Berita

Ribuan masyarakat memadati kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Reklamasi Fakfak, untuk mengikuti rangkaian peringatan 666 tahun masuknya agama Islam di Tanah Papua. (Foto: Detik Papua)

Publika

Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua

SENIN, 10 AGUSTUS 2026 | 05:21 WIB

SAYA beruntung pernah diundang Wagub Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau. Di provinsi yang terkenal dengan Raja Ampatnya saya bisa melihat Islam secara langsung. 

Negeri secara ras berbeda dengan umumnya rakyat Indonesia sedang memperingati 666 tahun masuknya Islam di Bumi Cenderawasih.

Kalau sejarah Papua itu noken, maka kisah Islam bukan benang baru kemarin sore dianyam. Benangnya sudah tua, melewati ombak, hujan, kolonialisme, pergantian kekuasaan, sampai politik modern yang kadang lebih ribut dari burung cenderawasih berebut dahan.


666 tahun, Pace!

Tahun 1360 Masehi, ketika Eropa masih sibuk Perang Seratus Tahun, seorang ulama dari Aceh, Syekh Abdul Gaffar, disebut telah tiba di Kampung Fatagar, Distrik Furwagi, Kabupaten Fakfak. 

Ia datang melalui jalur perdagangan membawa risalah Islam, bukan pasukan, bukan meriam, apalagi proposal proyek. Orang Aceh patut bangga.

Masyarakat Papua menyambut. Artinya jelas, Islam di Papua bukan cerita kemarin sore yang baru ditemukan setelah seseorang di Jakarta membuka Google. 

Namun baru pada 11 Januari 2025, akademisi dan sejarawan berkumpul dalam seminar nasional di Fakfak untuk membahas dan mengukuhkan sejarah tersebut.

Enam ratus enam puluh enam tahun kemudian! Kalau sejarah bisa ngomong, mungkin ia sudah berteriak, “Kamana saja, e?” Sementara agama nasrani baru masuk, 1855 M. Hampir selisih lima abad.

Untung masyarakat Fakfak tidak sibuk mengomel. Mereka memilih merayakannya. Puncaknya 8 Agustus 2026 di RTH KH Ma'ruf Amin. Perayaannya bukan sekadar duduk, pidato, tepuk tangan, foto, lalu pulang bawa nasi kotak.

Dari 15 Juli hingga 4 Agustus 2026, digelar tujuh cabang perlombaan dengan total 252 peserta atau grup yang telah terdaftar pada pertengahan Juli.

Ada Hadrat, rebana yang menghentak seperti ombak Fakfak. Ada Sawat, tarian Islami khas Fakfak. Ada Samrah, lomba membaca Surah Yasin beregu, Barzanji, pidato, dan cerdas cermat.

Bahkan ada peserta dari Jakarta. Orang Jakarta terbang jauh ke Papua untuk lomba keislaman. Sementara sebagian manusia tinggal dekat perpustakaan kadang membaca sejarah bangsanya sendiri seperti mencari sinyal di tengah hutan, putus-putus!

Tetapi yang paling keren bukan perlombaan. Fakfak punya filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”: Islam, Katolik, Protestan.

Tiga batu berbeda menopang satu api. Ada tradisi Gereja Maghi dan Mesjid Maghi, ketika masyarakat lintas agama bergotong royong membangun rumah ibadah. 

Dalam satu keluarga pun bisa terdapat anggota dengan agama berbeda, tetapi mereka tetap makan dari tungku yang sama.

Ini toleransi sungguhan. Bukan toleransi versi baliho pemilu. Bukan toleransi versi pidato lima menit. 

Di saat sebagian elite menjadikan agama seperti korek api, digosok sedikit, nyala, viral, lalu bakar-bakaran politik, masyarakat Fakfak menjadikan agama sebagai tungku.

Untuk memasak. Untuk menghangatkan. Untuk hidup bersama.

Pagi 8 Agustus 2026, ratusan umat Islam dari Fakfak Tengah, Fakfak Utara, dan Pariwari mengikuti Pawai Fajar dari masjid menuju RTH KH Ma'ruf Amin. Ada marching band, tabuhan hadrat, pakaian terbaik, dan wajah-wajah penuh kebanggaan.

Di bawah langit Papua, Islam tidak tampil sebagai tamu. Ia tampil sebagai bagian dari sejarah.

Pada puncak acara hadir Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri dan Bupati Fakfak Samaun Dahlan. Bupati menyerukan Rahmatan lil Alamin dan mendorong sejarah masuknya tiga agama besar di Tanah Papua dimasukkan ke kurikulum lokal.

Buku “Masuknya Agama Islam di Tanah Papua” juga diluncurkan. Sebab sejarah jangan cuma disimpan dalam ingatan tete, nene, dan para tetua. Ia harus masuk sekolah, masuk buku, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Maka 666 tahun Islam di Papua bukan sekadar angka. Ini seperti akar pohon besar, diam, tetapi mencengkeram tanah. Papua bukan halaman kosong. Papua punya sejarah. Islam punya akar.

Fakfak telah menunjukkan, menjadi Muslim dengan bangga tidak harus merendahkan orang lain. Satu Tungku. Tiga Batu. Satu Indonesia. Kalau ada yang masih bertanya, “Sejak kapan Islam ada di Papua?”

Tersenyum saja. Buka sejarah. Lalu jawab, “Torang sudah di sini sejak 1360, e!” Selesai. Sebab sejarah tidak perlu berteriak. Sejarah sudah bicara.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya