Berita

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Politik

Golkar Tuntaskan Kajian Putusan MK, Siap Bahas Revisi UU Pemilu

RABU, 15 JULI 2026 | 19:39 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Partai Golkar mengklaim telah menuntaskan kajian terhadap seluruh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang berkaitan dengan Undang-Undang Pemilu. 

Hasil kajian itu disiapkan sebagai bekal pembahasan revisi UU Pemilu yang hingga kini belum juga dimulai.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengatakan, partainya bahkan telah membentuk tim kajian politik sejak satu setengah tahun terakhir untuk menyusun berbagai rekomendasi dan opsi perubahan UU Pemilu.


"Kalau di Golkar, sebenarnya kami 1,5 tahun terakhir ini sudah bentuk tim, tim kajian politik, dan kami juga sudah punya rekomendasi, opsi-opsi tentang konsep perubahan dari undang-undang atau revisi undang-undang pemilu itu," kata Doli di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu, 15 Juli 2026. 

Menurut dia, kajian tersebut mencakup seluruh putusan MK, termasuk putusan yang menghapus ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold.

"Semua putusan Mahkamah Konstitusi itu sudah kami kaji, dan kami juga sudah punya pandangan, pendapat, konsep-konsep yang baru berkaitan dengan soal perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk juga perubahan dari Mahkamah Konstitusi," ujarnya.

Ia menjelaskan, tim kajian Golkar memetakan seluruh permohonan judicial review yang pernah diajukan ke MK, mulai dari putusan yang dikabulkan maupun ditolak. Selain itu, tim juga menghimpun berbagai masukan dari para narasumber yang diundang Komisi II DPR RI dalam pembahasan kepemiluan.

Meski demikian, Doli menegaskan pembahasan resmi revisi UU Pemilu belum berjalan karena pemerintah belum menyampaikan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM).

"Undang-undang ini belum dibahas. Itu yang saya berkali-kali dorong supaya undang-undang ini segera dibahas, supaya kita bisa mengetahui apa pandangan pemerintah melalui DIM-nya, apa pandangan dari masing-masing partai politik, dan sebagainya," jelasnya.

Terkait konsep pengganti presidential threshold, Doli belum mengungkapkan formulanya secara rinci. Menurutnya, putusan MK tidak hanya menghapus ambang batas pencalonan presiden, tetapi juga memerintahkan adanya rekayasa konstitusional agar jumlah pasangan calon tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak.

"Kalau kami menariknya pada proses awal berkaitan dengan mulai dari verifikasi partai politik peserta pemilu," pungkasnya.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya