Program PFPreneur 2026. (Foto: Dok. Pertamina)
Program PFPreneur 2026 melahirkan kisah perjuangan perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga merawat warisan budaya Indonesia.
Dari lebih 8.000 pendaftar di seluruh Indonesia, sebanyak 350 perempuan pelaku UMKM terpilih mengikuti program tersebut.
Dua di antaranya mendapat apresiasi khusus, yakni Shaskia Yasmin dari Genah sebagai penerima kategori Produk Ramah Lingkungan dan Jihan Astriningtias dari JJC Rumah Jahit sebagai peraih Nilai Tertinggi Kurasi Program.
Shaskia mengaku tidak menyangka namanya diumumkan sebagai penerima apresiasi kategori produk ramah lingkungan dalam ajang PFPreneur 2026.
Sebagai ibu, istri, sekaligus pengusaha, Shaskia harus membagi waktu di tengah berbagai peran yang dijalani. Namun, semangat mengembangkan usaha keluarga membuatnya terus melangkah.
Genah merupakan usaha keluarga yang telah memasuki generasi kedua. Sejak 2022, Shaskia mengambil alih pengelolaan usaha secara penuh dan fokus mengembangkan produk suvenir berbasis kain Indonesia.
"Kami ingin mengangkat cerita-cerita dari kain Indonesia menjadi produk suvenir yang bisa digunakan secara personal maupun korporasi," kata Shaskia dikutip pada Rabu, 24 Juni 2026.
Kisah serupa datang dari Jihan Astriningtias, pemilik JJC Rumah Jahit yang meraih apresiasi Nilai Tertinggi Kurasi Program. Usaha yang dijalankan Jihan juga merupakan warisan keluarga generasi kedua. Namun, pandemi Covid-19 sempat membuat bisnis tersebut mengalami penurunan cukup tajam.
Alih-alih menyerah, Jihan menjadikan kondisi itu sebagai momentum untuk membenahi usahanya. Pada 2023, ia mulai memperkuat fondasi bisnis dengan mengurus legalitas usaha, hak kekayaan intelektual, hingga melakukan diversifikasi produk.
Jika sebelumnya fokus pada jasa jahit dan pesanan khusus, kini JJC Rumah Jahit mengembangkan lini
ready to wear dengan mengangkat kekayaan tenun Troso dari Jepara.
Sebagai putri daerah Jepara, Jihan mengaku memiliki kedekatan emosional dengan para perajin tenun di kampung halamannya. Ia pun menggandeng para penenun untuk mengolah kain sisa produksi menjadi motif bernilai tambah.
"Kami bekerja sama dengan para pengrajin di Troso. Kain-kain sisa produksi kami olah kembali menjadi motif bordir yang terinspirasi dari budaya dan lanskap Jakarta," jelas Jihan.
Dari tangan kreatifnya lahir beragam motif yang terinspirasi dari kembang goyang hingga tari kipas. Motif tersebut memadukan identitas budaya daerah dengan sentuhan modern.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron mengatakan, Pertamina berkomitmen menjalankan program pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui Pertamina Foundation lewat program PFPreneur.
"Program pemberdayaan merupakan salah satu program CSR Pertamina untuk melahirkan
local hero yang dapat memberikan manfaat yang lebih besar," kata Baron.
Menurut Baron, PFPreneur menjadi ruang belajar sekaligus dukungan bagi perempuan pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha secara lebih terarah.
"Melalui program ini, Pertamina berkomitmen membantu lebih banyak UMKM untuk berpikir lebih baik dan membangun usaha dengan lebih terarah," pungkas Baron.