Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. (Foto: RMOL)

Politik

Indonesia Dituntut Pertahankan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

SENIN, 10 AGUSTUS 2026 | 06:50 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Meningkatnya kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat tidak boleh otomatis membuat Indonesia dipersepsikan masuk ke dalam salah satu kubu kekuatan besar.

Pasalnya, Indonesia memiliki tradisi politik luar negeri bebas aktif yang harus tetap dipertahankan.

“Kerja sama militer dan pertahanan dengan Amerika Serikat dapat dilakukan, tetapi itu tidak otomatis berarti Indonesia menjadi bagian dari strategi containment terhadap China,” kata pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, dikutip Senin 10 Agustus 2026. 


Menurut Amir, Indonesia justru dapat memperoleh keuntungan strategis apabila mampu menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan secara seimbang.

Kerja sama dengan Amerika Serikat dapat diarahkan pada peningkatan kemampuan pertahanan, latihan militer, keamanan maritim, teknologi, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Pada saat yang sama, Indonesia tetap dapat mempertahankan hubungan ekonomi dan diplomatik dengan China serta memperkuat hubungan dengan Jepang, India, Australia, Korea Selatan, Rusia dan negara-negara Eropa.

“Kekuatan Indonesia bukan pada keberpihakan kepada satu kekuatan, melainkan pada kemampuan menjaga ruang gerak strategis,” kata Amir.

Posisi geografis Indonesia juga menjadi faktor penting dalam meningkatnya perhatian negara-negara besar.

Indonesia memiliki sejumlah jalur strategis, termasuk Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Lombok yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia dengan Pasifik.

Amir mengatakan, keamanan jalur tersebut memiliki dampak terhadap perdagangan global, energi, rantai pasok dan mobilitas militer.

Karena itu, kerja sama pertahanan Indonesia-Amerika Serikat dinilai berpotensi semakin banyak bersinggungan dengan isu keamanan maritim.

“Indonesia harus memiliki kemampuan mengetahui apa yang terjadi di wilayah lautnya sendiri. Itu bagian dari kedaulatan,” kata Amir.

Ia menyebut kerja sama dapat diarahkan pada peningkatan maritime domain awareness, pengawasan laut, keamanan jalur pelayaran, pencarian dan penyelamatan, hingga penanggulangan ancaman lintas batas.

Amir juga mengingatkan bahwa ancaman keamanan modern tidak selalu berbentuk perang terbuka.

Menurut dia, ancaman dapat muncul melalui serangan siber, disinformasi, sabotase infrastruktur, tekanan ekonomi, gangguan rantai pasok, teknologi kecerdasan buatan, keamanan energi hingga perang informasi.

Karena itu, pembicaraan pertahanan bilateral tidak semestinya hanya berorientasi pada pembelian alat utama sistem persenjataan.

“Indonesia harus melihat kerja sama pertahanan sebagai pembangunan ekosistem pertahanan nasional, bukan hanya sebagai transaksi pembelian senjata,” ujarnya.

Ia mendorong agar kerja sama pertahanan diarahkan pada transfer teknologi, penguatan industri pertahanan nasional, peningkatan kemampuan intelijen, keamanan siber, satelit, sistem komunikasi, pengawasan maritim dan pengembangan sumber daya manusia.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya