Berita

Ilustrasi. (Foto: Financial Times)

Publika

Si Vis Pacem Para Bellum Perang AS-Iran

KAMIS, 09 JULI 2026 | 04:27 WIB

BARU saja komunitas global menarik napas lega dan berharap ada secercah perdamaian yang bisa dianggit dari penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 18 Juni lalu, bentrok kekuatan militer kembali pecah di antara kedua belah pihak dalam  beberapa hari terakhir. Presiden AS, Donald Trump, mengambil sikap emosional dengan menyebut bahwa kesepakatan damai tersebut telah berakhir. 

Perdamaian antara AS dan Iran sejatinya adalah perdamaian yang rapuh karena masih dominannya rasa saling curiga dan perbedaan kepentingan nasional secara mendasar. Maka tak heran, situasi yang mereka namakan sebagai gencatan senjata atau perdamaian pada hakikatnya adalah si vis pacem para bellum atau masa bersiap untuk melanjutkan peperangan.  

Yang menjadi muasal bentrok di antara kedua belah pihak adalah sikap Iran yang melakukan serangan rudal di Selat Hormuz terhadap kapal-kapal komersil milik Arab Saudi dan Qatar. Juru Bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, dalam keterangan persnya menyebut bahwa serangan tersebut adalah tindakan terukur yang sudah diperingatkan sebelumnya kepada kapal-kapal tersebut bahwa penggunaan rute tanpa koordinasi telah mengekspos diri mereka pada risiko dan menghalangi upaya Iran untuk memfasilitasi lalu lintas yang aman di Selat Hormuz. 


Argumentasi Iran ini cukup beralasan mengingat mereka adalah pemilik kedaulatan dan pengelola yang sah atas jalur sempit di antara dua pulau tersebut. Sayangnya, AS melalui Donald Trump menyikapinya secara emosional dengan melakukan serangan ke berbagai titik di Iran yang secara tidak langsung merobek komitmen perdamaian yang sudah disepakati sebelumnya.

Sikap AS Emosional dan Irasional

Sikap AS dalam menyikapi serangan Iran di Selat Hormuz bukan saja emosional, tapi juga irasional. Jika melakukan pencermatan dengan baik, Arab Saudi dan Qatar selaku pemilik kapal-kapal yang dirudal oleh Iran sudah pasti berang dengan serangan tersebut. Namun, kedua negara bersikap lebih cermat dan hati-hati dengan meminta penjelasan secara logis terlebih dahulu atas pilihan sikap Iran, bukan dengan melakukan serangan militer balasan atau pemutusan hubungan diplomatik. Terlebih lagi serangan rudal Iran tersebut tidak menyebabkan korban jiwa--lebih cenderung serangan terukur untuk menghukum pelayaran tanpa koordinasi dengan otoritas yang berwenang. 

Hal ini sangat berbeda 180 derajat dengan pilihan sikap AS dengan melakukan serangan frontal kepada Iran yang menewaskan militer IRGC dan menjungkirbalikkan kesepakatan damai yang sudah ditandatangani bersama.

Merujuk pernyataan Komando Pusat AS (Centcom) yang dirilis di media sosial X, serangan militer yang dilakukan oleh AS terhadap puluhan target di Iran bukanlah serangan militer yang sifatnya insidental dan kasuistik dalam merespons klaim pelanggaran gencatan senjata terhadap Iran. 

Serangan militer AS yang menyasar sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, lokasi radar pesisir, rudal-rudal antikapal, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Iran baik yang berada di Selat Hormuz maupun di luar selat, menunjukkan serangan dilakukan secara terencana, sistematis, dan menunggu momen eksekusi yang tepat. Serangan ini secara vulgar menampilkan sikap banal AS dalam melakukan peperangan--merusak, menghancurkan, dan membunuh lebih banyak. Yang lebih disayangkan; menjauhkan AS dari spirit demokrasi dan perdamaian sebagaimana sering diklaim dalam jargon-jargon kampanye di seluruh dunia.

Tiga Faktor Perlemah Komitmen Perdamaian AS

Ada banyak faktor yang berkelit-kelindan di balik serangan AS ke Iran, yang mana faktor-faktor tersebut jauh lebih mendasar dan berpengaruh terhadap keputusan emosional AS ketimbang alasan sekadar melakukan serangan balasan atas sikap Iran. Pertama, terkait seremoni pemakaman pemimpin tertinggi Iran yang gugur oleh serangan AS pada 28 Februari silam, Sayyid Ayatullah Rohullah Ali Khamenei. Kedua, agitasi dan propaganda yang terus-menerus dilancarkan oleh Israel terhadap AS. Ketiga, sebagai unjuk kekuatan militer AS terhadap sekutunya di NATO yang mana serangan dilancarkan terhadap Iran ketika NATO masih melangsungkan pertemuan tingkat tinggi di Ankara, Turkiye. Ketiga alasan tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh Trump yang cenderung dilakukan secara sepihak tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang diterima dalam jangka panjang.

Pemakaman Ali Khamenei dilakukan secara gegap gempita oleh seluruh rakyat Iran dengan tidak mengurangi kekhidmatan dan kekhusyukan mereka dalam mengiringi kepergian imam tertinggi mereka tersebut. Jasad Khamenei beserta keluarganya diarak di tiga kota besar Iran--Tehran, Qom, dan Najaf--untuk memberikan kesempatan kepada rakyat Iran memberikan penghormatan terakhir mereka. 

Prosesi pemakaman juga akan dihadiri oleh para kepala negara dan delegasi tingkat tinggi dari negara-negara sahabat seperti Armenia, Pakistan, Qatar, Oman, hingga Rusia dan Tiongkok yang menjadi mitra paling strategis dan sekutu Iran. Ada pesan politis yang hendak disampaikan Iran dari pemakaman ini, yakni betapa solid dan setianya rakyat Iran terhadap pemimpinnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Trump di AS yang mendapatkan penolakan luas hingga kecaman dari publik domestik AS. Gegap-gempitanya pemakaman Ali Khamenei menimbulkan efek psikologis tersendiri kepada Trump. Trump bahkan terpancing melontarkan ancaman untuk menghabisi seluruh pemimpin Iran dalam satu kali serangan pada prosesi pemakaman tersebut.

Agitasi dan propaganda secara terus-menerus yang dilakukan oleh Benjamin Netanyahu dan para pelobi Zionis juga turut mempengaruhi secara signifikan cara pandang Trump terhadap kesepakatan damai yang sudah ditandatangani bersama. Media-media Barat banyak yang memberitakan keretakan hubungan antara Trump-Netanyahu pasca kesepakatan damai. Namun seperti yang jamak diketahui, Netanyahu dan kelompok Zionis adalah pelobi ulung. 

Lobi-lobi mereka terhadap Trump bahkan tidak hanya menyoal isu jangka pendek antara AS-Iran saja, tapi juga telah memetakan potensi ancaman dari Turkiye terhadap keamanan Israel. Di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turkiye, pada 7-8 Juli 2026, Netanyahu masih sempat melobi Trump untuk tidak menjual F-35 ke Turki. Dalam pemikiran Netanyahu dan para komandan militer Israel, Turkiye memiliki kapasitas militer yang lebih besar dan tangguh dalam melenyapkan Israel di masa mendatang.

Alasan lainnya yang cukup krusial yang melatarbelakangi sikap AS yang melakukan serangan brutal ke Iran adalah upaya cek ombak (testing the water) terhadap respons dari negara-negara sekutu di NATO yang saat ini sedang melangsungkan pertemuan tingkat tinggi. Ada dua agenda yang dibawa secara implisit oleh AS dalam pertemuan dua hari tersebut. 

Pertama, upaya untuk memastikan dukungan penuh NATO terhadap agresi militer AS di Iran yang sebelumnya ditolak oleh negara-negara sekutu. Kedua, upaya untuk mendorong negara-negara sekutu agar menaikkan anggaran militer pada ambang batas yang relevan dengan pengeluaran dan pengorbanan AS bagi Eropa. Agenda yang dibawa oleh AS ini cenderung berjalan sesuai ekspektasi. NATO mulai berbalik memberikan dukungannya yang tercermin dari pernyataan-pernyataan pers Sekjen NATO, Mark Rutte. Selain itu, negara-negara NATO seperti Perancis, Inggris, Jerman juga berkomitmen untuk menaikkan anggaran militernya agar selaras dengan komitmen payung keamanan militer yang diberikan AS di Eropa.

Habitus Dasar Si Vis Pacem Para Bellum

Terlepas dari ketiga faktor yang mempengaruhi tersebut, perubahan sikap Trump yang cenderung berayun dalam menyikapi kesepakatan damai dengan Iran pada taraf yang lebih mendasar adalah persepsi si vis pacem para bellum yang dimiliki. Doktrin militer dari Publius Flavius Vegetius Renatus ini akan terus mendesak kognitif para pengambil keputusan militer AS untuk terus siaga menarik pelatuk meskipun telah berada dalam kondisi gencatan senjata dan bahkan perdamaian. 

Sikap serupa juga berlaku terhadap Iran. Iran yang saat ini sedang disibukkan oleh pemakaman pemimpin tertinggi mereka tidak serta-merta dalam posisi lengah dan rentan untuk diserang. IRGC bahkan menyiapkan benteng keamanan yang berlapis-lapis dan lebih tebal ketimbang situasi perang normal. Ketika AS melakukan serangan atas klaim pelanggaran kesepakatan yang lebih dahulu dilakukan oleh Iran, Iran langsung merespons cepat dengan menembakkan rudal ke lebih dari 85 fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Belum ada yang bisa memprediksi secara akurat kapan perdamaian AS dan Iran bisa dicapai. Selama masih ada intensi untuk mencapai kepentingan nasional sendiri dengan menegasikan kepentingan nasional pihak lain, selama masih ada intensi untuk menunjukkan superioritas sendiri terhadap bangsa lain, maka perang hanya tinggal menunggu waktu untuk berkecamuk. Apapun penamaan terhadap situasi yang berlaku--gencatan senjata, perdamaian sementara--sejatinya adalah masa bersiap untuk peperangan. Si vis pacem para bellum.

Boy Anugerah
Mantan Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI/Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional, Geopolitik, dan ESDM DPR RI/Founder dan Peneliti Utama Senayan Geopolitical Forum (SGF)




Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya