Berita

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono membesuk para korban insiden keamanan pangan yang diduga berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Rumah Sakit Efarina dan Rumah Sakit Amanda Berastagi Kabupaten Karo. (Foto: Istimewa)

Publika

Ketika Emak-emak Mengamuk di Depan Kepala BGN

SENIN, 17 AGUSTUS 2026 | 15:50 WIB

JANGAN pernah membuat emak-emak marah. Apalagi kalau yang sakit adalah anaknya. Sebab ketika naluri seorang ibu sudah terbakar, jabatan, pangkat, gelar, kewibawaan negara bisa mendadak terasa seperti kartu nama tidak berguna.

Adegan itu terjadi di Rumah Sakit Efarina, Berastagi, Kabupaten Karo, Minggu, 16 Agustus 2026. 

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono datang meninjau siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).


Barangkali Sudaryono datang dengan niat menenangkan keadaan. Tetapi ia justru berhadapan dengan badai. 

Seorang ibu wali murid tiba-tiba meluapkan emosinya. Ia menangis. Ia marah. Suaranya bergetar. Kata-katanya meluncur tanpa rem.

Di hadapannya berdiri Kepala BGN. Namun yang dihadapi Sudaryono bukan sekadar seorang ibu. Itulah emak-emak Indonesia ketika anaknya sakit.

Sang ibu bercerita, anaknya merupakan siswa SMA Negeri 1 Berastagi mengalami sesak napas sejak Kamis. Ia sempat dirawat di RS Amanda selama tiga hari. 

Setelah itu kondisinya kembali memburuk. Mual dan gatal-gatal muncul lagi sehingga anak tersebut dibawa ke RS Efarina.

Ia kemudian melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana. “Anak saya makan apa?”

Tetapi pertanyaan sederhana itu berubah menjadi peluru ketika belum ada jawaban dianggap memuaskan.

Ia mempertanyakan penyebab keracunan. Ia menuntut penjelasan. Ia meminta pertanggungjawaban. Bahkan ia menegaskan, permintaan maaf tidak akan mengubah kondisi anaknya.

Ketika sang ibu meminta penjelasan tentang “racun” apa yang dikonsumsi anaknya, suasana berubah menjadi begitu emosional.

Sudaryono tampak berada dalam posisi sulit. Di hadapannya bukan wartawan yang bisa dijawab dengan konferensi pers. Bukan pula rapat birokrasi yang bisa ditutup dengan kalimat “akan kami evaluasi”.

Ini seorang ibu. Anaknya sakit. Maka yang keluar bukan bahasa protokol. Yang keluar adalah bahasa hati. Seorang ibu sedang ketakutan kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupnya.

Kasus ini memang besar. Laporan korban bervariasi sekitar 256 hingga 361 siswa dari sejumlah sekolah di Berastagi dan Kabupaten Karo, termasuk SMAN 1 Berastagi. Mereka mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada Kamis 13 Agustus 2026.

BGN kemudian mencopot Kepala SPPG terkait, menyegel dapur operasional, dan melakukan investigasi. Sudaryono menyatakan hasil investigasi akan dibuka secara transparan. 

Dugaan sementara mengarah pada ikan tidak disimpan di ruang pendingin selama lebih dari 12 jam.

Namun publik masih ingat satu drama lainnya. Bupati Karo Antonius Ginting sebelumnya mengatakan sekitar 255 anak yang diduga mengalami gejala keracunan tidak dalam kondisi mengkhawatirkan. Bahkan ia menyebut, “Ini berita baik.” 

Kalimat itu langsung menjadi santapan netizen. Di tengah ratusan anak masuk rumah sakit dengan keluhan mual, muntah, lemas, gatal-gatal hingga kondisi lebih berat, “berita baik” terdengar seperti humor salah alamat.

Kini emak-emak kembali mengambil panggung. Kali ini, panggungnya tepat di depan Kepala BGN. 

Lae bayangkan republik sedang berdiri dengan segala protokolnya. Ada pejabat. Ada jabatan. Ada lembaga. Ada investigasi.

Lalu datang seorang ibu. Menangis. Marah. Menuntut jawaban. Mendadak semua terasa kecil. Karena ketika anaknya sakit, mak-mak tidak mengenal istilah “nanti kami evaluasi.”

Ia hanya mengenal satu kalimat, “Anak saya kenapa?” Kalau jawabannya belum jelas, jangan heran jika emak-emak berubah menjadi parlemen berjalan. 

Sebab di hadapan seorang ibu sedang memperjuangkan anaknya, jabatan setinggi apa pun bisa mendadak kehilangan suara. Termasuk Kepala BGN.

"Bang, Kepala BGN kena mental emak-emak tu."

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya