Berita

Pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang. (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Publika

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 03:22 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

AWAN yang tampak biasa di langit ternyata bisa menyimpan ancaman maut. Abu vulkanik, yang sering kali tak terlihat dari kokpit pesawat, menjadi salah satu bahaya terbesar dalam dunia penerbangan. 

Beda dengan awan hujan biasa, abu vulkanik terdiri dari partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik halus yang bisa terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumber erupsi. 

Yang mengkhawatirkan, abu ini nyaris tak terlihat, terutama pada malam hari atau saat bercampur dengan awan.


Bayangkan, pilot yang sedang menerbangkan pesawat dengan ratusan penumpang tidak bisa membedakan antara awan biasa dan awan abu vulkanik. 

Inilah yang membuat abu vulkanik menjadi jauh lebih berbahaya daripada sekadar cuaca buruk. Ia adalah hazard area yang wajib dihindari, bukan sekadar kondisi yang bisa diterobos dengan keberanian.

Mesin Pesawat dalam Bahaya

Mesin jet sangat rentan terhadap abu vulkanik. Saat partikel abu tersedot masuk ke dalam mesin, suhu ekstrem di ruang bakar membuat material tersebut meleleh dan menempel pada komponen turbin. 

Akibatnya, aliran udara terganggu, tenaga mesin menurun, dan dalam kasus terparah bisa terjadi flameout atau mesin mati total. Jika lebih dari satu mesin mengalami gangguan, risiko menjadi sangat serius.  

Inilah sebabnya mengapa pesawat tidak boleh memasuki awan abu vulkanik hanya dengan alasan "tidak terlalu terlihat". Tak terlihat bukan berarti tak berbahaya. 

Sejarah mencatat beberapa insiden penerbangan nyaris celaka akibat abu vulkanik, seperti yang dialami British Airways Flight 9 pada 1982 ketika keempat mesin pesawat mati sesaat setelah terbang melewati awan abu Gunung Galunggung di Jawa Barat. 

Beruntung, pesawat berhasil restart dan mendarat darurat,  dan pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi dunia penerbangan.

Bukan Hanya Mesin yang Terancam

Ancaman abu vulkanik tak berhenti pada mesin. Partikel abrasifnya bisa mengikis permukaan pesawat, termasuk kaca depan kokpit, sehingga mengurangi jarak pandang pilot. 

Sensor-sensor penting, sistem ventilasi, pendinginan, hingga sistem elektronik bisa terganggu jika terpapar abu dalam jumlah cukup banyak. 

Bahkan setelah pesawat mendarat, abu yang masuk ke berbagai komponen memicu inspeksi dan perawatan tambahan yang memakan waktu dan biaya.  

Artinya, abu vulkanik mengancam seluruh integritas pesawat, bukan hanya mesin. Ini adalah ancaman sistemik yang harus diwaspadai secara menyeluruh.

Menentukan Zona Bahaya, Tidak Ada Jarak Aman Pasti

Seberapa jauh abu vulkanik menyebar? Jawabannya tergantung pada besar erupsi, ketinggian kolom, ukuran partikel, serta arah dan kecepatan angin di berbagai lapisan atmosfer. 

Karena itulah, tidak ada patokan jarak aman baku dari gunung api. Keputusan menutup atau membuka rute penerbangan dilakukan berdasarkan informasi terkini dari berbagai sumber: aktivitas gunung, citra satelit, radar, laporan pilot, dan Volcanic Ash Advisory dari pusat yang berwenang.  

Jadi, yang menjadi dasar keputusan bukan sekadar jarak dari gunung, melainkan keberadaan dan konsentrasi abu di ruang udara yang akan dilalui.

Kunci Selamat Menghadapi Erupsi

Saat erupsi terjadi, koordinasi menjadi segalanya. BMKG menyediakan informasi meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin. 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memantau aktivitas gunung. AirNav Indonesia mengelola lalu lintas penerbangan. Kementerian Perhubungan menjalankan fungsi regulasi. Bandara dan maskapai menerjemahkan semua informasi menjadi keputusan operasional.  

Kuncinya adalah satu situational awareness yang sama. Semua pihak harus melihat gambaran bahaya yang seragam dan memperbaruinya secara cepat. Tak boleh ada keputusan yang berjalan sendiri-sendiri.

Tidak Ada Kompromi

Prinsipnya sederhana. Keselamatan adalah segalanya. Tak ada jadwal, kepentingan ekonomi, atau keinginan menghindari keterlambatan yang boleh mengalahkan keselamatan. 

Pilot wajib menghindari area terdampak, siap mengubah rute atau ketinggian, bahkan kembali ke bandara jika diperlukan. Maskapai pun harus mendasarkan keputusan pada risk assessment dan informasi terbaru.  

Lebih baik penerbangan tertunda atau dibatalkan, daripada memaksakan pesawat dan penumpang masuk ke wilayah berbahaya.

Mitigasi Harus Terus Dikuatkan

Indonesia terletak di kawasan geologi paling dinamis di dunia. Cincin Api Pasifik dengan puluhan gunung api aktif. Artinya, bahaya abu vulkanik bukan kejadian luar biasa, melainkan risiko struktural bagi sistem penerbangan nasional. 

Karena itu, sistem mitigasi harus terus diperkuat: teknologi pemantauan, integrasi data, informasi real-time, hingga latihan bersama antara regulator, AirNav, bandara, dan maskapai. 

Yang lebih penting lagi, kita perlu membangun budaya bahwa penutupan atau pengalihan penerbangan akibat abu vulkanik adalah bagian dari sistem keselamatan yang bekerja, bukan kegagalan. 

Ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak penerbangan yang tetap berjalan saat erupsi, melainkan seberapa baik kita melindungi keselamatan manusia dan memulihkan konektivitas setelah kondisi aman. Nyawa manusia jauh lebih berharga daripada sekadar tepat waktu.  Utamakan Keselamatan!

*Pusat Studi Air Power Indonesia

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya