Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Hukum Mati Koruptor: Brankas Cafe De'Clan dan Kisah Chinatown

JUMAT, 10 JULI 2026 | 06:32 WIB

CIPETE, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026, terjadi adegan laga ala drama film aksi. Tapi ini bukan shooting film. Puluhan Brimob bersenjata lengkap mengepung sebuah cafe. Polisi menyerbu ke lantai dua, menggeser lemari kayu, dibaliknya tersembunyi brankas besar. Ada uang tunai, dolar Singapura dan Amerika, senilai lebih dari 67 miliar rupiah. Selain Cafe de'Clan, sehari kemudian, ada 12 lokasi lain yang diserbu-geledah, dan berhasil menyita uang  dan emas batangan total bernilai Rp543 miliar.  

Nama Cafe de'Clan, menandakan identitas komplotan. Klan adalah kelompok kekerabatan besar yang dipersatukan oleh garis keturunan, atau kepentingan. Drama penyerbuan Cafe de'Clan berbalas penyerbuan tandingan. Sebanyak 50 orang berseragam TNI mendatangi kantor  Polda Metro Jaya keesokan harinya, infonya untuk membebaskan salah satu saksi yang ditangkap. Di balik drama saling-serbu antar-aparat ini ada latar kisah mirip  Chinatown,  film noir klasik tentang korupsi aparat kekuasaan. 

Penyelidikan yang semula bermaksud untuk mengungkap perselingkuhan seorang pejabat, membuka persekongkolan besar terkat manipulasi layanan air, mafia tanah, korupsi politik, dan penyalahgunaan hukum dan kekuasaan. Jejaring konspirasi kekuasaan yang tak terlihat atau tersentuh. Dalam drama Cafe de"Clan, Kepolisian menyelidik penyelidik Kejaksaan.


Drama Cafe de'Clan, menurut keterangan resmi kepolisian, adalah penyelidikan terkait tiga perkara. Dugaan korupsi pengadaan batu bara PLN yang berujung pemadaman listrik massal di Sumatera, kasus korupsi PT Asabri dan Jiwasraya, serta sengketa utang dua perusahaan. Tiga perkara yang berbeda persoalannya, tetapi menyatu di satu titik koordinat: sebuah kafe dan kios money changer di sebelahnya. Juga menyatu dalam personifikasi Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Jampidsus Febrie disebut-sebut ikut memiliki, atau terkait, dengan pengelolaan Cafe de'Clan dan kios money changer itu. Ia sebelumnya dikenal menangani berbagai skandal korupsi besar yang melibatkan "orang-orang besar", dengan nilai korupsi fantastis, lima tahun terakhir. Dari korupsi tata kelola timah (senilai 300 triliun); korupsi fasilitas kredit PT Bank Tabungan Negara (279 triliun); korupsi PT Asabri (23 triliun);  korupsi PT Asuransi Jiwasraya (17 triliun); hingga korupsi BTS Kominfo (8 triliun).

Jampidsus Febrie pernah menjadi Pusat pemberitaan, pada Mei 2024, ketika ia dikuntit oleh aparat polisi Densus 88 dan hendak ditangkap dalam kaitan skandal korupsi tata kelola timah yang ia tangani. Sejak saat itu ia selalu dikawal, termasuk rumahnya selalu dijaga, oleh aparat TNI. Ia menjadi "epicentrum"  gesekan perselisihan antara institusi Kepolisian dan Kejaksaan. Inilah ironi paling telanjang, dua institusi aparat hukum yang semestinya saling bahu-membahu, berkoordinasi, bekerjasama mengawasi dan menjaga Indonesia, justru berselisih soal kasus korupsi. Oknum aparatnya yang semestinya menjadi instrumen untuk memberantas korupsi, justru bersaing menjadi tameng kasus korupsi.

Dalam film Chinatown, skandal korupsi yang terungkap adalah layanan air bersih di kota Los Angeles. Korupsi infrastruktur bayangan yang beroperasi paralel dengan infrastruktur negara. Dalam drama Jampidsus Febrie, Cafe de'Clan dengan brankas dan kios money changer,  adalah  "infrastruktur korupsi" versi Jakarta. Saluran untuk mencuci hasil rasuah menjadi uang bersih.

Dalam film Chinatown, tokoh protagonis utama adalah Jake Gittes, detektif swasta yang menyelidiki skandal korupsi. Dalam drama Cafe de'Clan polisi menyelidiki kiprah Jampidsus Febrie yang notabene adalah "detektif" kejaksaan. Menyelidiki penyelidik kasus-kasus besar korupsi. Ia yang mestinya protagonis kini menjadi antagonis. Penyelidik yang menjadi "rising star" kini justru menjadi target penyelidikan kepolisian.

Chinatown, karya sutradara Roman Polanski (1974), berakhir dengan keputusasaan. Film yang mengritik situasi korup Amerika pasca-skandal Watergate. Kekuasaan korup menang karena hukum dan aparatnya korup. "Forget it, Jake. It's Chinatown" menjadi ungkapan ikonik kekalahan. Pengakuan bahwa pada titik tertentu, hukum dan kebenaran tak akan berarti di hadapan struktur kekuasaan, dan aparat hukum, yang menjadi aktor state captured corruption.

Jakarta adalah "Chinatown" yang menunggu brankas-brankas terbuka  Brankas Cafe de'Clan  bukan sekadar kisah tentang uang 67 miliar, atau money changer. Ia adalah metafor tentang bagaimana korupsi telah merasuk menjadi "negara yang terjerembab dalam korupsi". Ketika jejaring kekuasaan, penegak hukum, bisnis, dan patronase politik saling bertaut sehingga batas antara pelindung dan pelanggar hukum sangat kabur.

Chinatown memperlihatkan bahwa air mengalir menuju kekuasaan yang tak tersentuh. Brankas Cafe de'Clan mengingatkan, uang korupsi pun mengikuti gravitasi yang sama, mengalir ke ruang-ruang yang dilindungi oleh prosedur, relasi, dan impunitas. Ketika aparat negara dan kepentingan ekonomi berkelindan menjadi organisme yang sama, dan korupsi berlaku menjadi modus operandi

Persoalan sesungguhnya bukanlah siapa pemilik satu brankas, melainkan apakah republik ini masih memiliki institusi yang mampu membuka brankas-brankas ruang gelap kekuasaan korup, siapa pun yang berdiri di belakangnya? Atau, seperti ungkapan film Chinatown, "Lupakan saja, Febrie. Ini Jakarta."

Lukas Luwarso

Wartawan senior

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya