Berita

Representative Image (Foto: AI)

Dunia

WHO Tetapkan Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo Terburuk dalam Sejarah

MINGGU, 02 AGUSTUS 2026 | 13:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik (RD) Kongo sebagai yang terburuk sepanjang sejarah negara tersebut. 

Dalam pernyataannya di platform X, WHO  menyebut hingga 30 Juli 2026, tercatat sebanyak 3.605 kasus terkonfirmasi dengan 1.587 kematian, atau tingkat fatalitas mencapai 44 persen. 

Wabah yang disebabkan oleh varian Bundibugyo itu resmi melampaui epidemi Ebola 2018-2020 yang sebelumnya menjadi yang terbesar di RD Kongo dengan hampir 3.500 kasus dan sekitar 2.300 kematian. Wabah terbaru ini pertama kali diumumkan pada 15 Mei 2026.


"Wabah tersebut semakin intensif, dengan penularan yang berkelanjutan dan peningkatan terus-menerus dalam kasus dan kematian yang dilaporkan," demikian laporan WHO, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.

Selama sepekan terakhir saja, tercatat 567 kasus baru dan 296 kematian, yang disebut WHO sebagai kecepatan transmisi yang luar biasa.

WHO menilai berbagai faktor nonkesehatan turut memperparah situasi di lapangan seperti ketidakamanan, perpindahan penduduk, dan pergerakan lintas batas terus menghambat upaya penanggulangan dan meningkatkan risiko penyebaran lebih lanjut.

Pusat wabah berada di Provinsi Ituri di timur laut RD Kongo, namun penyebarannya telah meluas hingga Kivu Utara dan Kivu Selatan yang sebagian wilayahnya dikuasai kelompok bersenjata M23.

Kondisi keamanan yang rapuh serta mobilitas penduduk dinilai menjadi hambatan besar dalam upaya memutus rantai penularan.

Hingga kini belum ada vaksin maupun terapi yang telah disetujui untuk menangani Ebola varian Bundibugyo. Namun, WHO mengumumkan kandidat vaksin yang dinilai paling menjanjikan sedang dikembangkan di Singapura, sementara uji klinis vaksin lain telah dimulai di Inggris.

Selain di RD Kongo, wabah juga telah memicu 20 kasus di Uganda dan satu kasus di Prancis. Dua pasien yang sebelumnya didiagnosis di RD Kongo juga telah menjalani perawatan di Jerman. 

Selama lima dekade terakhir, Ebola yang menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh telah merenggut sekitar 15 ribu nyawa di berbagai negara Afrika.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya