Wakil Sekretaris Jenderal Depinas SOKSI, Rouli Rajagukguk. (Foto: istimewa)
Pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Yevri Sitorus terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuai tanggapan dari Wakil Sekretaris Jenderal Depinas SOKSI, Rouli Rajagukguk.
Rouli menilai kritik yang disampaikan elite partai politik sebaiknya tetap mengedepankan etika, argumentasi yang berbasis data, serta menghindari penggunaan diksi yang berpotensi merendahkan pihak lain.
Menurutnya, penggunaan istilah seperti "bolu ketan" dalam kritik politik tidak mencerminkan komunikasi politik yang sehat.
"Penggunaan diksi seperti 'bolu ketan' oleh seorang pejabat tinggi partai selevel Ketua DPP PDIP adalah tanda degradasi etika kepemimpinan yang sangat memalukan. Ini bukan kritik substantif, melainkan pembunuhan karakter dengan cara merundung (bullying) secara pengecut," ujar Rouli.
Rouli juga mengingatkan pentingnya pendidikan politik di internal partai agar para kader lebih mengedepankan argumentasi dibanding serangan personal.
"Saya mempertanyakan standar kepemimpinan dan komunikasi publik yang diajarkan oleh Megawati Soekarnoputri kepada kadernya. Kegagalan mendidik kader untuk berpolitik dengan basis data dan argumentasi, bukan makian dan asumsi, adalah bukti kemunduran PDIP," katanya.
Selain itu, Rouli menilai PDIP sebaiknya lebih dahulu melakukan pembenahan internal sebelum melontarkan tudingan kepada pihak lain. Ia kemudian menyinggung sejumlah kasus hukum yang pernah menyeret kader PDIP, termasuk perkara Harun Masiku yang hingga kini masih menjadi buronan.
"Perlu saya ingatkan kembali, Megawati bukanlah pemimpin yang bersih-bersih amat, kasus Harun Masiku, kader PDIP yang buron dalam kasus suap komisaris KPU yang tak pernah bisa ditangkap. Di mana komitmen Megawati dalam memberantas korupsi saat kadernya sendiri menjadi simbol korupsi yang memalukan?" ujarnya.
Rouli berpandangan, kritik politik akan lebih dipercaya publik apabila dibarengi dengan konsistensi dalam melakukan pembenahan di internal partai.
"Publik sudah sangat cerdas dan tidak akan mudah terprovokasi oleh narasi serangan politik murahan dan pengecut dari PDIP," pungkasnya.