Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Menimbang Ulang Bencana

SELASA, 08 SEPTEMBER 2026 | 17:41 WIB

BENCANA! Setiap kali musibah datang, menjadi momen refleksi penting bagi manusia. Format kehadiran bencana, berkelindan antara yang murni alamiah dan kelalaian manusia. Dalam kehidupan sosial, bencana besar terjadi ketika manusia gagal belajar dari pelajaran alam.
 
Pemisahan biner, antara bencana alam dan bencana buatan manusia sepintas tampak praktis. Di era Antroposen, kala jejak metabolisme peradaban industri telah menyatu secara permanen ke dalam lapisan tanah, laut, dan atmosfer bumi (Crutzen, 2002), cara pandang dualistik tersebut menjadi menyesatkan.
 
Banjir kronis, yang menenggelamkan sebagian kawasan pesisir, mustahil dipahami murni sebagai tingginya volume pasang laut. Fenomena tersebut merupakan persilangan kusut, antara penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah, hilangnya hutan mangrove, penyumbatan drainase, serta pemanasan global yang memicu ekspansi air laut (Marfai et al., 2008).
 

 
Bencana hari ini, bukan lagi interupsi acak dari alam liar yang kejam, melainkan cermin kerapuhan relasi manusia dengan jalinan kehidupan.
 
Akar dari kerentanan peradaban modern, terletak pada cara pandang terhadap dunia. Martin Heidegger (1977) mengingatkan, bahwa bahaya terbesar dari teknologi modern adalah pola berpikir instrumental yang disebut Gestell (pemaksaan kerangka).
 
Di bawah logika Gestell, manusia memandang seluruh isi bumi sebagai Bestand, yakni stok cadangan siap keruk, dihitung nilai, dan dimanfaatkan tanpa henti (Heidegger, 1977). Sungai tidak lagi dihayati sebagai ekosistem, melainkan diukur debit kubik air penunjang turbin atau saluran limbah. Hutan diturunkan menjadi potensi kayu olahan dan lahan sawit.
 
Tragedinya, peradaban modern meyakini alam dapat ditundukkan sepenuhnya di bawah kalkulasi sains matematika. Ulrich Beck (1992) mencatat, masyarakat modern justru memproduksi risiko baru dari keberhasilan teknologinya. Ketika tanggul penahan air roboh, yang ambruk bukan konstruksinya, melainkan ilusi manusia penguasa mutlak tatanan bumi. Bencana adalah momen tersentak, ketika alam menolak untuk dijadikan cadangan mati.
 
Lebih lanjut, Bruno Latour (1993, 2017),membongkar mitos pencerahan Barat yang memisahkan dunia menjadi dua kamar: masyarakat yang berisi manusia cerdas berpolitik, dan alam yang dianggap sebagai benda pasif tanpa kehendak.
 
Bagi Latour (2005), pemisahan keduanya ilusi. Alam ternyata tidak pernah pasif. Pada Teori Jaringan-Aktor (Actor-Network Theory), ditegaskan bahwa entitas non-manusia, mulai dari tetesan air, mikroba tanah, partikel karbon, hingga sedimentasi lumpur, adalah aktan yang memiliki daya bertindak (makes a difference).
 
Dalam Facing Gaia, Latour (2017) mempopulerkan gagasan bumi sebagai Gaia. Di mana Gaia bukanlah dewi mitologi yang ramah dan penuh maaf, melainkan jejaring kehidupan yang bereaksi balik ketika dipicu gangguan ekologis. Ketika manusia memompa miliaran ton karbon ke udara, atmosfer membalasnya dengan memicu badai siklon tropis berdaya rusak tinggi.
 
Berdasarkan perspektif Latour, bencana adalah situasi ketika alam membatalkan statusnya sebagai latar belakang bisu, mendobrak masuk ke ruang-ruang peradaban, dan menuntut hak representasi politiknya yang selama ini dirampas.
 
Rongga Objek-Hiper
 
Mengapa respons mitigasi kerap terlambat dan gamang? Teoretikus Object-Oriented Ontology, Timothy Morton (2013), menjawab provokatif. Menurut Morton, gagasan konvensional tentang Alam sebagai ruang hijau, indah, dan berada jauh di luar sana, harus diakhiri karena justru melenakan.
 
Krisis lingkungan era kini ditandai kemunculan hyperobjects (objek-hiper), yaitu entitas material raksasa dalam skala ruang dan waktu, sehingga melampaui kemampuan panca-indra manusia untuk menangkapnya secara utuh (Morton, 2013). Pemanasan global, partikel mikroplastik di samudra, dan radiasi nuklir adalah contoh nyata objek-hiper.
 
Salah satu sifat utama objek-hiper adalah viscous atau lengket. Kita tidak bisa mengamati perubahan iklim dari jarak aman di balik jendela kaca berpendingin udara. Saat kita meneguk air yang mengandung mikroplastik atau menghirup polusi kota, kita secara ragawi telah berada di dalam rongga bencana itu sendiri.
 
Kenyataan ini melahirkan dark ecology (ekologi gelap), kesadaran ekologis yang tidak lagi dipenuhi angan romantis, melainkan diwarnai perasaan genting dan keakraban yang menakutkan (uncanny). Banjir rob bukan lagi tamu asing yang datang lalu pergi, melainkan kondisi atmosferik menetap yang mengunci keseharian masyarakat pesisir.
 
Menjalin Kekerabatan Spesies
 
Bila ancaman krisis bumi sedemikian masif, apakah kita harus menyerah pada keputusasaan apokaliptik? Suara Donna Haraway (2016), menjadi pemandu arah. Kepasrahan yang sinis dan menentang arogansi teknokratis, ditolak keras.
 
Haraway (2016) mendekonstruksi mitos biologi, bahwa organisme hidup secara mandiri (autopoiesis). Mengacu pada konsep sympoiesis, yang berarti menghasilkan-bersama. Tubuh manusia sendiri adalah ekosistem berjalan disokong miliaran bakteri mikrobioma; pepohonan hutan saling berbagi nutrisi melalui jalinan jamur bawah tanah (Tsing, 2015). Di bumi ini, tidak ada satu pun makhluk yang sanggup hidup terisolasi.
 
Karena itu, penanganan bencana menuntut etika staying with the trouble, keberanian untuk tetap hadir, peduli, dan merajut kelangsungan hidup di atas bentang alam yang telah luka. Haraway mengajak kita melatih response-ability, kapasitas ragawi dan moral untuk merespons penderitaan entitas lain.
 
Mitigasi bencana tidak berorientasi maskulin menaklukkan alam yang merusak dinamika ekosistem. Membangun semangat kekerabatan "make kin", perlindungan habitat dibangun lewat persekutuan simpoietik: merawat, memulihkan, dan memberi ruang bernapas alamiah.
 
Kerendahan Hati Ekologis
 
Menghadapi masa depan kebencanaan yang kian kompleks, para pembuat kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana perlu skema berpikir dalam paradigma baru. Mempertahankan pemikiran teknokratis semata, boleh jadi hanya akan memperpanjang lingkaran katastrofe.
 
Bencana pada hakikatnya penyingkap kebenaran. Peristiwa yang membuka mata bahwa keamanan manusia, terikat erat pada keselamatan spesies dan materi lain di bumi. Kita sedang menuai akibat dari penolakan kita untuk berbagi ruang kehidupan secara adil.
 
Sudah saatnya orientasi penanggulangan bencana bergeser, dari logika penaklukan menuju kerendahan hati ontologis: belajar berdiam kembali di bumi sebagai bagian dari jejaring kehidupan yang rentan, mengakui agensi entitas non-manusia, dan merawat setiap jalinan relasi tersisa dengan penuh tanggung jawab. Bersama!
 

Yudhi Hertanto
Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya