Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid atau Cak Udin. (Foto: Dok PKB)
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar diskusi publik bertajuk "Ruang Temu AI dan Agama: Menyongsong Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Artificial Intelligence (AI)"sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid atau Cak Udin, mewakili Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
Diskusi publik ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang untuk membahas hubungan AI dan agama secara komprehensif.
Mereka adalah Anggota Komisi I DPR RI H. Oleh Soleh, Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Dr. Edwin Hidayat A., Pengasuh Pondok Pesantren Minggir Yogyakarta Gus Muwafiq, serta Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA) Prof. Hammam Riza.
Dalam sambutannya, Cak Udin menegaskan perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan beragama.
Menurutnya, AI merupakan ciptaan manusia, sementara agama merupakan ajaran yang bersumber dari Tuhan. Mempertemukan keduanya membutuhkan pandangan yang jernih dan mendalam.
"Kalau Gus Dur adalah guru bangsa, maka Gus Muwafiq adalah guru rakyat. Beliau ahli menjelaskan persoalan-persoalan yang rumit. Karena itu kami mengundang Gus Muwafiq untuk membahas tema ini. AI itu rumit, agama adalah ciptaan Allah, sedangkan AI adalah ciptaan manusia. Pertemuan keduanya membutuhkan penjelasan yang utuh," ujar Cak Udin.
Ia mengakui, perkembangan AI memunculkan beragam respons di kalangan masyarakat maupun tokoh agama.
Sebagian melihat AI mulai mengambil alih fungsi tertentu yang selama ini dijalankan para pemuka agama, sementara sebagian lainnya justru menolak pemanfaatannya karena meyakini AI tidak memiliki dimensi spiritual dan tidak dapat menggantikan hubungan guru dan murid dalam tradisi keilmuan Islam.
Menurut Cak Udin, fenomena tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama dalam merumuskan posisi agama terhadap AI maupun bagaimana AI dimanfaatkan secara bertanggung jawab dalam kehidupan beragama.
Ia juga mengungkapkan bahwa AI kini telah memasuki lingkungan pesantren. Bahkan, ia mencontohkan adanya santri yang menyanggah penjelasan seorang kiai dengan merujuk pada referensi kitab yang diperoleh melalui AI dan disajikan secara lebih sistematis.
Fenomena tersebut, kata Cak Udin, memunculkan sedikitnya tiga tantangan besar. Pertama, tantangan terhadap otoritas keagamaan.
Perkembangan AI memunculkan pertanyaan mengenai apakah otoritas pengetahuan agama akan tetap berada di bawah bimbingan ulama dan kiai atau justru bergeser kepada mesin yang mampu menyajikan informasi secara instan.
Kedua, tantangan etika dan hakikat kemanusiaan. Meski AI merupakan hasil ciptaan manusia, perkembangan teknologi ini dinilai berpotensi memengaruhi cara manusia memandang etika, spiritualitas, dan relasi kemanusiaan.
Ketiga, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat pelayanan dan kehidupan beragama, bukan sebagai pengganti agama maupun pemuka agama.
AI dapat membantu menyediakan referensi, data, dan literatur secara cepat, tetapi tidak dapat menggantikan peran sanad keilmuan, keteladanan, pembinaan spiritual, maupun bimbingan para guru, ulama, dan tokoh agama.
"AI bisa menghadirkan referensi dan data yang lengkap. Tetapi AI tetap hanya alat bantu. AI tidak akan bisa menggantikan peran guru rakyat, guru bangsa, maupun para guru yang membimbing umat dengan keteladanan dan sanad keilmuan," pungkasnya.