Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Politik

Purbaya Ajak Masyarakat Jual Dolar dan Beli Saham

SELASA, 14 JULI 2026 | 19:59 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi bukti bahwa dunia internasional masih menaruh kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Menurut Purbaya, lembaga pemeringkat tersebut melihat adanya dukungan politik yang kuat antara pemerintah dan parlemen dalam menjalankan berbagai program prioritas. 

Selain itu, kondisi fiskal yang tetap terjaga dinilai menjadi salah satu alasan utama S&P mempertahankan sovereign credit rating Indonesia.


"Jadi mereka yakin juga dengan program yang bagus dengan dukungan parlemen, harusnya sih pemerintah kita akan bagus terus ke depan. Dan itu dilengkapi juga dengan data fiskal yang baik, sampai dengan timbulan semester kedua tahun ini, itu pasti dilihat oleh mereka," ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.

Ia menilai keputusan tersebut sekaligus membantah berbagai pandangan yang menyebut pemerintah menjalankan kebijakan fiskal secara agresif atau tidak hati-hati. 

Menurutnya, penilaian positif dari S&P menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal Indonesia tetap berada di jalur yang prudent.

"Ini menunjukkan bahwa fiskal kita amat baik, beda dengan yang ditunjukkan oleh para pengamat, katanya kita menjalankan fiskal secara brutal dan lain-lain," katanya.

"Jadi assessment S&P meruntuhkan tuduhan bahwa saya menjalankan fiskal tepat, Presiden menjalankan kebijakan fiskal yang maco. Jadi merupakan suatu pengakuan internasional bahwa kita bisa menjalankan fiskal dengan baik," sambungnya.

Menurutnya, penilaian dari lembaga tersebut penting karena muncul setelah Indonesia sempat diterpa berbagai sentimen negatif sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, mulai dari isu potensi penurunan peringkat kredit hingga kekhawatiran terhadap prospek ekonomi nasional.

Ia optimistis keputusan S&P akan memperbaiki sentimen di pasar keuangan, baik pasar saham, obligasi, maupun nilai tukar Rupiah. Untuk itu, bendahara negara itu mengajak masyarakat untuk segera menjual Dolar dan memborong saham.

"Harusnya ke depan sentimen negatif di pasar modal, di pasar obligasi maupun di nilai tukar Rupiah akan hilang dengan cepat. Jadi ke depan siap-siap beli saham, kalau punya dolar jual dolarnya," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya