"The pictures in our heads." Begitulah Walter Lippmann menjelaskan dalam Public Opinion (1922) bahwa manusia sering kali bereaksi bukan terhadap kenyataan itu sendiri, melainkan terhadap gambaran yang telah terbentuk di dalam pikirannya.
KETIKA sebuah narasi terus diulang dan diperkuat oleh lingkungan yang memiliki pandangan serupa, narasi itu perlahan dianggap sebagai kebenaran, meskipun belum tentu seluruhnya didukung oleh fakta.
Seratus tahun kemudian, teori tersebut terasa sangat relevan dengan suasana Piala Dunia 2026 di Indonesia. Kalau ada yang bertanya apa yang paling panas selama turnamen berlangsung, jawabannya mungkin bukan cuaca di Amerika Utara, melainkan kolom komentar media sosial Indonesia.
Suasananya benar-benar menyerupai musim Pilpres. Ada kubu-kubu yang saling membela, ada "tim sukses" yang siap menyerang siapa saja yang berbeda pendapat, bahkan ada "pengamat dadakan" yang mendadak menjadi ahli Laws of the Game setelah peluit panjang berbunyi.
Perdebatan tidak lagi sebatas soal taktik, strategi, atau kualitas permainan. Yang lebih sering muncul justru tuduhan bahwa Argentina adalah "anak emas FIFA".
Setiap keputusan wasit atau VAR yang dianggap menguntungkan Argentina langsung dijadikan bukti adanya konspirasi. Sebaliknya, keputusan yang merugikan Argentina sering kali tidak mendapat perhatian yang sama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak penikmat sepak bola yang belum sepenuhnya memahami penerapan
Laws of the Game, khususnya mengenai penggunaan VAR.
Aturan permainan tersebut disusun oleh IFAB dan diterapkan dalam seluruh kompetisi resmi FIFA. Padahal VAR bukan teknologi yang memeriksa semua pelanggaran.
Protokolnya hanya berlaku untuk empat situasi utama, yaitu gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain.
Bahkan setelah mendapat rekomendasi dari VAR, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit. Dengan kata lain, VAR adalah alat bantu, bukan "penentu juara".
Dalam psikologi dikenal istilah confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang lebih mudah menerima informasi yang menguatkan keyakinannya dibandingkan fakta yang bertentangan.
Ketika seseorang sejak awal percaya bahwa Argentina adalah "anak emas FIFA", maka setiap keputusan yang menguntungkan Argentina akan dianggap sebagai bukti.
Sebaliknya, keputusan yang merugikan Argentina cenderung diabaikan. Di sinilah opini sering kali berkembang lebih cepat daripada pemahaman terhadap aturan permainan.
Fenomena tersebut juga sejalan dengan penjelasan Daniel Kahneman dalam
Thinking, Fast and Slow.
Kahneman membedakan cara berpikir manusia ke dalam dua sistem. Sistem 1 bekerja cepat, intuitif, dan dipengaruhi emosi, sedangkan Sistem 2 bekerja lebih lambat, analitis, dan berbasis evaluasi.
Dalam perdebatan sepak bola di media sosial, respons terhadap keputusan wasit sering kali muncul melalui System 1, sehingga kesimpulan terbentuk lebih dahulu daripada upaya memahami aturan permainan secara utuh.
Narasi tersebut bahkan sudah berkembang sebelum Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar. Setelah Belanda, Jerman, dan Portugal tersingkir lebih awal, berbagai analisis bermunculan.
Ada yang menyoroti persoalan strategi, efektivitas penyelesaian akhir, hingga kemampuan membaca permainan lawan. Namun di media sosial Indonesia, sebagian pendukung justru membangun narasi lain: Argentina dianggap memperoleh perlakuan istimewa dari FIFA. Narasi inilah yang kemudian terus mengikuti perjalanan Argentina hingga babak gugur.
Padahal jika melihat perjalanan Argentina sejak fase grup, anggapan bahwa mereka mendapat jalan mudah tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta.
Argentina tergabung di Grup J bersama Aljazair, Austria, dan Yordania. Sekilas grup ini memang terlihat tidak terlalu berat. Namun jika melihat kualitas pemainnya, penilaian tersebut terlalu menyederhanakan kenyataan.
Aljazair memiliki generasi pemain yang berpengalaman di kompetisi elite Eropa, seperti Riyad Mahrez, Mohamed Amoura, Ramy Bensebaini, dan Ismaël Bennacer. Terlepas dari komposisi skuad akhirnya, kualitas individu pemain-pemain tersebut menunjukkan bahwa Aljazair bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Austria juga memiliki generasi pemain yang tampil di klub-klub papan atas Eropa, seperti David Alaba, Konrad Laimer, Marcel Sabitzer, dan Christoph Baumgartner. Hal ini menggambarkan kualitas sepak bola Austria yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara Yordania memang tidak sebesar dua lawannya, tetapi mereka memiliki Mousa Al-Taamari yang pernah bermain di Ligue 1 Prancis, serta Yazan Al-Naimat, dan datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menjadi finalis Piala Asia 2023.
Semua itu menunjukkan bahwa sepak bola modern telah berubah. Nama besar negara tidak lagi otomatis menentukan mudah atau sulitnya sebuah pertandingan. Hampir semua peserta Piala Dunia kini memiliki pemain yang tersebar di liga-liga elite Eropa, didukung sport science, analisis data, dan organisasi permainan yang semakin baik.
Pandangan meremehkan kembali muncul ketika Argentina menghadapi Cape Verde (Tanjung Verde) di babak 32 besar. Banyak yang menganggap pertandingan itu hanya formalitas. Padahal Cape Verde merupakan salah satu kisah sukses perkembangan sepak bola Afrika.
Meski berpenduduk kurang dari satu juta jiwa, mereka memiliki banyak pemain yang berkembang di kompetisi Eropa dan dikenal memiliki pertahanan disiplin serta transisi menyerang yang cepat.
Rekam jejak mereka pun membuktikan kualitas tersebut. Pada 2010 mereka menahan Portugal 0-0, lalu pada 31 Maret 2015 secara mengejutkan mengalahkan Portugal 2-0 melalui gol Odair Fortes dan Gegé. Artinya, Portugal yang diperkuat pemain-pemain kelas dunia saja pernah gagal mengalahkan, bahkan pernah dikalahkan Cape Verde.
Karena itu, ketika Argentina harus bekerja keras melewati mereka, hal tersebut lebih tepat dipahami sebagai bukti meningkatnya kualitas lawan daripada sebagai tanda bahwa Argentina mendapat jalur yang mudah.
Puncak kontroversi kemudian terjadi ketika Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, media sosial sudah dipenuhi komentar yang meyakini bahwa apa pun keputusan wasit nantinya pasti akan menguntungkan Argentina.
Dalam situasi seperti itu, hampir setiap keputusan VAR langsung ditafsirkan sebagai keberpihakan, bukan sebagai bagian dari prosedur pertandingan.
Padahal jika melihat sejarah, kemenangan Argentina atas Mesir bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Berdasarkan catatan FIFA, RSSSF, serta berbagai arsip pertandingan yang juga dirangkum oleh TyC Sports, Argentina memiliki rekor yang jauh lebih baik ketika menghadapi Mesir.
Di level senior, Argentina menang 7-0 pada semifinal Olimpiade Amsterdam 1928 dan kembali menang 2-0 dalam laga persahabatan di Kairo pada 26 Maret 2009 melalui gol Sergio Agüero dan Nicolás Burdisso, ketika Lionel Messi tidak bermain karena mengalami cedera.
Dominasi tersebut juga tampak dalam berbagai pertemuan di level kelompok umur. Berdasarkan arsip kompetisi FIFA, Argentina mengalahkan Mesir 7-0 pada Piala Dunia U-20 2001, menang 2-1 pada edisi 2003, kembali menang 2-0 pada Piala Dunia U-20 2005 melalui gol Lionel Messi dan Pablo Zabaleta, serta menang 2-1 pada babak 16 besar Piala Dunia U-20 2011.
Pertemuan terakhir kedua negara terjadi pada Olimpiade Tokyo 2020 ketika Argentina kembali menang 1-0 melalui gol Facundo Medina.
Tentu saja sejarah tidak pernah menjamin hasil pertandingan berikutnya. Sepak bola selalu menyimpan ruang bagi kejutan.
Namun sejarah memberikan konteks. Ketika satu tim memiliki catatan dominan selama puluhan tahun atas lawannya, kemenangan mereka tidak dapat serta-merta dianggap sebagai hasil konspirasi.
Bukan berarti FIFA, VAR, atau wasit tidak pernah melakukan kesalahan. Sejarah sepak bola mencatat banyak keputusan kontroversial. Teknologi VAR pun masih memiliki keterbatasan.
Namun mengkritik keputusan wasit berbeda dengan menuduh adanya skenario besar tanpa didukung bukti yang memadai. Kritik dibangun di atas argumentasi dan pemahaman terhadap aturan. Sebaliknya, teori konspirasi sering kali lahir dari prasangka yang lebih dahulu dipercaya.
Mungkin inilah ironi terbesar Piala Dunia 2026 di Indonesia. Di negara yang begitu mencintai sepak bola, perdebatan justru lebih banyak dipenuhi teori konspirasi daripada diskusi mengenai taktik,
pressing, build-up, transisi permainan, atau penerapan Laws of the Game. Kita begitu sibuk mencari "dalang", sampai lupa menikmati kualitas permainan yang tersaji di lapangan.
Kalau semua kemenangan Argentina selalu dianggap karena FIFA, lalu kapan kita mulai mengakui bahwa mereka memang bermain sepak bola dengan baik? Sebaliknya, jika suatu hari Argentina kalah, apakah itu berarti FIFA tiba-tiba berhenti mendukung mereka?
Piala Dunia semestinya mengajarkan satu hal yang sederhana: fanatik kepada tim kesayangan adalah sesuatu yang wajar, tetapi fanatisme tidak boleh mengalahkan fakta. Berdebat tentu sah, bahkan menjadi bagian dari kemeriahan sepak bola.
Namun akan jauh lebih sehat jika perdebatan dibangun di atas data, sejarah, dan pemahaman terhadap aturan permainan. Sebab ketika fakta dikalahkan oleh narasi, yang kalah bukan hanya satu tim, melainkan kualitas diskusi sepak bola kita sendiri.
*Pemain Bola Kampung