Berita

Gedung DPR RI. (Foto: istimewa)

Politik

Minim Oposisi, Efektivitas DPR Kembali Dipertanyakan

RABU, 24 JUNI 2026 | 12:52 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Mayoritas partai politik saat ini berada dalam barisan pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas fungsi kontrol dan keseimbangan kekuasaan di parlemen.

Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti menguatnya pertanyaan publik terkait relevansi lembaga legislatif di tengah minimnya sikap kritis dari mayoritas fraksi di parlemen.

Ia menyebut, dalam situasi ketika sebagian besar partai politik cenderung memilih diam, muncul pertanyaan mendasar mengenai apakah Dewan Perwakilan Rakyat masih dibutuhkan secara efektif dalam sistem demokrasi.


“Kalau kita membaca berbagai pernyataan dari aktivis demokrasi, mahasiswa, dan civil society, secara konstitusional DPR memang memiliki fungsi kontrol. Tetapi dalam praktiknya, sulit bagi anggota dewan menyampaikan sikap kritis secara terbuka,” ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Rabu, 24 Juni 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan kritik dari publik yang mempertanyakan fungsi representasi dan pengawasan DPR dalam mekanisme demokrasi. Namun di sisi lain, ia menekankan pentingnya stabilitas politik demi mendukung kemajuan ekonomi dan persatuan nasional.

“Sekeras apapun perbedaan politik, tetap harus guyub dalam menjaga stabilitas politik. Karena stabilitas adalah kunci kemajuan ekonomi,” katanya.

Meski demikian, Adi menegaskan bahwa prinsip checks and balances tetap menjadi pilar utama demokrasi. Ia menilai harus ada kekuatan politik yang berada di luar pemerintahan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan.

Dalam konteks itu, ia menyebut harapan sebagian pihak agar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengambil posisi oposisi secara tegas sebagai salah satu kekuatan penyeimbang.

“Banyak yang berharap PDIP menjadi satu-satunya partai yang berani lantang menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah jika dinilai tidak sesuai kepentingan rakyat,” ujarnya.

Adi menambahkan, demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan stabilitas, tetapi juga ruang kritik yang berfungsi. Tanpa itu, menurutnya, pertanyaan tentang efektivitas DPR sebagai lembaga legislatif akan terus muncul di ruang publik.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya