Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Seskab Teddy Indra Wijaya. (Foto: Setneg)

Politik

Popularitas Teddy Melejit, Hensa: Pakai Ajian Apa?

KAMIS, 25 JUNI 2026 | 11:17 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Popularitas Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kian meroket, bukan sekadar ramai di jagat maya tetapi juga terasa kuat di pertemuan tatap muka belakangan ini.

Menurut analis komunikasi politik Hendri Satrio alias Hensa, fenomena itu menimbulkan tanda tanya karena latar posisi Teddy sejatinya tidak menyokong popularitas luas seperti yang terjadi sekarang.

"Saya heran sama orang ini, di media sosial ramai, di lapangan malah lebih ramai, mau di kota besar sampai pelosok faktanya kenal dan suka sama dia," kata Hensa, Kamis, 25 Juni 2026.


Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini pun menegaskan bahwa popularitas semacam itu biasanya berakar pada mesin politik atau posisi eksekutif yang jelas.

Namun, Hensa melihat, kasus Teddy ini berbeda. Ia menilai fenomena ini menunjukkan adanya kedekatan personal antara figur Teddy dan pengalaman sehari-hari publik, bukan sekadar efek kampanye atau pemberitaan sesaat.

"Padahal Teddy itu kepala daerah bukan, menteri yang punya program juga bukan, politisi juga bukan, anaknya pejabat bukan, punya partai pun enggak, anggota partai aja enggak, tapi dia sepopuler itu di masyarakat, pakai ajian apa ini orang? Ini pasti karena kinerja," ujar Hensa.

Meski demikian, Hensa menekankan bahwa ketiadaan afiliasi politik formal bukan berarti Teddy tidak punya daya tarik nyata di mata publik.

Ia melihat ada kerja halus di balik penerimaan publik, seperti konsistensi hadir di ruang-ruang rakyat, sigap menjawab isu-isu publik, dan kemampuan menjelaskan persoalan teknis dengan bahasa yang mudah dicerna.

Kombinasi itu, menurut Hensa, lebih efektif dibanding retorika birokratis yang jauh dari kehidupan lapangan.

"Baru-baru ini ia hadir mendampingi Pak Prabowo di acara NU di Madura, Jawa Timur, terus muncul kembali di hadapan sekitar seratus ribu petani dan nelayan di Gorontalo. Di kedua tempat itu dia hanya dipanggil sjaa masyarakat riuh, itu pentingnya kinerja terlihat dan nyata dirasakan bukan sekadar pidato janji-janji," tuturnya.

Hensa pun melihat, ketenaran Teddy bisa membuat politisi senior kelihatan kalah saing. Popularitas itu, menurut Hensa, merupakan bukti bahwa Teddy cepat memahami cara-cara menarik simpati publik di luar sekadar pidato atau bagi-bagi bantuan.

"Politisi senior aja nggak segitu populer, Teddy belum setahun jadi Seskab tapi sambutannya sudah ramai di lapangan. Para senior yang biasanya mengandalkan struktur partai dan jaringan lama pasti heran," ujarnya.

Hensa menilai kehadiran Teddy yang berulang bukan sekadar formalitas. Menurutnya, Teddy memang tampak hadir untuk mendengar dan memberi perhatian nyata, sehingga ia cepat diterima di berbagai lapisan tanpa perlu mesin politik.

"Kalau seseorang bisa meraih penerimaan luas tanpa atribut partai atau mesin politik di belakangnya, itu menunjukkan kemampuan komunikasi dan kedekatan sosial orang itu mumpuni. Nah ini yang jarang ditemukan pada pejabat birokrasi era sekarang," katanya.

Hensa menyarankan agar aktor politik dan birokrat mempelajari fenomena ini secara serius untuk memahami elemen-elemen yang membuat figur seperti Teddy diterima.
Menurutnya, memahami itu penting agar interaksi politik kembali berorientasi pada kepercayaan dan kerja nyata, bukan hanya tampilan di depan saja.

"Ini bukan soal pencitraan standar, ini soal bagaimana seorang birokrat bisa benar-benar diterima oleh rakyat sehari-hari. Kalau dibilang membingungkan, ya memang, tapi itu juga tanda ada sesuatu yang efektif dan patut dicermati," ujar Hensa.

"Intinya, TIW ini bikin pusing para politisi lama karena mereka tidak terbiasa melihat pejabat non partai mendapat sambutan seperti itu," pungkas Hensa.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Gibran Tanpa Ijazah

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:26

Prabowo dan Presiden FIFA Bakal Saksikan Laga Indonesia Versus Thailand

Senin, 05 Oktober 2026 | 00:07

GPNN: Listyo Berhasil Ubah Kultur Kerja Polri

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:47

Wantimpres Bukan Sekadar Membenarkan Keputusan Kekuasaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:20

Indonesia Akhiri Asian Games 2026 dengan 5 Emas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 23:03

95 Persen Aspirasi Buruh Diklaim Masuk RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:45

DPR Yakin Merger BUMN Mampu Dongkrak Dividen

Minggu, 04 Oktober 2026 | 22:19

Putusan Sidang Etik Mantan Kasat Reskrim Jakpus Dipertanyakan Kuasa Hukum

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:56

Densus 88 Sikat 11 Tersangka Terorisme di Enam Provinsi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:35

Ketum PPP Targetkan Satu Fraksi di DPRD Surabaya pada Pemilu 2029

Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:23

Selengkapnya