Berita

Ribuan mahasiswa demo tertib di depan Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Lagu 'Naik-naik BBM Naik' Cerminan Keresahan Rakyat

SENIN, 22 JUNI 2026 | 13:16 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah diingatkan untuk tidak acuh terhadap pesan-pesan yang disampaikan oleh masyarakat baik secara langsung mau pun tidak langsung.

Salah satunya, ketika mahasiswa saat demonstrasi seminggu belakangan ini kerap kali menyanyikan lagu 'Naik-naik ke Puncak Gunung' yang liriknya dipelesetkan untuk mengkritik kenaikan harga BBM serta dampaknya terhadap kebutuhan sehari-hari. 

“Pemerintah harus menangkap ini sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai merasa ekonomi saat ini semakin menekan mereka,” ujar pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa, Senin, 22 Juni 2026.


Lagu dengan lirik plesetan tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Habib Rizieq Shihab pada 2017 silam. 
Kala itu, Rizieq Shihab memplesetkan lagu tersebut sebagai wujud keprihatinan atas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak yang membuat masyarakat tertekan.

"Naik, naik, BBM naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, pajak pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, listrik pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, cabai pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara," begitu bunyi lirik dari lagu plesetan tersebut.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu pun menilai, pemerintah tidak boleh menganggap remeh isi pesan dari lagu tersebut meski hanya gubahan dari lagu anak-anak.

Menurutnya, lagu gubahan itu  memiliki pesan yang kuat yaitu menggambarkan realita yang saat ini dihadapi oleh rakyat, mulai dari kesulitan mereka hingga sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Penguasa, pemerintah, nggak boleh menganggap remeh isi pesan yang ada di syair itu, karena mereka mengucapkan tentang kenyataan hari ini, tentang BBM, harga BBM yang naik, tentang tarif listrik yang naik, tentang harga cabai yang naik, tentang ada rakyat yang sengsara. Jadi, jangan diremehkan syairnya, karena kuat sekali pesannya,” kata Hensa.

Soal BBM saja, Hensa menyepakati bahwa BBM yang naik adalah Pertamax yang notabene merupakan BBM non subsidi. Namun, ia juga melihat bahwa naiknya harga Pertamax tak bisa dipandang sebelah mata karena juga tetap memengaruhi ekonomi rakyat terutama rakyat kelas menengah.

“Walaupun yang naik adalah BBM non Subsidi, tapi banyak digunakan oleh kelas menengah, jadi pasti sedikit banyak akan berpengaruh kepada ekonomi rakyat kelas menengah, maka dari itu jangan dianggap remeh,” kata Hensa.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah segera merespons keluhan masyarakat tersebut dengan langkah yang cepat.
Sebab, kenaikan harga BBM tidak boleh dipandang sebagai masalah teknis semata, melainkan harus dilihat dari dampak luasnya terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

“Daripada mengabaikan suara rakyat, lebih baik pemerintah turun langsung mendengar aspirasi dan mencari solusi yang tepat, seperti menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan meringankan beban masyarakat,” pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya