Berita

Presiden Prabowo Subianto dan dan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka. (Foto: istimewa)

Politik

Kehadiran Gibran Masih Sulit Diterima Masyarakat Luas

RABU, 15 JULI 2026 | 15:14 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai masih menghadapi persoalan penerimaan di tengah masyarakat.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official mengatakan, Gibran sulit diterima publik sehingga turut memengaruhi kalkulasi politik menjelang Pemilihan Presiden 2029.

“Ada kesan yang saya baca bahwa Gibran ini susah diterima publik. Saya kira kesan itu cukup kuat di tengah masyarakat,” kata Ray dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official, Rabu, 15 Juli 2026.


Posisi Gibran saat ini juga tidak dapat dipisahkan dari Presiden Prabowo Subianto. Keduanya cenderung dilihat publik sebagai satu paket pemerintahan. Karena itu, kritik atau penilaian negatif yang diarahkan kepada Prabowo dinilai kerap ikut berimbas kepada Gibran sebagai wakil presiden.

Ray membandingkan situasi tersebut dengan hubungan Presiden Soeharto dan Wakil Presiden BJ Habibie pada penghujung era Orde Baru.

Menurut dia, ketika masyarakat mendesak Soeharto mundur, tuntutan tersebut tidak otomatis diarahkan kepada Habibie. Setelah Soeharto mengundurkan diri, Habibie kemudian melanjutkan pemerintahan sebagai presiden.

“Ketika Pak Harto diminta mundur, tuntutan itu belum tentu ditujukan juga kepada Pak Habibie. Situasinya berbeda dengan Prabowo dan Gibran sekarang,” kata Ray.

Persoalan penerimaan publik itu, menurut Ray, membuat Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang merupakan ayahanda Gibran mulai menyiapkan sejumlah skenario politik bagi anaknya.

“Analisis saya, Pak Gibran hanya mempunyai peluang sekitar 30 persen untuk kembali digandeng Pak Prabowo pada 2029,” kata Ray.

Menurut Ray, angka tersebut masih dapat berubah seiring perkembangan politik dalam beberapa tahun mendatang. Peluang Gibran dapat meningkat, tetapi juga dapat semakin mengecil.

“Tiga puluh persen bisa dianggap tinggi untuk saat ini. Namun, kita belum tahu apakah angkanya akan semakin tinggi atau justru semakin menurun seiring waktu,” tandasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Prabowo Instruksikan Harga Minyak Nonsubsidi Turun Ikuti Harga ICP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:57

Gerakan Koperasi Kerakyatan Soemitro Didorong Jadi Syarat Seleksi Manajerial KDMP

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:46

Merawat Konstitusi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:42

DKI-Bali Perkuat Kerja Sama, Obligasi Daerah Jadi Bahasan Utama

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:34

Tak Benar soal Surpres Pergantian Kapolri

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:31

Gagah saat Malak, Mendadak Ingat Anak-Istri Waktu Mau Dipecat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:25

Harus Ada Langkah Konkret Atasi Kerugian Peternak Ayam Akibat Pemadaman Listrik

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:23

Prabowo Lepas Kepulangan PM Tailan dari Lanud Halim

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:20

Jalur Wisata Bromo Ditutup Total Gegara Kebakaran Hutan di TNBTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:11

IHSG Terbang 1,37 Persen ke 6.319

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:44

Selengkapnya