Berita

Aldo Riski Saputra, Siswa kelas 2 SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Jawa Timur. (Foto: Humas Kemensos)

Nusantara

Kisah Siswa Sekolah Rakyat Bekerja Tukang Las Bermimpi ke Jepang

JUMAT, 26 JUNI 2026 | 10:51 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Aroma besi terbakar dari ujung stang las pernah menjadi dunia sehari-hari bagi Aldo Riski Saputra. Siswa kelas 2 SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Jawa Timur tersebut kini mulai menata kembali kehidupannya.

Usia Aldo baru menginjak 16 tahun, namun ia akrab dengan kerasnya dunia kerja. Tangannya cekatan menyatukan besi, membuat pagar, relik, kanopi, hingga rak makanan. 

Namun, di balik keahliannya, pernah ada cerita tentang jalan berliku, salah pergaulan, dan keputusan besar untuk berbalik arah demi masa depan.


Dua tahun lalu, saat duduk di kelas 2 SMPN 2 Sampung, Ponorogo, langkah Aldo sempat goyah. Lingkungan pergaulan yang salah membuatnya sering membolos dan melanggar aturan sekolah. Akumulasi poin pelanggaran memaksanya harus keluar dari sekolah formal.

"Waktu itu salah pergaulan. Ikut-ikut teman yang enggak teratur, nongkrong, merokok," ujar Aldo mengenang sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Sosial, Jumat, 26 Juni 2026.

Putus sekolah di usia belia sempat membuatnya bingung. Di tengah ketidakpastian, Aldo memilih untuk bekerja. Selama hampir enam bulan, ia bekerja di bengkel las tetangga hingga merantau ke Mojokerto dan Malang membantu memasang banner.

Dunia barunya itu keras dan penuh risiko. Tanpa alat pengaman mata yang memadai, Aldo belajar mengelas secara otodidak.

"Sering kecolongan (percikan api las). Sampai mata bengkak dan enggak bisa melihat. Ada tiga kali lebih kayak begitu," ujarnya.

Meski bertaruh keselamatan, Aldo terbukti berbakat. Dalam waktu singkat, ia mahir membuat berbagai struktur besi, bahkan hingga teknik trellis yang rumit. Secara finansial, ia mulai mandiri. Dari hasil borongan membuat pagar seminggu, ia bisa mengantongi Rp600 ribu.

Jika membuat rak makanan selama dua hari, Rp250 ribu masuk ke dompetnya. Ia bahkan sempat ikut saudaranya bekerja keliling memasang banner di jalanan, memanfaatkan keberaniannya memanjat.

Bagi anak remaja, memegang uang ratusan ribu dari keringat sendiri tentu terasa menggiurkan. Apalagi sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan harus memikirkan tiga anak lelaki yang masih aktif sekolah. Namun, jauh di lubuk hatinya, Aldo tahu ini bukan akhir dari jalannya.

Titik balik itu datang ketika salah seorang saudaranya memberikan informasi tentang Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo. Sebuah tempat yang membuka pintu bagi anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar. Aldo memutuskan pulang dan mendaftar.

Kembali ke bangku sekolah berarti Aldo harus merelakan dompetnya kosong. Tidak ada lagi uang ratusan ribu hasil borongan ngelas. Kini, ia kembali menjadi siswa kelas 2 SMP di SRT 5 Ponorogo.

"Rasanya ya beda, biasanya pegang uang sekarang enggak. Tapi di sini semua sudah dipenuhi. Makan, alat mandi, perlengkapan, semua komplit. Kayak ada yang menjaga," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Saat ditanya mengapa ia rela meninggalkan penghasilan demi kembali belajar, jawaban Aldo sederhana "Mau perbaiki masa depan."

Ia sadar, keahliannya akan jauh lebih kuat jika ditopang oleh pendidikan resmi. Aldo tidak ingin selamanya menjadi pekerja kasar serabutan tanpa arah yang jelas.

Bermimpi ke Negeri Sakura

Di SRT 5 Ponorogo, Aldo perlahan menata kembali hidupnya. Kebiasaan buruk merokok dan membolos sudah ia tinggalkan. Ia kini dikenal sebagai siswa yang aktif, menyukai pelajaran IPS dan olahraga, khususnya bola voli dan badminton. 

Ia bahkan sempat terpilih masuk dalam kontingen Jambore Nasional (Jamnas) di Cibubur, meski takdir berkata lain karena ia terkendala batasan usia di menit-menit terakhir.

Keahlian mengelas Aldo pun tidak akan layu di sekolah ini. Pihak sekolah, melalui Kepala Sekolah, bahkan berencana membuatkan bengkel las khusus di belakang gudang agar Aldo bisa terus mengasah bakatnya, sekaligus menularkan ilmu tersebut kepada teman-temannya.

"Ingin lanjut SMA, terus pengen sekolah bahasa. Belajar Bahasa Jepang," kata remaja yang gemar menonton anime dan Ninja Hattori ini.

Aldo tahu, Jepang membutuhkan banyak tenaga kerja terampil di sektor pengelasan dan pertanian. Modal ijazah sekolah, sertifikat, dan kemahiran las bawah laut (underwater welding) yang ingin ia pelajari nanti, Jepang bukan lagi sekadar mimpi di kepalanya.

Meski mimpinya membumbung tinggi hingga ke negeri seberang, motivasi terbesar Aldo tetaplah rumah sederhananya di Ponorogo.

"Cita-cita saya ingin menyenangkan kedua orang tua saja. Bisa memberangkatkan haji," pungkasnya dengan mata berbinar.

Dari percikan api las hingga buku pelajaran di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Aldo membuktikan bahwa berani berbalik arah dari jalan yang salah adalah langkah pertama menuju masa depan yang lebih cerah.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya