Berita

Ilustrasi pergerakan saham. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

IHSG-Rupiah Kompak Rebound Usai S&P Pertahankan Peringkat Kredit RI

SELASA, 14 JULI 2026 | 18:05 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa sore, 14 Juli 2026. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup naik tipis 1,6 poin atau 0,03 persen ke level 6.039,

Volume transaksi tercatat mencapai 37 miliar saham dengan nilai Rp16 triliun dan frekuensi 2,8 juta kali. Kapitalisasi pasar turut meningkat menjadi Rp10.550 triliun.


Sebanyak 422 saham menguat, 206 saham melemah, dan 165 saham lainnya ditutup stagnan.

Sementara itu, mengacu pada data Bloomberg, Rupiah ikut ditutup menguat 18 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp18.091 per Dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan Rupiah dipicu oleh melemahnya Dolar AS di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Ibrahim, sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran menyusul memanasnya kembali konflik militer dengan Teheran. 

Di saat yang sama, Trump juga menyatakan Amerika Serikat (AS) akan mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk membiayai pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Selain itu, militer AS disebut mulai menerapkan blokade terhadap lalu lintas kapal yang berkaitan dengan Iran, meski kapal-kapal komersial dari negara netral tetap diizinkan melintas di jalur strategis tersebut.

Menurut Ibrahim, langkah tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi dunia.

"Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global," kata Ibrahim dalam riset hariannya.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pelaku pasar merespon positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

Ia menuturkan, lembaga pemeringkat internasional itu memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tiga tahun mendatang.

“Pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),” tuturnya.

Menurut Ibrahim, S&P menilai ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh kebijakan ekonomi makro yang dinilai prudent, serta rasio utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain yang memiliki peringkat kredit serupa.

Selain itu, S&P juga melihat kebijakan hilirisasi dan penguatan pengelolaan sumber daya mineral berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor sehingga menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi ke depan.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan S&P juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,6 persen pada kuartal I-2026 masih dibayangi volatilitas pasar keuangan selama semester pertama tahun ini. 

Pasar saham tercatat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasarnya, sementara nilai tukar Rupiah sempat melemah sekitar 7 persen terhadap Dolar AS.

Untuk prospek tahun ini, Ibrahim mengatakan S&P masih memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,1 persen, namun laju pertumbuhan diperkirakan akan lebih moderat pada kuartal-kuartal berikutnya.

"Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri," pungkas Ibrahim.


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya