Berita

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

JMSI: Masyarakat Pers Asia Perlu Bangun Narasi yang Otentik

SELASA, 14 JULI 2026 | 17:44 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Masyarakat pers di Asia dirasa perlu membangun narasi Asia yang kuat dan otentik di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Demikian antara lain disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, dalam pertemuan meja bundar media Asia Selatan dan Asia Tenggara yang diselenggarakan All China Journalists Association (ACJA) di Kunming, Yunnan, Selasa, 14 Juli 2026. 

Dalam kegiatan bertema “Bagaimana Membentuk Narasi Asia di Era Kecerdasan Buatan” delegasi Indonesia yang diwakili JMSI terdiri dari Penasihat JMSI Pusat Mursyid Sonsang, Utusan Bidang Luar Negeri Yophiandi Kurniawan, Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan, dan Ketua JMSI Kalimantan Tengah Julius Marulitua Sinaga, serta  pembina Farah.id, Farida Farhah. 


Mengawali sambutannya, Teguh menggarisbawahi hubungan yang mendalam antara Indonesia dan daratan Asia, khususnya dengan wilayah Yunnan. Dia mengatakan, Yunnan memiliki tempat istimewa dalam kesadaran sejarah masyarakat Indonesia.

Catatan sejarah menunjukkan nenek moyang bangsa Indonesia bermigrasi melalui wilayah selatan Tiongkok, termasuk Yunnan, menuju kepulauan Nusantara. Perjalanan panjang ini meletakkan fondasi awal bagi koneksi budaya dan kemasyarakatan yang kuat, serta membentuk warisan bersama yang masih lestari hingga saat ini.

Teguh juga mengenang sosok legendaris Laksamana Cheng Ho dari era Dinasti Ming di abad ke-15, yang juga berasal dari provinsi Yunnan. Bagi Indonesia, Cheng Ho bukan sekadar penjelajah, melainkan simbol persahabatan, diplomasi, dan jembatan antarkebudayaan yang membuktikan bahwa hubungan kedua bangsa telah terjalin selama berabad-abad melalui perdamaian dan perdagangan.

Dalam sesi tersebut, Teguh membagikan bukti ilmiah mengenai jejak leluhur keluarganya yang dia peroleh melalui serangkaian tes DNA. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa garis keturunan paternal dan maternalnya memiliki akar migrasi yang sangat panjang, sekitar 180 ribu sampai 275 ribu tahun, dari wilayah timur Afrika yang melintasi Asia hingga sampai ke Nusantara.

Dalam bagian berikutnya, Teguh mengatakan, inisiatif ACJA menyelenggarakan pertemuan di jantung provinsi Yunnan ini merupakan bukti komitmen nyata untuk memperkuat solidaritas media, baik di tingkat domestik maupun kawasan.

“Kehadiran pemimpin media dan organisasi media dari Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam forum ini mencerminkan semangat kolektif untuk terus memupuk dialog, kerja sama, dan pemahaman bersama demi masa depan Asia yang stabil dan inklusif,” ujarnya.

Karena itu Teguh menambahkan, pertemuan ini adalah momentum krusial bagi industri media dalam menghadapi tantangan transformasi teknologi yang tengah mengubah lanskap ekosistem informasi global secara radikal.

Ia mengingatkan, meskipun menyediakan perangkat analisis data yang canggih, teknologi AI ini juga berisiko mengaburkan perspektif regional yang unik akibat algoritma yang kerap diprogram dengan standar yang berpusat pada nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu, ia menyerukan agar narasi Asia harus dikurasi secara proaktif.

Teguh menekankan urgensi untuk menyematkan etika AI, nuansa nilai-nilai budaya lokal, serta realitas pembangunan regional ke dalam sistem digital yang membentuk persepsi publik. Dengan cara ini, Asia dapat memastikan bahwa teknologi tidak mengikis identitas unik kawasan dalam arus informasi global.

Lebih lanjut, ia menegaskan peran media sebagai jembatan narasi positif di tengah disrupsi informasi saat ini. Dengan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, ia meyakini bahwa kearifan masa lalu yang diwakili oleh semangat persaudaraan Laksamana Cheng Ho tetap akan relevan dalam era algoritma.

Prioritas Kolaborasi

Teguh menyoroti beberapa isu fundamental yang harus menjadi prioritas dalam kolaborasi media, yakni pembangunan nasional dan regional, kemitraan masyarakat sipil, keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hijau, serta stabilitas kawasan.

“Perdamaian bukan kondisi yang terjadi dengan sendirinya, melainkan harus dicapai melalui dialog terbuka. Media memiliki kekuatan besar untuk meredam potensi konflik dan mengedepankan narasi perdamaian yang menyejukkan,” tambahnya.

Karena di era AI pers harus menjadi garda terdepan sebagai penjaga kebenaran, Teguh  mengajak masyarakat pers Asia memanfaatkan teknologi guna memerangi penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian.

Teguh menegaskan bahwa masa depan digital Asia harus dibangun di atas fondasi transparansi, integritas, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan bersama bangsa Asia. Kemitraan media lintas batas adalah solusi terbaik untuk merespons tantangan zaman. Ia mengajak seluruh peserta forum di Kunming untuk saling bertukar gagasan dan memperkuat jaringan profesional.

Langkah ini penting dilakukan agar saat merangkul kecerdasan buatan, masyarakat pers melakukannya dengan syarat dan ketentuannya sendiri. Hal ini bertujuan memperkuat identitas regional kita dan tidak membiarkannya hilang tergerus oleh mesin.

Teguh berharap hasil pertemuan di Kunming akan menjadi langkah konkret bagi perkembangan media di kawasan Asia. Harapannya, lahir rekomendasi yang mampu membawa perubahan nyata bagi ekosistem media yang lebih sehat di masa depan. 

Dengan semangat kebersamaan yang terjalin di Kunming, ia optimis bahwa kolaborasi ini akan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat di seluruh penjuru Asia dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya