama-sama tidak disalahkan dengan aturan, Ummusshabri juga bisa berjalan, dan masa depannya ini statusnya harus jelas,” tegasnya.

ASR juga meminta agar langkah penertiban aset tidak dipersepsikan sebagai tindakan yang ditujukan kepada pihak tertentu. Menurutnya, siapa pun yang memimpin daerah akan memiliki kewajiban yang sama dalam memastikan aset milik pemerintah tertib secara administrasi, hukum, dan pemanfaatannya.

“Kalau ada yang terusik, kenapa harus terusik? Siapapun, bukan cuma saya. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin daerah pasti akan mengalami hal yang sama dan pasti akan melakukan langkah-langkah yang sama seperti apa yang saya lakukan,” ungkap dia.

ASR menekankan bahwa penegakan aturan mengenai aset tidak hanya berbicara mengenai efek jera, tetapi juga kepastian hukum, keberlanjutan pemanfaatan, serta dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Sekarang ini hukum itu bukan hanya efek jeranya, tapi keberlanjutan dan impact ekonominya. Tidak hanya sekadar menghukum saja,” pungkasnya.

Dengan pendampingan Kejaksaan, Pemprov Sultra berharap proses penataan lahan Ummusshabri dapat menghasilkan solusi yang memberikan kepastian status aset, tetap berada dalam koridor aturan, sekaligus memungkinkan pemanfaatan aset memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya