Berita

Kimia Farma (Foto: Situs Kimia Farma)

Bisnis

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

SELASA, 18 AGUSTUS 2026 | 12:02 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Sengketa investasi antara Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra asal China, Silk Road Fund (SRF), dengan PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Bio Farma, dan PT Kimia Farma Apotek (KFA) memasuki bulan kedua setelah putusan arbitrase internasional keluar pada pertengahan Juni 2026.

Perkara ini berawal dari investasi INA dan SRF di anak usaha Kimia Farma, yakni KFA, pada 2022. Saat itu, kedua investor menanamkan modal senilai Rp1,86 triliun untuk memperoleh 40 persen kepemilikan saham KFA.

Namun, persoalan kemudian muncul terkait transaksi investasi tersebut. Pada Oktober 2024, INA dan SRF membawa perkara itu ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dengan menggugat Kimia Farma, Bio Farma, dan KFA.


Nilai gugatan yang diajukan mencapai sekitar Rp2,2 triliun. Perkara tersebut berkaitan dengan penggunaan dana investasi serta laporan keuangan yang menjadi bagian dari transaksi investasi dan kepemilikan saham KFA.

Setelah melalui proses arbitrase, SIAC pada pertengahan Juni 2026 mengeluarkan putusan yang memenangkan INA dan SRF.

Kimia Farma kemudian mengonfirmasi adanya putusan tersebut kepada publik melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Juni 2026.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ida Rasita, menyampaikan bahwa perseroan telah menerima keputusan arbitrase internasional yang menempatkan Kimia Farma sebagai salah satu pihak dalam perkara terkait transaksi investasi dan kepemilikan saham pada perseroan dan anak usahanya. Ia mengatakan, perseroan masih mempelajari putusan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

"Perseroan selanjutnya tengah melakukan kajian komprehensif atas putusan tersebut dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, dalam rangka mengusahakan solusi terbaik untuk melindungi kepentingan Perseroan dan pemegang saham," demikian disampaikan manajemen, dikutip Selasa, 18 Agustus 2026.

Kimia Farma menegaskan perseroan tetap menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Manajemen juga memastikan putusan arbitrase tersebut tidak mengganggu aktivitas perusahaan.

Kegiatan manufaktur, distribusi, apotek, hingga layanan kesehatan di seluruh jaringan Kimia Farma disebut tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Manajemen juga menyatakan akan bersikap kooperatif terhadap otoritas yang berwenang dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Sementara itu, RMOL telah meminta konfirmasi kepada INA terkait perkembangan perkara tersebut. Namun, INA belum bersedia memberikan komentar mengenai kelanjutan putusan tersebut.

"Mohon maaf INA tidak dapat memberikan komentar apa pun soal ini, terima kasih," kata VP of Communication INA, Putri Dianita Ruswaldi.

RMOL juga telah meminta tanggapan Danantara selaku pengelola investasi dan superholding BUMN serta pihak Kimia Farma terkait perkembangan perkara tersebut. Hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan jawaban.

Di tengah perkembangan sengketa tersebut, kinerja saham Kimia Farma terpantau masih berada dalam tekanan.

Berdasarkan data perdagangan, saham KAEF tercatat merosot 15,43 persen secara tahunan ke level Rp444 per lembar. Sementara dalam sebulan terakhir, saham KAEF turun 2,20 persen.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya