Berita

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Foto: Dokumen perseroan

Bisnis

Public Expose

Dilema Gudang Garam: Kejar Margin, Konsumen Bisa Kabur

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 14:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Laba boleh melonjak, tetapi PT Gudang Garam Tbk (GGRM) belum bisa bernapas lega. Di balik lonjakan laba bersih pada semester I-2026, emiten industri rokok ini masih menghadapi persoalan serius: volume penjualan terus menyusut di tengah pergeseran konsumen ke produk yang lebih murah.

Gudang Garam mencatat laba bersih Rp2,97 triliun pada semester I-2026, melonjak jauh dibandingkan Rp120 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pendapatan justru turun 7,2 persen menjadi Rp41,17 triliun karena volume penjualan melemah.

Volume penjualan rokok perseroan merosot dari 23,7 miliar batang menjadi 20,5 miliar batang, atau turun 13,6 persen. Kondisi ini membuat strategi harga menjadi persoalan pelik bagi manajemen.


Kenaikan harga dibutuhkan untuk menjaga margin, tetapi langkah tersebut bisa menjadi bumerang jika konsumen memilih turun kelas atau beralih ke rokok yang lebih murah. Apalagi, pasar juga dibayangi peredaran rokok ilegal.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan perseroan terus mencermati harga produk pesaing di kelas yang sama. Perseroan, kata dia, tidak ingin produknya menjadi rokok dengan harga paling mahal di segmennya.

“Kita berusaha mempertahankan berada pada suatu posisi istilah saya adalah optimum jadi bukan baik. Kalau ada kesempatan menaikan harga yaitu dimana kita itu menghindari untuk menjadi rokok termahal sesaat,” kata Heru dalam Public Expose 2026, Kamis 10 September 2026.

Strategi tersebut juga bergantung pada respons kompetitor. Jika pesaing ikut menaikkan harga, Gudang Garam memiliki ruang untuk mengikuti. Namun, jika kompetitor menahan harga, perseroan harus lebih berhati-hati.

“Jadi kenaikan harga kita jalanin, kita juga memantau kompetitor kelas kita itu tadi mengikuti gak? Kalau tidak mengikuti kita juga tidak memiliki wacana untuk memperbaiki profitability dalam kondisi sekarang ini dimana volume yang turun itu belum pernah terkejar kembali,” ujarnya.

Manajemen pun belum berani memastikan kapan tekanan volume akan berakhir.

“Harap sabar karena memang tidak bisa kalau dilihat penurunan tidak totally berhenti, tapi juga mudah-mudahan tidak turun terus,” kata Heru.

Tekanan bukan hanya terjadi di Gudang Garam. Data Nielsen menunjukkan volume penjualan rokok nasional pada semester I-2026 turun 6,8 persen menjadi 105,1 miliar batang. Segmen sigaret kretek mesin (SKM) bahkan turun 8,8 persen, seiring pergeseran konsumen kelas menengah bawah ke sigaret kretek tangan (SKT) yang memiliki beban cukai lebih rendah.

Di tengah tekanan tersebut, kondisi keuangan Gudang Garam justru membaik. Gearing ratio turun dari 30,7 persen menjadi 21,5 persen. Perseroan juga membagikan dividen tunai Rp800 per saham pada Juli 2026.

Tantangan Gudang Garam saat ini bukan sekadar mengejar laba, melainkan mempertahankan margin tanpa kehilangan konsumen. 

Perseroan juga berharap pemerintah memperkuat pemberantasan rokok ilegal agar persaingan antara industri rokok legal dan produk ilegal menjadi lebih seimbang.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya