Berita

Santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Sidoarjo mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo karena diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: RMOL Jateng/Info Publik-Antara)

Publika

Dalam Tiga Hari, Hampir 2.000 Orang Keracunan MBG

SENIN, 07 SEPTEMBER 2026 | 00:44 WIB

KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono harus membuka mata lebar-lebar.  Dalam tiga hari hampir 2.000 orang tumbang setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Mereka siswa, guru, santri, ibu menyusui, dan balita. Mereka bukan angka statistik. Mereka manusia yang pulang dari sekolah bukan membawa tenaga untuk belajar, tetapi mual, muntah, dan diare.

Dalam rentang 1-3 September 2026, sedikitnya 1.964 siswa, guru, dan penerima manfaat lain terdampak di enam klaster. 


Mas Dar, lihat mereka! Anak-anak itu cuma ingin makan. Mereka tidak meminta pesta. Tidak meminta steak. Cuma ingin makan dan pulang dalam keadaan sehat.

Di Sidoarjo, sekitar 664-668 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar sekitarnya keracunan. Makanan matang pukul 05.00, diberi label seolah aman sampai 10.00, dikirim sekitar pukul 11.00 lebih, lalu baru dimakan di atas pukul 12.00. Mas Dar, menyebutnya “kelalaian yang disengaja.”

Mas Dar, kalau benar disengaja, siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai yang disengaja cuma label waktunya. Sementara yang tidak disengaja adalah air mata orang tua. Kata kelalaian yang disengaja sampai sekarang menjadi misteri. Korban bertumbangan, tapi tidak ada tersangka.

Di SMAN 1 Lasem, Rembang, sekitar 750-777 orang, terdiri dari 725 siswa dan 25 guru, mengalami diare massal. Menu: ayam bakar, nasi, mendoan, semangka. Ada keterangan ayam diduga sudah berlendir. Makanan dimasak sekitar pukul 03.00 dini hari, dimakan siang.

Mas Dar, ini makanan bergizi atau sedang menguji apakah lambung anak-anak punya sertifikat ketahanan nasional? Mereka siswa, bukan kelinci percobaan. Itu anak orang, Mas Dar.

Di Tana Toraja, sekitar 136–152 siswa SMPN 1 dan 2 Makale keracunan setelah makan ayam kuning, tempe, tumis sayur, dan melon. Di Nganjuk, 49 siswa SMAN 3 dan seorang guru mual dan muntah setelah makan nasi goreng.

Sementara di Agam, Sumatera Barat, angka korban berubah dari 237, naik menjadi 334, lalu diperbarui sekitar 276 orang, termasuk ibu menyusui dan balita. Ditambah klaster Jombang sekitar 85 orang.

Mas Dar, angka boleh berubah karena pendataan. Tetapi air mata ibu tidak mengenal istilah “update data”.

Yang lebih menyakitkan, ini bukan kejadian pertama. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 43.838 anak dan warga menjadi korban sejak program ini digulirkan. Empat puluh tiga ribu delapan ratus tiga puluh delapan!

Setiap kejadian, pola muncul hampir selalu sama. Pejabat meminta maaf, menjanjikan evaluasi, meneriakkan zero tolerance, dan mengancam mencopot kepala dapur. Lalu beberapa waktu kemudian muncul kasus baru.

Mas Dar, jangan sampai “evaluasi” berubah menjadi menu tetap MBG: disajikan setiap kali ada korban, lalu dilupakan ketika berita berganti. Makanan terlalu pagi. Didiamkan terlalu lama. Didistribusikan terlalu jauh. Dimakan terlalu siang. Bakteri pesta, anak-anak menderita, orang tua panik. 

Sementara program ini menggunakan dana ratusan triliun rupiah. Nyolong dana pos pendidikan lagi. Mas Dar, uang sebesar itu seharusnya membeli keselamatan, bukan sekadar membeli target jumlah porsi.

Mas Dar, kamu mungkin melihat angka korban. Orang tua melihat anaknya terbaring sakit. Jangan pernah samakan keduanya. Sudah cukup.

Kalau ada kelalaian, benahi. Kalau ada pelanggaran, tindak. Kalau ada unsur pidana, proses. Jangan tunggu korban berikutnya untuk kembali berkata, “Kami akan evaluasi.”

Jangan sampai program yang namanya Makan Bergizi Gratis justru membuat anak-anak belajar satu pelajaran paling pahit, untuk mendapatkan makanan dari negara, mereka harus terlebih dahulu mempertaruhkan kesehatan mereka.

“Bang, keracunan MBG sebentar lagi mirip korupsi, dianggap biasa dan normal. Soalnya gitu-gitu saja. Kadang bosan juga.”

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya