Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Harga emas kembali melemah pada akhir perdagangan Selasa 24 Juni 2026, tertekan oleh penguatan Dolar Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Pelemahan juga dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS.
Harga emas spot turun 1,4 persen menjadi 4.131,24 Dolar AS per ons, sedangkan kontrak emas berjangka AS pengiriman Agustus ditutup melemah 1,3 persen ke 4.149,40 Dolar AS per ons.
Penguatan Dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut. Pelaku pasar juga semakin meyakini The Fed akan mempertahankan sikap agresif dalam menjinakkan inflasi setelah pertemuan kebijakan pekan lalu.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan daya tarik instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil, sementara emas tidak memberikan bunga.
Di sisi lain, meredanya ketegangan antara AS dan Iran turut mengurangi minat terhadap aset safe haven. Washington memberikan pengecualian sanksi selama 60 hari bagi Iran setelah putaran awal pembicaraan damai dinilai menunjukkan kemajuan. Kondisi tersebut juga membantu pemulihan lalu lintas tanker di Selat Hormuz dan menekan harga minyak mentah.
Investor kini menanti data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Kamis mendatang untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Tekanan jual juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 4,9 persen menjadi 61,98 Dolar AS per ons, platinum turun 1,2 persen ke 1.657,92 Dolar AS per ons, sementara paladium melemah 2,6 persen menjadi 1.232,28 Dolar AS per ons.