Berita

Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri (Foto: Doku PDIP)

Politik

Konsolidasi PDIP Jatim: Megawati Pesan Hal Ini untuk “Dapur Nasionalisme”

SENIN, 24 AGUSTUS 2026 | 09:17 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno.

Bahkan, Bung Karno menyebut Surabaya sebagai “Dapur Nasionalisme”.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi PDIP Jawa Timur di Surabaya, dikutip Senin, 24 Agustus 2026.


“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan ‘Dapurnya Nasionalisme’,” ujar Megawati.

Megawati mengatakan, Surabaya menjadi salah satu tempat penting dalam proses pembentukan pemikiran dan perjuangan Bung Karno. Di kota itu, Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru kepada HOS Tjokroaminoto.

Dalam kondisi serba terbatas, Bung Karno tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dan hanya menggunakan penerangan lampu teplok. Dari tempat sederhana itu, pemikiran intelektual dan gagasan perjuangannya mulai berkembang.

Melalui buku-buku yang dibacanya, Bung Karno berdialog secara intelektual dengan berbagai tokoh dan pemikir dunia, mulai dari Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, Jean-Jacques Rousseau, hingga para pemikir dan pejuang kemerdekaan dari berbagai bangsa.

“Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka,” kata Megawati.

Presiden Kelima RI itu mengatakan generasi muda dapat belajar dari Bung Karno mengenai kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan perjuangan. Menurutnya, Bung Karno merupakan contoh anak muda yang hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan tentang masa depan bangsa.

“Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya,” ujarnya.

Dari sejarah perjuangan Bung Karno itu, Megawati meminta seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDIP menjaga gelora perjuangan serta semangat militansi. Ia ingin kader mampu menjadikan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik terpenting di Pulau Jawa.

Megawati juga meminta kader menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai proses penggemblengan diri dalam menjalankan tugas kepartaian.

“Sebab Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh,” katanya.

Di tengah pragmatisme politik, Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi. Ia mengingatkan kader agar tidak menjadikan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik.

Menurut Megawati, kekuatan utama PDIP terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dengan rakyat di akar rumput. Karena itu, ia meminta jajaran PDIP Jawa Timur memperkuat basis dan kerja politik di tengah masyarakat.

“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur,” ujar Megawati.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional, baik dengan rakyat maupun sesama kader. Ikatan itu dinilai penting untuk memperkuat soliditas partai sekaligus menjaga hubungan PDIP dengan masyarakat.

Megawati berharap Jawa Timur kembali menjadi “Kandang Banteng”, dengan target perolehan kursi setidak-tidaknya menyamai capaian PDIP pada Pemilu 2019.

Ia mengingatkan militansi kader PDIP di Jawa Timur telah teruji dalam perjalanan sejarah, termasuk ketika menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.

“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” demikian Megawati.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya