Berita

Salim. M. Phill. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Kunming: Ketika Sejarah Menantang Dua Peradaban

MINGGU, 12 JULI 2026 | 03:28 WIB

KUNMING, ibu kota Provinsi Yunnan, hari ini berdiri tegak sebagai simbol metamorfosis radikal. Di kota yang dulu dianggap sebagai gerbang pedalaman Tiongkok ini, kereta cepat melesat, teknologi hijau terintegrasi, dan kemiskinan ekstrem telah disapu bersih. 

Ironisnya, sejarah mencatat bahwa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945--empat tahun lebih awal sebelum Mao Zedong mendeklarasikan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949. Namun hari ini, lintasan sejarah kedua peradaban ini tampak terbalik secara tragis.

Tiongkok telah melejit menjadi kekuatan superpower baru, menyisakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya lawan tanding yang sepadan di panggung global. Dominasi militer, lompatan teknologi kecerdasan buatan, dan ledakan ekonomi mereka bukan lagi sekadar ambisi, melainkan realitas absolut. Mengejar Tiongkok hari ini tampaknya telah menjadi hilal yang mustahil bagi Indonesia.


Mengapa peradaban kita tertinggal? Filsuf Ibnu Khaldun dalam teori Ashabiyah mengingatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa runtuh ketika solidaritas sosial membusuk akibat egoisme para penguasa yang hanya sibuk menimbun harta. 

Di Indonesia, panggung politik setiap hari hanyalah sirkus perebutan kekuasaan. Ketika memimpin, ambisinya bukan menyejahterakan rakyat, melainkan melanggengkan dinasti dan memperkaya diri. Layar kaca dan media sosial kita setiap hari disesaki komedi getir: penangkapan korupsi yang tak kunjung usai dan cibiran netizen yang tak mengubah apa-apa, sementara rakyat jelata semakin terhimpit kesengsaraan.

Kita sering kali terjebak dalam delusi moral. Bangsa ini gemar mengolok-olok kaum komunis di Tiongkok sebagai peradaban "tak bertuhan". Namun, mari bercermin dengan jujur: apa gunanya label beragama jika moral manusianya bejat dan penuh kemunafikan? 

Tiongkok yang mereka sebut sekuler justru berhasil menegakkan keadilan sosial dan mengentas ratusan juta rakyat dari kemiskinan. Sementara kita, yang merasa paling suci, justru mengkhianati nilai-nilai ketuhanan itu melalui korupsi yang terstruktur dan penindasan terhadap kaum lemah.

Apakah masih ada harapan? Harapan itu ada, bukan untuk bersikap utopis menyaingi hegemoni global Tiongkok, melainkan untuk menuntut hal paling mendasar: kesejahteraan dan keadilan sosial yang riil. Indonesia harus bangun dari tidur panjangnya. Kita tidak butuh jargon-jargon agama yang dijadikan topeng politik. Yang kita butuhkan adalah revolusi moralitas dan kepemimpinan yang radikal.

Sejarah tidak pernah memihak pada bangsa yang malas dan munafik. Jika kita tidak segera berhenti bertengkar demi remah-remah kekuasaan, Indonesia hanya akan menjadi catatan kaki dari kebesaran peradaban lain yang pernah membentang di Asia. Saatnya bertindak, atau bersiap punah dalam ketertinggalan.

Salim. M. Phill
Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doktor Universitas Airlangga



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya