Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Mahasiswa dan Dalang

RABU, 24 JUNI 2026 | 00:10 WIB

ADA satu ilustrasi gambar yang saya lihat di Instagram. Gambar seorang mahasiswa. Berdiri di tengah demonstran. Matanya berbinar memegang papan protes. 

Tetapi ada tali-tali di atas kepala dan tangannya. Tali itu terhubung ke tangan raksasa. Ada dalang tak terlihat di balik layar. 

Postingan dari akun Kalcer di Instagram itu bukan sekadar ilustrasi sinis. Tetapi pembuat mungkin ingin menyampaikan potret rapuhnya gerakan perubahan saat ini. 


Pesannya: Di balik yel-yel keadilan di jalanan, ada skenario matang. Ditulis oleh mereka yang tidak pernah kepanasan.

Sejarah mencatat mahasiswa sebagai agen perubahan. Mereka punya legitimasi moral. Mereka punya kekuatan mobilisasi. Langkah mereka dihargai sebagai nurani publik. Masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka. Karena mahasiswa dianggap belum terkontaminasi politik praktis. 

Tetapi ada titik rapuh di sana. Idealisme bisa dengan mudah dibajak. 

Masalah dimulai saat gerakan disulut emosi. Lalu, dikendalikan oleh framing. Nalar kritis diganti sentimen kelompok. Gerakan suci bergeser menjadi komoditas politik. Siap dijual kepada penawar tertinggi.

Fenomena useful idiot bukan soal kebodohan akademik. Ini soal perilaku. Ini soal psikologi massa. Seseorang bisa jadi sangat pintar. IPK mereka bisa sempurna. Mereka bisa memimpin organisasi besar. Namun, mereka tetap menjadi pion agenda orang lain. 

Mereka bergerak dengan keyakinan penuh. Mereka merasa sedang membela kebenaran. Padahal, mereka hanya mengamplifikasi kepentingan elit. Ini ironis. 

Mahasiswa yang menanggung risiko hukum dan fisik. Mereka menghadapi polarisasi sosial. Sementara para dalang duduk tenang. Mereka berada di ruangan ber-AC. Mereka membaca peluang dan menghitung momentum. Mereka merancang keuntungan politik pribadi. Mereka menikmati buah kekacauan tanpa berkeringat.

Bagaimana mekanisme pembajakan ini bekerja? Kemarahan sekarang bisa direkayasa. Prosesnya mirip mesin industri. Ada formula klasik yang diulang-ulang. Isu sensitif disulap menjadi framing emosional. Sistem amplifikasi digital lalu dipasang. Akhirnya, lahirlah reaksi massa yang masif. Media sosial memperparah keadaan ini. 

Algoritma media sosial memberi penghargaan pada kemarahan. Di dunia digital, kemarahan lebih cepat viral. Fakta sering kali kalah cepat. 

Algoritma tidak mencari kebenaran. Ia hanya mengejar perhatian publik. Masalah kompleks disederhanakan. Narasi diubah menjadi hitam-putih. Musuh dimutlakkan. Kejernihan melihat masalah dibuang ke selokan. Tujuannya agar publik bereaksi cepat. Bukan agar publik paham mendalam.

Kita sering terjebak narasi romantis. Kita mengira gerakan adalah ledakan spontan rakyat. Rakyat yang sudah tidak tahan ditindas. 

Padahal, ada kenyataan pahit. Kekacauan tidak selalu lahir spontan. Ada pola yang tertata rapi. Ada anggaran yang dialokasikan khusus. Ada target waktu yang ketat. 

Ada tangan tak kasat mata di sana. Dalang bekerja melalui jaringan narasi. Mereka memakai pembuat opini dan akun robot. Mereka menggunakan tokoh pemantik di lapangan. Dalang tidak perlu terlihat di depan. Mereka cukup membuat orang lain bergerak. Mereka membuat orang lain merasa jadi pahlawan.

Kita harus membedakan dua hal: Aktivisme sehat dan aktivisme yang dibajak. Aktivisme yang dimanipulasi punya tanda klasik. Tanda ini sangat mudah dikenali. Syaratnya, kita harus objektif. 

Marah sebelum cek fakta adalah gejala pertama. Membagikan konten karena cocok dengan emosi adalah gejala kedua. Mereka tidak peduli validitas data. 

Sifat destruktif lainnya juga muncul. Semua yang berbeda pendapat dianggap musuh. Musuh absolut yang harus dihancurkan. 

Muncul ketakutan kolektif dalam kelompok. Takut berbeda dari arus utama. Paling fatal, massa lupa bertanya. Mereka tidak bertanya pertanyaan paling mendasar. Siapa yang diuntungkan jika isu ini meledak? 

Jika jawabannya kelompok elit tertentu, waspadalah. Jika jawabannya oposisi yang naik posisi tawar, waspadalah. Anda tidak sedang berjuang demi rakyat. Anda sedang dikompori demi kursi kekuasaan.

Kita harus menjaga kesucian gerakan dari kepentingan pragmatis. Mahasiswa matang tidak hanya berani turun ke jalan. Tetapi mereka berani menguji narasi sendiri. Berani berhenti sejenak. Terutama jika ingin menjadi bagian perubahan substantif. Bukan sekadar menjadi alat pihak lain. 

Sebelum bergabung dalam kemarahan kolektif, refleksikan diri. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri. 

Apakah isu ini benar terjadi? Atau ini hanya framing sepihak? Siapa aktor intelektual di balik narasi ini? Siapa yang diuntungkan secara politik atau ekonomi? Apa tuntutan spesifik dan rasional gerakan ini? Apakah gerakan ini membangun solusi nyata? Atau hanya membakar emosi tanpa arah?

Berani marah itu mudah. Melemparkan batu ke aparat bisa dilakukan siapa saja. Tetapi berani berkata "tidak" pada ketidakadilan adalah dasar. Itu harus dilakukan manusia berhati nurani. 

Tetapi berpikir jernih saat semua orang emosi adalah hal yang sulit. Sama halnya dengan berpikir analitis dan kritis di tengah massa. Itu juga susah. 

Jangan biarkan energi politik habis sia-sia. Jangan biarkan idealisme murni menjadi bahan bakar murah. Terutama untuk agenda tersembunyi orang lain. Jangan jadi useful idiot. Jangan merusak bangsa atas nama perbaikan. Berpikirlah.

S. Alamsyah
Pendiri Pusat Studi Pembangunan berbasis Pancasila


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya