Berita

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) bersama keluarga besar. (Foto: istimewa)

Politik

Gus Salam Pede Raup 60 Persen Suara Muktamar NU

MINGGU, 23 AGUSTUS 2026 | 08:29 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), optimistis mampu meraih lebih dari 60 persen dukungan pemilik suara dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.

Keyakinan tersebut didasarkan pada konsolidasi yang telah dilakukan secara masif dan terstruktur ke berbagai daerah di seluruh Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami telah bersilaturrahim secara langsung, bertemu secara fisik dengan para fungsionaris di 30 PWNU, dan lebih dari 470 PCNU seluruh Indonesia,” ujar Gus Salam, Minggu, 22 Agustus 2026.


Selain pertemuan fisik, Gus Salam juga menyebut komunikasi intensif terus berjalan. Ia bersama timnya membangun komunikasi dengan semua fungsionaris PWNU, PCNU, dan PCINU. 

“Komunikasi itu kami lakukan baik dalam forum-forum tertentu maupun secara personal. Intinya, semua yang telah kami temui dan komunikasikan saat ini sudah masuk dalam Daftar Peserta Tetap atau DPT Muktamar ke-35 NU,” jelasnya.

Berdasarkan data DPT, jumlah total PWNU, PCNU, dan PCINU yang berhak memiliki suara di Muktamar 35 adalah 556 lembaga. Angka ini menjadi basis perhitungan tim Gus Salam dalam memetakan dukungan.

“Dari hasil silaturrahim dan komunikasi itu, kami optimis bisa meraih dukungan di atas 60% dari pemilik suara," tegasnya.

Gus Salam menyebut ada tiga alasan utama yang membuat ia optimis meraih dukungan mayoritas. Pertama, gagasan rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan pendiri NU.

“Gagasan rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan pendiri NU mendapat apresiasi yang luar biasa dari PWNU, PCNU dan PCI NU. Ini yang membangkitkan semangat khidmah mereka lagi ditengah melemahnya kepercayaan terhadap PBNU,” katanya.

Menurutnya, warga NU di daerah rindu kepemimpinan yang mempersatukan, bukan memecah. Gagasan rekonsiliasi dianggap sebagai jalan kembali ke khittah dan nilai dasar NU.

Kedua, Gus Salam dipandang sebagai calon yang merepresentasikan pesantren dan figur pemimpin muda yang visioner. Pemikiran itu dituangkannya dalam buku “Menjaga Langit Pesantren, Dari Tradisi Menuju Peradaban”.

“berita, artikel yang saya tulis dan kegiatan saya, baik ngaji, silaturrohim, sowan maupun di forum pertemuan yang diunggah di platform media sosial, menjadi perhatian mereka. Mereka mencermati visi saya tentang transformasi NU dan masa depan pesantren melalui media," ujarnya.

“Yang kami inginkan adalah PBNU ke depan yang membumi dan berwibawa. Dekat dengan pesantren, dekat dengan warga, dan kuat secara kelembagaan,” tambahnya.

Ketiga, menurut Gus Salam, ikhtiar yang ia lakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari fungsionaris NU, peserta Muktamar, baik di Indonesia maupun di luar negeri berangkat dari perintah Guru-Kyainya serta keprihatinannya terhadap kondisi PBNU yang diterpa konflik; menyebabkan NU secara kelembagaan, melemah. 

“ini amanat guru. Saya bertekad berjuang hingga tuntas di Muktamar ke-35 NU. Tidak lain untuk mewujudkan perintah Guru-Kyai saya, KH Nurul Huda Djazuli," tegas Gus Salam.

Di tengah optimisme meraih dukungan mayoritas, Gus Salam juga menyampaikan harapan besar agar Muktamar 35 berlangsung dengan baik.

“Saya berharap muktamar berlangsung sejuk, teduh, mencerminkan kedaulatan NU, independen, dan tidak dikotori dengan perilaku yang tidak berakhlaq,” katanya.

Ia merinci perilaku yang harus dihindari bersama: money politik, intimidasi, manipulasi, dan intervensi dari para pihak.

“Mari kita jaga marwah Muktamar. Ini rumah kita bersama. Biarlah warga NU yang diwakili para peserta muktamar nanti, yang menentukan,” pungkasnya.

Muktamar ke-35 NU akan menjadi momentum penting untuk memilih kepengurusan PBNU masa khdimat 2026-2031. Hingga saat ini, sejumlah nama telah mengemuka sebagai calon Ketua Umum PBNU. Salah satunya, Gus Salam yang dikenal intensif menyapa fungsionaris NU se-Indonesia, bahkan PCINU di luar negeri.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya