Berita

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Bisnis

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 10:10 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Tekanan terhadap Rupiah kembali menguat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan.

Mengacu data Bloomberg, hingga pukul 09.45 WIB Kamis 10 September 2026, Rupiah berada di level Rp17.528 per Dolar AS. Posisi ini melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang menekan Rupiah. Harga minyak mentah jenis Brent disebut telah menembus 100 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di atas 96 Dolar AS per barel dan berpotensi menuju 98 Dolar AS per barel.


"Hari ini ya kita melihat bahwa harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan, terutama dalam crude oil sudah di atas 100 Dolar per barrel, kemudian WTI crude oil pun juga sudah di atas 96, bahkan kemungkinan akan mencapai di 98 dolar per barrel," kata Ibrahim dalam risetnya.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap pasokan energi global dipengaruhi konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, serta situasi di Laut Merah.

"Di Eropa Timur Rusia dan Ukraina terus melakukan penyerangan, Rusia melakukan penyerangan terhadap kota-kota besar di Ukraina, kemudian Ukraina pun juga melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia. Sehingga membuat ketegangan yang begitu kuat, yang begitu besar," jelasnya.

Serangan terhadap fasilitas minyak Rusia juga disebut berdampak terhadap produksi negara tersebut. Di saat yang sama, konflik di Timur Tengah dan Laut Merah meningkatkan risiko terhadap jalur serta pasokan energi global.

"Di sinilah kilang-kilang minyak Rusia juga dihantam oleh Ukraina, ini yang membuat produksi minyak di Rusia ini mengalami penurunan. Kemudian di Timur Tengah sendiri kita melihat bahwa bukan di Timur Tengah saja yang terjadi perang, tetapi di Laut Merah pun juga terjadi perang," tuturnya.

"Nah ini yang membuat apa? Membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan sehingga berdapak terhadap pelemahan mata uang rupiah," sambung Ibrahim.

Dari dalam negeri, kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dinilai belum cukup menjadi penopang penguatan Rupiah. Ibrahim mencatat IKK meningkat dari 116,8 menjadi 118,5, tetapi optimisme konsumen tersebut belum sepenuhnya diikuti perbaikan pendapatan masyarakat.

"Kita melihat bahwa masih masyarakat memakan untuk operasional itu menggunakan tabungan," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih banyak ditopang tabungan. Dengan demikian, peningkatan keyakinan konsumen belum otomatis mencerminkan penguatan daya beli.

"Kita harus ingat bahwa peningkatan konsumen belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat. Sehingga demi menopang belanja masyarakat masih terjerat dengan fenomena makan tabungan. Itu yang membuat mata uang rupiah kembali mengalami kelemahan," pungkasnya.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya