Berita

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica dengan kapasitas 180 megawatt (MW) yang berada di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: PT PLN)

Bisnis

9,2 GW Proyek PLTA dan PLTM Masuk Tahapan Eksekusi

Akselerasi Pengembangan Hydropower
MINGGU, 16 AGUSTUS 2026 | 05:26 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

PT PLN (Persero) mencatat sekitar 9,2 gigawatt (GW) proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) telah memasuki berbagai tahapan eksekusi hingga Juli 2026. 

Capaian tersebut setara dengan sekitar 79 persen dari total 11,7 GW kapasitas yang direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dari 9,2 GW tersebut, sebanyak 410 MW telah masuk tahap kajian kelayakan, sebanyak 6,8 GW di tahap pengadaan, sebanyak 1,4 GW di tahap konstruksi, dan sebanyak 570 MW telah memasuki tahap pengoperasian.


Secara keseluruhan, pengembangan 11,7 GW PLTA dan PLTM akan direalisasikan melalui 315 proyek yang dikembangkan PLN bersama Independent Power Producer (IPP). Dengan karakteristik proyek yang beragam, percepatan pengembangan membutuhkan sinergi sejak tahap penyiapan hingga pelaksanaan proyek.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar menilai bahwa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci percepatan pengembangan hydropower sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi dan transisi energi Indonesia.

"PLN tidak sendirian dalam menjalankan amanah ini," kata Suroso pada agenda Indonesia Hydropower Summit 2026, dikutip Minggu 16 Agustus 2026.

Menurut Suroso, Pemerintah, PLN, IPP, dan termasuk lembaga lain, termasuk Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI) akan bersinergi untuk mewujudkan program tersebut.

Selain 11,7 GW PLTA dan PLTM, pengembangan pembangkit berbasis hidro dalam RUPTL 2025-2034 juga mencakup pumped storage dengan total kapasitas sekitar 4,3 GW. 

Teknologi pumped storagememungkinkan energi disimpan saat pasokan listrik berlebih dan dimanfaatkan kembali ketika kebutuhan meningkat, sehingga membantu menjaga fleksibilitas dan keandalan sistem kelistrikan.

Suroso menjelaskan bahwa PLN juga tengah mengembangkan sejumlah proyek pumped storage hydropower untuk memperkuat fleksibilitas dan keandalan sistem kelistrikan berbasis EBT, antara lain Upper Cisokan Pumped Storage berkapasitas 1.040 MW, Sumatera Utara Pumped Storage berkapasitas 500 MW, Matenggeng Pumped Storage berkapasitas 943 MW, Grindulu Pumped Storage berkapasitas 1.000 MW, serta Jatiluhur Pumped Storage berkapasitas 760 MW yang dikembangkan oleh IPP.

Komisaris Independen PLN, Ali Masykur Musa menegaskan bahwa tantangan utama pengembangan hydropower di Indonesia saat ini bukan lagi terletak pada identifikasi potensi, melainkan bagaimana mengakselerasi potensi tersebut menjadi proyek yang siap dieksekusi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Proyek hydropower memang memiliki masa pengembangan dan konstruksi yang panjang, tapi nilainya sangat luar biasa untuk berkembang," kata Ali.

Karena itu percepatan hydropower tidak dapat dilakukan secara parsial, percepatan harus dilaksanakan secara end-to-end dan tahap perencanaan hingga operasi harus terukur. 

"Untuk itu yang perlu kita lakukan pertama adalah memastikan prioritas kesiapan proyek," kata Ali.

Sejalan dengan hal tersebut, Pelaksana Tugas Ketua Umum METI, Norman Ginting, mengatakan pengembangan hydropower membutuhkan proyek yang bankable serta didukung kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar dapat menjawab kebutuhan listrik yang terus meningkat.

"Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan pusat data, kendaraan listrik, hilirisasi mineral, dan industri hijau, hydropower menjadi fondasi penting untuk menghadirkan sistem kelistrikan yang andal sekaligus rendah emisi," kata Norman.

METI mendorong agar kolaborasi lintas pemangku kepentingan tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan menghasilkan pipeline proyek yang siap didanai, dibangun, dan beroperasi secara komersial.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya