Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah

Politik

Kapal Selam Nuklir AS di Australia Ubah Keseimbangan Kekuatan di Sekitar RI

SABTU, 05 SEPTEMBER 2026 | 04:11 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Rencana peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Australia kembali menjadi sorotan setelah Washington dan Canberra membahas percepatan force posture di Australia, termasuk penguatan fasilitas di HMAS Stirling, Australia Barat.

Sekitar 1.000 personel Angkatan Laut AS dijadwalkan ditempatkan di HMAS Stirling mulai tahun depan untuk mendukung kehadiran kapal selam bertenaga nuklir AS. Kehadiran tersebut merupakan bagian dari Submarine Rotational Force-West (SRF-West) dalam kerangka kerja sama pertahanan AUKUS.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan, peningkatan kehadiran militer AS merupakan bagian dari upaya memperkuat daya tangkal di kawasan Indo-Pasifik.


Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Washington, kedua negara juga membahas percepatan berbagai inisiatif force posture di pangkalan-pangkalan Australia serta peningkatan kerja sama industri pertahanan, termasuk produksi rudal berpemandu.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut mempunyai arti strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar bertambahnya jumlah personel militer AS di negara tetangga.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai penguatan HMAS Stirling harus dibaca sebagai bagian dari perubahan arsitektur keamanan Indo-Pasifik dalam jangka panjang.

“Yang sedang dibangun bukan sekadar fasilitas untuk menampung kapal selam. Yang dibangun adalah ekosistem operasi militer jarak jauh yang memungkinkan Amerika Serikat mempertahankan daya jangkau di Samudra Hindia dan Pasifik Barat,” kata Amir, dikutip Sabtu 5 September 2026.

Menurut Amir, angka 1.000 personel justru tidak boleh menjadi satu-satunya perhatian.

Dalam perspektif intelijen, jumlah personel merupakan indikator yang terlihat. Yang jauh lebih penting adalah kapabilitas yang dibawa bersama personel tersebut.

Kehadiran personel AS di HMAS Stirling berkaitan dengan pengoperasian, pemeliharaan, dukungan logistik, komunikasi, intelijen, serta kesiapan operasional kapal selam bertenaga nuklir.

Australia sendiri tengah menginvestasikan miliaran dolar untuk meningkatkan fasilitas HMAS Stirling. Pemerintah Australia menyebut investasi tersebut diperlukan untuk mempersiapkan pangkalan menghadapi SRF-West yang mulai berjalan pada 2027.

“Yang perlu dilihat adalah kemampuan apa yang dapat dihasilkan oleh kombinasi kapal selam, fasilitas pemeliharaan, personel, jaringan komunikasi, logistik, dan akses terhadap informasi,” kata Amir.

Menurutnya, kapal selam nuklir mempunyai karakteristik strategis yang berbeda dari kapal perang permukaan.

Kapal selam dapat beroperasi dengan tingkat keterlihatan jauh lebih rendah, mempunyai daya jelajah tinggi dan dapat berada dalam waktu lama di wilayah operasi.

“Ini membuat kapal selam menjadi instrumen deterrence yang sangat penting. Kehadirannya tidak selalu terlihat, tetapi justru ketidakpastian mengenai posisi dan arah operasinya merupakan bagian dari daya gentarnya,” kata Amir.

HMAS Stirling terletak di Garden Island, Australia Barat, dekat Perth.

Lokasi tersebut mempunyai nilai strategis karena memberikan akses Australia dan sekutunya terhadap kawasan Samudra Hindia sekaligus jalur menuju Asia Tenggara dan Pasifik.

Menurut Amir, posisi Indonesia semakin kompleks karena letaknya berada di antara dua kawasan strategis: Samudra Hindia dan Pasifik.

Indonesia juga mempunyai sejumlah jalur laut strategis yang menghubungkan kedua kawasan tersebut.

Dengan meningkatnya kehadiran militer AS di Australia, aktivitas kekuatan besar di sekitar lingkungan strategis Indonesia berpotensi semakin intensif.

“Indonesia harus melihat ini sebagai persoalan strategic environment. Jangan langsung diterjemahkan sebagai ancaman perang terhadap Indonesia, tetapi juga jangan dianggap tidak relevan,” kata Amir.

Ia menyebut pendekatan yang tepat adalah waspada tanpa panik.

“Intelijen yang baik bukan membuat masyarakat takut. Intelijen justru mengubah perkembangan strategis menjadi informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan,” pungkas Amir.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya