Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres)

Publika

Prabowo dalam Bahaya

JUMAT, 31 JULI 2026 | 06:51 WIB

SELASA pagi, 28 Juli 2026, saya on air Radio Dakta, dan Rabu pagi, 29 Juli 2026, saya on air Radio Rasil. 

Saya katakan di dalam wawancara bahwa SMRC hanya ungkap tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto. Angkanya 51 persen. Jauh menurun dibandingkan November 2025 di angka 80-an persen dan Maret 2025 di angka 70-an persen. 

Kalau SMRC merilis tingkat elektabilitas Prabowo, ini akan jadi sesuatu dan berpotensi membuat guncangan. 


Rabu malam, 29 Juli 2026, ternyata SMRC mempublish hasil risetnya terkait elektabilitas Prabowo. Tidak hanya SMRC, tapi juga Indikator. 

Hasilnya mirip bahwa elktabilitas Prabowo jauh tertinggal dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi Mulyadi kader Gerindra.

Sebelum mengulas apa dampak politik dari hasil survei ini, satu pertanyaan penting: "siapa di balik SMRC dan Indikator". Orang awam seringkali bertanya siapa yang membiayai kedua lembaga survei ini?

Siapa pun yang di belakang dan membiayai kedua lembaga survei itu, sama sekali tidak akan mengurangi validitas dan objektiifitas hasilnya. 

Pertanyaan di atas penting diajukan untuk membaca skenario apa yang sedang dimainkan dan kemana arah serta tergetnya. Pertanyaan ini merupakan upaya menelusuri strategi politik yang sedang digodok di panggung belakang.

SMRC dan Indikator melakukan survei dengan sejumlah simulasi: semi terbuka dan tertutup. Hasilnya, elektabilitas Prabowo jauh tertinggal di bawah Dedi Mulyadi. 

Survei SMRC semi terbuka (5-19 Juli): Tertinggi Dedi Mulyadi 35 persen, disusul Prabowo Subianto 14,5 persen, lalu Anies Baswedan 8,2 persen. Sedangkan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen dan Ganjar Pranowo 4,2 persen.

Sementara hasil survei semi terbuka Indikator (14-24 Juli): Dedi Mulyadi 32,4 persen, Prabowo 18,8 persen dan Anies Baswedan 11,6 persen. Sementara Gibran 5,9 persen, AHY 5,8 persen dan Ganjar Pranowo 4,5 persen.

Kedua survei menunjukkan bahwa elektabilitas Dedi Mulyadi berada di posisi teratas. Apakah ini kinerja Dedi Mulyadi seorang diri, atau ada tokoh besar yang sedang memainkannya? 

Rumor beredar Dedi Mulyadi mulai berseteru dengan elite Gerindra. Bahkan kabarnya akan balik ke Golkar. Ketum Golkar adalah Bahlil. Dan Bahlil adalah orang kepercayaan Jokowi. Jika info ini valid, tentu bukan sebuah kebetulan.

Apakah hasil survei ini bisa berubah? Sangat bisa! Hanya saja, berdasarkan pengalaman jika elektabilitas penguasa mengalami tren turun, apalagi dalam jangka panjang, maka akan sulit recovery. 

Bukan tidak mungkin, tapi cukup sulit. Tren tingkat kepuasan, trust, ekspektasi dan elektabilitas yang terus turun menjadi tantangan bahkan ancaman politik bagi positioning Prabowo.

Turunnya tingkat kepuasan dan elektabilitas Prabowo berpotensi membawa konsekuensi cukup serius. 

Di antaranya adalah pertama, kekuasaan Prabowo akan semakin kehilangan trust dan legitimasi publik. 

Kedua, melemahnya Prabowo mendorong kekuatan di luar Prabowo akan semakin bersemangat untuk melakukan konsolidasi yang lebih intens. 

Ketiga, pendukung Prabowo, terutama kelompok moderat, pragmatis dan oportunis akan mulai dihinggapi keraguan. 

Tidak menutup kemungkinan hasil survei SMRC dan Indikator ini akan mendorong sejumlah pendukung istana berkhianat. 

Dalam sejarah, kekuasaan yang melemah selalu melahirkan pengkhinatan. Pengkhianatan  menjadi salah satu anak kandung dari melemahnya kekuasaan. 

Keempat, tiga efek di atas berpotensi menciptakan kepanikan sehingga lahir sikap politik dan kebijakan yang blunder.

Merespons situasi ini, Prabowo dan lingkaran istana mesti mengambil langkah-langkah strategis, bahkan bila perlu ambil langkah radikal. 

Kalau tetap merasa aman dan tidak melakukan langkah-langkah strategis, maka ancaman akan semakin mendekati kenyataan. Apa langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan Prabowo?

Pertama, ganti sejumlah orang di struktur kekuasan dengan SDM yang lebih profesional. Tidak hanya di jajaran kementerian, tapi juga di sejumlah lembaga dan BUMN. 

Ini dalam rangka mengembalikan trust publik. Termasuk mengganti Kapolri dan Panglima TNI yang sudah terlalu lama menjabat, agar terjadi penyegaran di dua instutusi ini.

Kedua, ajak gabung kekuatan-kekuatan politik yang selama ini masih berada di luar koalisi. Ada dua kekuatan signifikan di luar istana yaitu PDIP sebagai partai pemenang dan Anies Baswedan. 

Berikan 3-5 menteri buat PDIP. Karena PDIP tidak mau bergabung jika ada orang-orang Jokowi di istana, maka tak ada pilihan lain kecuali mengganti orang-orang Jokowi dengan PDIP. Ini pilihan sulit yang tentu masing-masing punya konsekuensinya.

Jika Anies Baswedan dijadikan Mensesneg atau Seskab misalnya, keadaan Prabowo ada kemungkinan bisa berubah. 

Anies, selain punya pendukung dalam jumlah besar dan cukup militan, secara skill bisa ditugaskan untuk mengorkestrasi kementerian dan lembaga negara agar bisa biekerja lebih profesional. 

Tentu, tidak mudah menggandeng Anies. Belum tentu Anies sendiri mau, juga pasti penolakan di internal istana juga tidak kecil.

Seorang pemimpin akan selalu dihadapkan pada tantangan. Tantangan yang berat adalah ketika menghadapi dilema. 

Jika dilema terus dibiarkan, maka seorang pemimpin lambat laun akan melemah dan pada akhirnya tumbang. 

Apakah Prabowo akan tegas bersikap terhadap dilema-dilema itu? Terutama dilema dalam menghadapi Geng Solo.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya