Berita

Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Politik

Publik Bisa Anggap Jokowi Kemaruk Jabatan dan Rakus Kekuasaan

SENIN, 22 JUNI 2026 | 12:05 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), untuk turun langsung berkampanye dan berkeliling daerah guna mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai berpotensi memicu resistensi di tengah masyarakat.

Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, menilai langkah tersebut justru dapat memperkuat persepsi negatif publik terhadap Jokowi yang dianggap masih ingin mempertahankan pengaruh politik setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

"Jokowi mau keliling untuk kampanye PSI. Publik akan menganggap Jokowi kemaruk jabatan, rakus kekuasaan, dan masih mengutamakan kepentingan diri sendiri serta keluarganya," kata Muslim kepada RMOL, Senin 22 Juni 2026. 


Menurut Muslim, kemampuan Jokowi untuk mendongkrak suara PSI juga patut dipertanyakan apabila melihat capaian partai tersebut pada Pemilu 2024.

"Bagaimana bisa berhasil menaikkan PSI? Saat masih menjabat presiden saja, Jokowi gagal meloloskan partai yang dipimpin anaknya, Kaesang, ke Senayan. Padahal saat itu birokrasi dan seluruh perangkat pemilu dinilai berada dalam genggamannya, namun tetap gagal," ujarnya.

Muslim berpandangan, keterlibatan Jokowi secara langsung dalam agenda politik PSI justru berisiko memunculkan sentimen penolakan yang lebih luas di masyarakat.

"Tidakkah sekarang ini Jokowi justru akan semakin dicerca, mendapat cibiran, bahkan dimusuhi rakyat karena dianggap sebagai simbol praktik KKN yang dahulu diberantas pada era Reformasi?" tegasnya.

Ia juga menilai sejumlah persoalan yang ditinggalkan pada akhir masa pemerintahan Jokowi akan terus memengaruhi penilaian publik terhadap setiap langkah politik yang diambil mantan kepala negara tersebut.

"Jokowi meninggalkan utang negara yang mencapai ribuan triliun Rupiah dan menjadi beban bagi negara maupun rakyat. Selain itu, terdapat sejumlah proyek infrastruktur yang mangkrak dan turut menambah beban utang negara," kata Muslim.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi hambatan serius bagi upaya Jokowi untuk kembali tampil sebagai figur yang mampu mengerek dukungan politik bagi PSI.

"Karena itu, setiap langkah politik Jokowi saat ini akan terus dihadapkan pada catatan publik terhadap warisan pemerintahannya. Bukan hanya terkait PSI, tetapi juga bagaimana masyarakat menilai jejak kekuasaan yang ditinggalkannya," pungkas Muslim.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya