Berita

Kondisi Munas Konbes NU memanas. (Foto: tangkapan layar)

Politik

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

RABU, 24 JUNI 2026 | 11:28 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dinamika yang mengemuka dalam Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) Nahdlatul Ulama (NU) di Ploso, Kediri, pada 20-22 Juni 2026, dinilai menjadi cerminan wajah organisasi saat ini. 

Sejumlah kalangan bahkan menyoroti munculnya praktik-praktik intimidatif yang dianggap bertentangan dengan tradisi dan etika jam'iyah NU.

Penilaian tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan, Bangkalan, Madura, KH Muhammad Shofwan Taj atau yang akrab disapa Lora Shofwan. 


Pengasuh salah satu pesantren tertua di Madura yang berdiri sejak pertengahan abad ke-18 dan berada di dekat makam Syaikhona Kholil itu menilai NU tengah menghadapi masa-masa krusial di mana marwah organisasi yang didirikan para ulama dan wali Nusantara itu kini menghadapi berbagai tantangan serius.

“Salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Bagaimana para preman organisasi bermanuver dihadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Lora Shofwan, Rabu, 24 Juni 2026.

“Tidak hanya yang muda-muda, yang tua pun bertindak, sama. Padahal, mereka tokoh di lingkungan NU, dan memiliki pengikut tidak sedikit. Bila itu ditiru generasi berikutnya, awan gelap akan terus menyelimuti NU,” tambahnya.

Lebih lanjut, KH Muhammad Shofwan Taj menilai berbagai dinamika yang terjadi selama Konbes dan Munas NU menunjukkan gejala menguatnya pragmatisme dan kapitalisasi dalam tubuh jam'iyah. 

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi mulai menjangkiti struktur organisasi dan kader secara lebih luas. Ia juga menyoroti berkurangnya peran masyayikh dan para sesepuh pesantren sebagai rujukan moral dalam kehidupan berjam'iyah.

Kondisi tersebut sejatinya telah diantisipasi oleh pendiri NU, KH M. Hasyim Asy'ari. Menurutnya, Hadratussyeikh pernah memberikan peringatan mengenai potensi kerusakan organisasi apabila pragmatisme dibiarkan berkembang dalam tubuh jam'iyah. 

Peringatan itu, kata dia, tertuang dalam fatwa yang dimuat dalam kitab Tanbih an-Nahdliyyin karya KH Imam Zarkasyi Junaidi, yang membahas ancaman terhadap marwah dan arah perjuangan NU ketika kepentingan pragmatis lebih dominan dibanding nilai-nilai perjuangan organisasi.

“Beruntunglah para pemimpin jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang memperjuangkan kejayaan jam’iyyah-nya dan celakalah pemimpin yang memperkuda (menunggangi) jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk mengejar kepentingan pribadi,” sambungnya menukil fatwa Mbah Hasyim Asy’ari.

Lora Shofwan menegaskan yang merusak NU bukan warganya, tapi pemimpinnya. Kerusakan jam’iyyah NU dimulai dari kepentingan ingin berkuasa didalam NU yang digunakan untuk mendapatkan kekuasaan di pemerintahan atau akses ke oligarki. Para pemimpin NU semakin jauh untuk bisa menghadirkan NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

“NU sekarang bukan lagi sebagai rumah besar untuk berteduh semua warganya dan masyarakat. Tapi, dikuasai preman-preman yang ingin mendapat keuntungan pribadi dan kelompok dengan menunggangi kebesaran NU,” ungkap Lora Shofwan.

NU sekarang juga dipandang tidak lagi menjadi civil society atau pusat keseimbangan strategis yang hidup ditengah masyarakat yang berkhidmah melayani keluh kesah rakyat demi kemashalatan umat.

Dinamika pelaksanaan Konbes dan Munas NU di Ploso, Kediri, kemarin dinilai membuka gambaran yang lebih jelas mengenai arah NU yang disebut-sebut semakin berada dalam pusaran besar kekuasaan. Kondisi ini tercermin dari keterlibatan sejumlah aktor yang, baik langsung maupun tidak langsung, memiliki kedekatan dengan struktur kekuasaan.

Selama pengurus PBNU masih masuk dalam jabatan politik atau memperoleh posisi di lingkar kekuasaan melalui proses bargaining maupun kompensasi politik, maka selama itu pula NU sulit menegaskan dirinya sebagai pembawa risalah dan kemaslahatan umat,” ujar Lora Shofwan.

“Coba lihat keputusan Muktamar ke20 NU tahun 1954. NU tegas melarang pengurus merangkap jabatan politik di pemerintahan. Kenapa? Pasti soal konflik kepentingan dalam membawa NU sesuai khittahnya,” pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya